Pagi setelah percakapan panjang mereka di Warung Ujung, Gang Petam kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada satu pun tanda bahwa malam sebelumnya lima orang yang tinggal di lingkungan yang sama baru saja membicarakan sesuatu yang perlahan mulai mengubah cara mereka memandang kehidupan di sekitar mereka. Anak-anak sekolah tetap berlari kecil di antara rumah-rumah yang berdiri rapat, beberapa ibu menyapu teras sambil sesekali menyapa tetangga, motor keluar masuk menuju Jalan Buran, dan Pak Hendra tetap mendorong gerobak galonnya melewati gang dengan langkah yang hampir selalu sama. Warung Ujung juga kembali menjadi warung biasa. Bu Ratih membuka pintu, menyusun minuman, memeriksa stok rokok, menaruh gorengan di tempatnya, lalu mulai melayani orang-orang yang datang. Tidak ada papan nama baru, tidak ada meja khusus untuk lima sahabat itu, tidak ada tanda bahwa tempat tersebut sedang menjadi ruang belajar kecil bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah merencanakannya. Namun bagi Damar, pagi itu terasa sedikit berbeda karena sejak bangun tidur ia terus memikirkan satu hal yang mereka sepakati malam sebelumnya. Mereka sudah memiliki daftar pertanyaan. Mereka sudah tahu bahwa pertanyaan itu tidak boleh berubah menjadi kumpulan kasus pribadi. Mereka juga sudah sepakat bahwa kalau tidak tahu, mereka harus berani mengatakan tidak tahu. Tetapi semua itu masih berupa prinsip. Belum pernah benar-benar mereka coba sebagai sebuah kebiasaan. Damar duduk di depan laptop sambil menatap halaman kosong yang sejak tadi tidak juga terisi. Di sebelah laptop ada buku catatan yang sudah semakin tebal. Beberapa halaman berisi cerita tentang jalan, beberapa tentang pendidikan, kesehatan, pekerjaan, informasi, rumah, dan tanah. Ada catatan yang ia buat sendiri. Ada pula kalimat-kalimat yang ia tulis setelah mendengar cerita Raka, Alya, Zahra, dan Farhan. Namun pagi itu ia tidak ingin menambah satu cerita lagi. Ia justru ingin mencoba mengubah semua catatan tersebut menjadi sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang tidak menjadikan mereka sumber jawaban, tetapi membantu mereka sendiri mengetahui bagaimana sebuah pertanyaan seharusnya dicari jawabannya. Ia baru mengetik beberapa kata ketika ayahnya lewat dari belakang kursi. "Belum selesai?" tanya ayahnya. Damar menggeleng. "Belum mulai." Ayahnya melihat layar laptop yang masih hampir kosong. "Kalau begitu bukan belum selesai." Damar tertawa kecil. "Iya juga." Ayahnya mengambil kursi lalu duduk tidak jauh darinya. "Lagi mikirin apa?" Damar sempat diam sebelum menjawab, "Kemarin kita ngomong soal orang yang enggak tahu harus mulai dari mana. Sekarang Damar malah bingung gimana cara ngajarin orang mulai tanpa sok ngajarin." Ayahnya tersenyum. "Nah, itu pertanyaan yang bagus." Damar menatapnya. "Kenapa?" "Karena kamu sadar bedanya membantu dengan merasa tahu." Damar kembali melihat layar. Ayahnya lalu berkata, "Kalau orang datang dan bilang dia enggak tahu, jangan langsung kasih jawaban kalau kamu sendiri belum yakin. Tapi jangan juga cuma bilang, 'Ya cari tahu sendiri.' Kalau kamu tahu langkah pertama yang aman, ya tunjukkan langkah pertama itu. Setelah itu biarkan dia melanjutkan." Damar mengangguk pelan. Kalimat tersebut terasa seperti versi lain dari apa yang mereka bicarakan malam sebelumnya. Namun kali ini Damar melihat sesuatu yang belum mereka bicarakan secara cukup jelas. Menunjukkan pintu pertama tidak berarti seseorang harus membawa orang lain sampai ke ruangan terakhir. Ada batas antara membantu seseorang memulai dan mengambil alih seluruh persoalannya. Ada batas antara menjelaskan cara mencari informasi dan memberikan keputusan yang seharusnya dibuat oleh orang yang memiliki kewenangan. Ada batas antara berbagi pengalaman dan menyampaikan pengalaman tersebut sebagai aturan umum. Damar menuliskan tiga kalimat di buku catatannya: Tunjukkan tempat mulai. Jangan berpura-pura menjadi tempat akhir. Jangan ubah pengalaman menjadi kepastian. Ia membaca ulang tulisan itu beberapa kali sebelum tersenyum kecil. "Kayaknya ini yang kita cari." Ayahnya mengangkat alis. "Apa?" "Batas." Ayahnya mengangguk. "Bagus. Karena orang yang enggak punya batas biasanya paling cepat merasa paling tahu."
Menjelang siang, Damar keluar rumah membawa buku catatan kecil tanpa kamera. Ia berjalan menuju Warung Ujung dengan niat bertemu Raka sebelum Raka mulai menerima terlalu banyak pesanan. Dari kejauhan ia sudah melihat jaket hijau Raka tergantung di sandaran kursi. Raka sendiri sedang memegang gelas kopi sambil menatap layar ponsel dengan wajah yang tampak sangat serius. Ketika Damar mendekat, Raka langsung berkata, "Jangan bilang lu datang bawa masalah." Damar duduk. "Gue bawa pertanyaan." Raka menghela napas. "Lebih buruk." Bu Ratih yang sedang menyusun roti mendengar percakapan itu lalu berkata, "Kalau pertanyaannya bisa dibayar pakai uang, tanya saya." Raka langsung menunjuk Bu Ratih. "Nah, ini baru tempat yang jelas." Damar tertawa. Ia lalu menceritakan percakapannya dengan ayahnya. Raka mendengarkan sambil sesekali mengangguk, tetapi tidak langsung memberikan komentar. Setelah beberapa saat ia berkata, "Gue kepikiran sesuatu juga." "Apa?" "Kalau kita sudah punya pertanyaan, jangan-jangan kita malah terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa siapa yang sebenarnya harus menjawab." Damar menoleh. "Maksud lu?" Raka meletakkan gelasnya. "Misalnya gue nanya sesuatu yang sifatnya aturan. Lu cari di internet. Ketemu tulisan orang. Terus ketemu video orang lain. Terus ada yang bilang pengalaman dia begini. Kalau ujung-ujungnya kita cuma pilih yang paling cocok sama pikiran kita, ya sama aja." Damar mengangguk. "Makanya harus lihat sumbernya." "Iya. Tapi kita juga harus tahu kapan berhenti." Damar tersenyum. "Nah." Raka mengangkat telunjuk. "Jangan 'nah' doang. Gue serius." "Gue tahu." Raka menatap buku catatan Damar. "Kita kemarin bilang mau ngumpulin pertanyaan. Menurut gue sekarang kita perlu belajar satu hal lagi." "Apa?" "Cara tahu kalau jawaban yang kita dapat itu memang jawaban dari tempat yang tepat." Damar terdiam. Ia kemudian membuka bukunya dan menulis kalimat tersebut. Raka langsung protes, "Jangan semua omongan gue ditulis." "Kenapa?" "Nanti kalau gue mati muda, tulisan lu jadi warisan." Damar tertawa. "Enggak ada yang mau." "Nah, bagus."
Sore itu mereka tidak langsung mengajak semua teman berkumpul. Damar dan Raka justru memilih membawa pembicaraan tersebut ke aktivitas masing-masing. Raka kembali bekerja. Di atas motornya, ia terus memikirkan kalimat yang tadi mereka bicarakan. Ia pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya datang ke kelurahan tanpa tahu apa yang harus dikatakan. Ia juga pernah merasakan perbedaan antara mendengar cerita orang lain dengan benar-benar datang dan bertanya. Dulu ia mengira proses mencari tahu berarti harus memiliki keberanian untuk bertanya. Sekarang ia mulai memahami bahwa keberanian saja belum cukup. Orang juga perlu tahu apa yang ingin ia tanyakan, apa yang sudah ia ketahui, dan apa yang sebenarnya belum ia pahami. Ketika menunggu pesanan di dekat sebuah kawasan perkantoran, ia melihat seorang lelaki membuka telepon genggam sambil berkali-kali menggulir layar. Raka tidak mengenalnya dan tidak punya alasan untuk mendekati. Ia hanya sempat melihat lelaki tersebut membaca sebuah pengumuman lalu mengernyitkan dahi. Beberapa menit kemudian lelaki itu memasukkan ponselnya ke saku dan pergi. Raka tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Ia juga tidak tahu apakah lelaki tersebut bingung atau hanya sedang memikirkan sesuatu yang lain. Dulu Raka mungkin akan langsung membuat cerita di kepalanya. Sekarang ia justru menahan diri. Gue enggak tahu. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi semakin sering ia menggunakannya, semakin ia merasa kalimat tersebut bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya. Mengakui tidak tahu membuatnya memiliki ruang untuk tidak mengarang.
Di tempat lain, Farhan sedang berada di proyek ketika seorang rekan kerja menghampirinya membawa dokumen. "Mas, ini yang bagian perubahan gambar harus lihat siapa?" Farhan menerima dokumen tersebut lalu membaca bagian yang ditunjukkan. Ia sebenarnya bisa memberikan arahan berdasarkan pengalaman, tetapi ia juga tahu bahwa perubahan tertentu tidak boleh dijawab sembarangan hanya karena ia pernah menghadapi persoalan serupa. Ia mengatakan kepada rekannya bahwa bagian tersebut perlu dikonfirmasi kepada pihak yang memang bertanggung jawab atas dokumen tersebut. Rekannya tampak sedikit heran. "Mas Farhan enggak bisa jawab?" Farhan tersenyum. "Bisa jadi gue punya pendapat. Tapi pendapat gue bukan otomatis keputusan." Rekannya mengangguk. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi setelah mengucapkannya Farhan sendiri terdiam beberapa saat. Ia teringat pembicaraan di Warung Ujung. Selama ini mereka membicarakan batas profesional sebagai sesuatu yang harus dijaga ketika membantu orang lain. Sekarang ia melihat bahwa batas itu juga penting untuk dirinya sendiri. Mengetahui sesuatu tidak berarti memiliki kewenangan atas sesuatu. Memiliki pengalaman tidak berarti memiliki seluruh konteks. Bahkan seorang insinyur pun tetap harus tahu kapan sebuah pertanyaan harus diarahkan kepada orang lain. Ia kembali bekerja setelah itu, tetapi kalimat yang baru saja ia ucapkan tetap tertinggal di pikirannya. Pendapat bukan otomatis keputusan. Mungkin kalimat itu juga berlaku di luar proyek.
Sementara itu Zahra menjalani hari seperti biasa di sekolah. Setelah jam pelajaran selesai, ia sempat duduk di ruang guru sambil memeriksa beberapa buku tugas murid. Ada satu pertanyaan sederhana dari seorang anak yang membuatnya berhenti. Seorang murid menanyakan sesuatu tentang aturan sekolah yang tidak ia pahami dari pengumuman sebelumnya. Zahra membaca ulang pengumuman tersebut sebelum menjawab. Ia bisa saja langsung memberikan penjelasan berdasarkan apa yang ia pahami, tetapi ia memilih memastikan terlebih dahulu bagian mana yang memang merupakan aturan dan bagian mana yang hanya penjelasan tambahan. Ia kemudian mengarahkan murid tersebut untuk menanyakan bagian yang belum jelas kepada pihak sekolah yang memang dapat memastikan. Setelah anak itu pergi, Zahra tersenyum sendiri. Ia mulai melihat bahwa apa yang sedang mereka pelajari bersama bukan hanya berlaku untuk persoalan besar. Bahkan dalam ruang kelas pun, kemampuan mengatakan saya perlu memastikan dulu dapat mencegah seseorang memberikan jawaban yang ternyata keliru. Tidak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga. Kadang jawaban yang paling bertanggung jawab adalah mengatakan, "Aku belum yakin. Kita cari tahu dulu." Di puskesmas, Alya mengalami hal yang hampir sama. Seorang pasien bertanya mengenai sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam ruang lingkup yang sedang ia tangani. Alya menjelaskan bagian yang memang dapat ia jelaskan, lalu mengarahkan pertanyaan tersebut kepada pihak yang lebih tepat. Setelah pasien pergi, salah seorang rekan bertanya, "Bukannya bisa dijawab saja?" Alya tersenyum. "Bisa saja. Tapi kalau gue enggak yakin, lebih baik bilang belum tahu daripada bikin orang percaya sama jawaban yang salah." Rekannya mengangguk. "Sekarang kalian semua jadi sering ngomong begitu?" Alya tertawa. "Teman-teman gue memang lagi kena penyakit baru." "Apa?" "Penyakit enggak mau sok tahu." Mereka tertawa. Tetapi setelah itu Alya kembali memikirkan hal tersebut. Dalam pelayanan kesehatan, satu jawaban yang terdengar meyakinkan bisa membuat orang mengambil keputusan yang salah. Karena itu kehati-hatian bukan sekadar sikap pribadi. Ia bagian dari tanggung jawab. Dan mungkin di luar dunia medis pun prinsip tersebut tidak jauh berbeda.
Menjelang malam, Damar kembali ke Warung Ujung. Kali ini Zahra, Alya, dan Farhan sudah mulai berdatangan. Tidak ada yang membawa agenda khusus. Raka bahkan datang sambil berkata bahwa ia hadir karena ingin makan, bukan karena ingin ikut rapat. Bu Ratih langsung menyambutnya dengan kalimat, "Kalau makan ya bayar." Raka memegang dada. "Saya baru duduk." "Saya sudah kenal." Semua tertawa. Suasana seperti itu tetap mereka pertahankan karena mereka sadar bahwa percakapan mereka tidak harus selalu terdengar seperti rapat resmi. Setelah minuman datang dan obrolan ringan tentang pekerjaan selesai, Damar baru membuka buku catatannya. "Gue sama Raka tadi ngomongin satu hal." Raka langsung menunjuk Damar. "Jangan bilang gue ikut bertanggung jawab atas ini." Damar mengabaikannya. "Kita kemarin sudah bikin daftar pertanyaan. Tapi sekarang gue merasa kita perlu belajar cara mengikuti pertanyaan itu sampai kita tahu siapa yang memang bisa menjawab." Farhan mengangguk. Zahra menatap buku tersebut. Alya bertanya, "Maksudnya bukan cuma 'mulai dari mana', tapi juga 'berhenti di mana'?" Damar tersenyum. "Iya." Raka menunjuk Alya. "Nah, itu lebih bagus daripada kalimat gue." "Padahal intinya sama," kata Alya. "Tetap saja." Mereka tertawa.
* * *
Malam itu mereka kemudian mengambil satu pertanyaan sederhana sebagai latihan. Bukan persoalan tanah. Bukan perkara yang sedang ramai di media sosial. Bukan masalah pribadi siapa pun. Mereka sengaja memilih pertanyaan yang cukup umum dan dekat dengan kehidupan mereka: kalau warga menemukan persoalan di lingkungan sekitar dan ingin menyampaikannya melalui jalur yang tepat, apa saja yang perlu diketahui sebelum bertanya atau melapor? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mereka sepakat tidak boleh langsung menjawabnya berdasarkan pengalaman pribadi. Raka sempat mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah pernah melakukan sesuatu yang mirip ketika mencari tahu soal jalan di Gang Petam. Namun Farhan langsung mengingatkan bahwa pengalaman mereka saat itu tidak boleh dianggap sebagai pola yang pasti berlaku untuk semua persoalan. "Kita bisa pakai pengalaman itu sebagai contoh belajar," katanya, "tapi bukan sebagai bukti bahwa semua masalah harus lewat jalur yang sama." Damar mengangguk sambil menulis. Zahra menambahkan bahwa mereka juga perlu membedakan antara pertanyaan tentang kondisi, pertanyaan tentang kewenangan, dan pertanyaan tentang tindak lanjut. Alya mengatakan bahwa orang sering mencampur semuanya menjadi satu kalimat sehingga akhirnya sulit dijawab. "Kalau orang bilang, 'Kenapa ini begini dan kapan diperbaiki dan siapa yang salah?' ya pertanyaannya tiga atau empat sekaligus." Raka tertawa. "Gue sering begitu." "Makanya," kata Damar. "Kita coba pecah."
Mereka mulai dari pertanyaan pertama: Apa sebenarnya yang ingin diketahui? Damar memberikan contoh tanpa mengambil kasus siapa pun. Misalnya seseorang melihat fasilitas umum dalam kondisi tidak baik. Pertanyaannya bisa berupa, "Siapa pihak yang berwenang menangani?" atau "Bagaimana cara menyampaikan informasi tentang kondisi tersebut?" atau "Bagaimana warga mengetahui apakah laporan sudah diterima?" Mereka menyadari bahwa masing-masing pertanyaan membutuhkan informasi yang berbeda. Kalau pertanyaannya mengenai kondisi, mereka perlu memastikan fakta dasarnya. Kalau mengenai kewenangan, mereka perlu mencari pihak yang memang bertanggung jawab. Kalau mengenai proses, mereka perlu mencari jalur resmi. Kalau mengenai tindak lanjut, mereka perlu mengetahui apakah ada mekanisme untuk melihat perkembangan. Farhan mengatakan bahwa ini mirip dengan pekerjaan teknis. "Kalau ada masalah di lapangan, gue enggak bisa cuma bilang, 'Ini rusak.' Gue harus tahu rusaknya apa, di bagian mana, seberapa besar, kapan mulai kelihatan, dan siapa yang harus menangani. Kalau semua dicampur, orang yang menerima informasi juga bingung." Zahra tersenyum. "Di sekolah juga begitu. Anak kalau bilang, 'Bu, saya enggak ngerti,' kita harus tahu dia enggak ngerti bagian mana." Alya mengangguk. "Di pasien juga sama. 'Saya sakit' itu baru awal. Kita perlu tahu sakitnya apa, sejak kapan, bagaimana rasanya, dan apa yang sudah dilakukan." Raka menatap mereka satu per satu lalu berkata, "Jadi ternyata pertanyaan yang bagus bukan pertanyaan yang panjang." Damar mengangguk. "Kadang justru pertanyaan yang jelas lebih membantu."