Republik Dua Wajah

Arsualas
Chapter #1

Retorika Karung Beras

Di sebuah kota di Jawa Tengah yang kini mulai dipenuhi mal-mal baru dan perumahan bertingkat, hiduplah seorang pejabat yang namanya tak pernah absen dari koran lokal maupun layar televisi daerah, Bapak Kapur Santoso. Semua orang memanggilnya Pak Kapur, bukan karena profesi lamanya sebagai guru matematika SMA yang suka menulis rumus dengan kapur tulis, melainkan karena memang orang tuanya memberi nama itu untuk dirinya. Usianya menginjak 55 tahun, tetapi penampilannya selalu rapi dan segar, kemeja batik lengan pendek yang katanya dibeli di pasar tradisional, celana kain hitam sederhana, dan sandal kulit saat blusukan. Kopiah hitamnya selalu pas di kepala, membuatnya tampak seperti kiai kampung yang merakyat.

Pak Kapur adalah anggota DPRD provinsi yang sudah empat periode berturut-turut terpilih dengan suara terbanyak di daerah pemilihannya, sebuah rekor yang membuat lawan-lawannya gigit jari dan para pendukungnya bangga bukan main. Setiap kali pemilu tiba, jalanan di dapilnya seolah berubah menjadi galeri foto raksasa. Spanduk-spanduk besar berwarna merah muda dan putih, warna partai kesayangannya, bertebaran di mana-mana, dari tiang listrik, pohon-pohon pinggir jalan, hingga pasar tradisional. Foto-foto itu hampir selalu menampilkan tema yang sama. Pak Kapur duduk lesehan di warung pecel lele sederhana, kaki bersilang di atas tikar plastik, tangan memegang piring daun pisang penuh sambal dan ikan goreng, sambil tersenyum lebar ke kamera, seakan-akan itu adalah makan malam hariannya.

Ada pula foto klasik dirinya menaiki sepeda ontel butut yang katanya warisan bapaknya, berkeliling kampung dengan bahu kanan digantungi karung beras lima kilo. Karung itu selalu tampak baru dan berlabel Bantuan dari Hati Pak Kapur. Foto lain menunjukkan dirinya menyantap gudeg pinggir jalan ala Yogyakarta, beralas daun pisang dengan lauk telur rebus dan krecek, sambil berbincang akrab dengan mbok penjual yang kebetulan selalu siap berpose. Slogan kampanyenya pun legendaris, tercetak besar di setiap spanduk, Hidup Sederhana, Bekerja untuk Rakyat, dengan huruf tebal dan foto Pak Kapur mengangkat dua jempol di tengahnya.

Di setiap orasi, dari panggung kecil di lapangan desa sampai mimbar masjid saat khotbah Jumat, Pak Kapur selalu mengulang kalimat yang sama dengan nada yang nyaris tak pernah berubah, nada yang pelan, terukur, dan cukup untuk membuat pendengarnya merasa sedang disapa secara pribadi. Ia berkata bahwa dirinya hanyalah orang biasa, lahir dari keluarga sederhana dan besar di kampung kecil. Ia bercerita bagaimana makan nasi kucing di angkringan sudah lebih dari cukup baginya, ditemani teh manis hangat dan sate usus. Ia menegaskan bahwa mobil dinas saja ia pakai secukupnya dan tidak ada kebutuhan untuk hidup berlebihan. Kemewahan, katanya, bukan ajaran agama dan bukan pula teladan yang patut ditiru. Yang penting adalah hati yang selalu berpihak pada rakyat kecil, pada petani, pedagang pasar, tukang ojek, dan ibu-ibu yang setiap hari berjuang mencari nafkah.

Kata-kata itu hampir selalu disambut tepuk tangan meriah dan teriakan dukungan dari massa yang sejak pagi sudah berdatangan dengan bus-bus sewaan. Banyak yang percaya, atau setidaknya memilih untuk percaya, apalagi ketika Pak Kapur mulai mengulang cerita masa kecilnya yang sudah mereka hafal di luar kepala. Ia bercerita tentang berjalan kaki lima kilometer ke sekolah dengan sandal jepit yang berbeda warna kiri dan kanan, kisah yang selalu ditutup dengan kalimat bahwa ia paham benar susahnya hidup rakyat kecil.

Rakyat percaya. Bagaimana tidak, ketika pada masa kampanye terakhir Pak Kapur rela bermalam di rumah warga miskin, duduk di atas tikar pandan hingga larut malam sambil kembali mengisahkan perjuangan masa kecilnya sebagai anak tukang becak. Dengan suara yang dibuat bergetar, ia mengatakan bahwa ia tahu rasanya hidup kekurangan dan karena itulah ia tidak ingin menikmati kenyamanan sendirian. Tangis haru pun pecah, pelukan dan doa mengalir, dan tak lama kemudian suara dukungan melonjak lagi hingga ia kembali menang mutlak.

Tapi, seperti kata orang tua, “mulut manis, hati siapa yang tahu.” Rumah Pak Kapur berdiri di sebuah kompleks perumahan elite baru bernama Green Harmony Estate, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh seiring menjamurnya mal dan perumahan bertingkat di pinggiran kota. Harga satu kavling di sana disebut sebanding dengan belasan rumah di kampung asalnya. Dari luar, rumah itu tampak biasa saja dengan tembok bercat putih polos dan pagar besi yang tak mencolok. Tidak ada patung, tidak ada ornamen berlebihan, hanya rumah yang sekilas tampak seperti banyak rumah lain di kompleks itu.

Baru ketika pintu garasi bawah tanah terbuka dengan remot, kesan itu perlahan berubah. Udara dingin langsung menyergap, lantai epoxy mengilap memantulkan cahaya lampu otomatis yang menyala satu per satu, dan deretan kendaraan tersusun rapi seperti ruang pamer pribadi. Garasi itu dirancang tertutup dan senyap, seolah terpisah dari rumah utama, tempat di mana kesederhanaan tak lagi perlu dipertontonkan.

Di barisan paling depan terparkir sebuah Toyota Alphard hitam doff dengan velg besar yang biasa digunakan Bu Kapur untuk menghadiri pengajian dan arisan. Di sampingnya ada Mercedes Benz GLE Coupe berwarna putih mutiara yang sering disebut sebagai kendaraan untuk perjalanan luar kota saat ada urusan dinas. Tak jauh dari sana berdiri BMW X7 abu-abu metalik yang lebih sering dipinjam anak sulungnya untuk kuliah di Jakarta. Di rak tengah tersimpan Porsche Cayenne Turbo yang jarang keluar dengan alasan konsumsi bahan bakar yang terlalu boros. Paling mencolok adalah Lamborghini Urus berwarna biru elektrik yang baru beberapa bulan lalu tiba dari Singapura, serta sebuah Ferrari Roma merah klasik di sudut belakang yang hanya sesekali digunakan untuk acara komunitas kolektor. Jumlah seluruhnya ada empat belas mobil, sebagian tercatat atas nama perusahaan keluarga, sebagian lain disebut sekadar titipan teman.

Pak Kapur selalu memiliki penjelasan yang terdengar masuk akal dan mudah diulang. Suatu malam, saat ia dan sopir pribadinya, Mas Slamet, sedang membersihkan salah satu mobil di garasi, ia menyebut semua kendaraan itu sebagai bentuk investasi. Menurutnya nilainya akan terus naik dan jauh lebih aman dibanding menyimpan uang di bank. Mas Slamet hanya mengangguk pelan sambil terus mengelap bodi mobil yang mengilap. Gajinya memang bertambah dari tahun ke tahun, tetapi ia masih tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggiran kota dan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, dengan alasan agar anak itu terbiasa hidup sederhana dan mengenal perjuangan sejak dini.

Lihat selengkapnya