Jika ada satu hal yang paling ditakuti Jane Hawthorne dalam hidupnya, itu bukan kematian, melainkan waktu.
Waktu yang mencuri kecantikan.
Waktu yang mengikis cinta.
Waktu yang merenggut harapan paling terakhir yang masih ia simpan rapat-rapat.
Tapi waktu jugalah yang membentuknya menjadi wanita yang malam ini berdiri di tengah pesta paling elit di Rosewood Estate. Ia anggun, tak tersentuh, dan berbahaya seperti embun yang membeku di mata pisau.
Namun sebelum semua itu, sebelum ia menjadi Jane Hawk, miliuner yang mematahkan logika usia, ia hanyalah seorang perempuan empat puluh empat tahun dengan secangkir teh melati dan rencana hidup yang pelan-pelan terbakar.
**
Empat tahun lalu. Malam hujan.
Kilatan petir menyambar di luar jendela rumah mereka yang luas, memantulkan cahaya pucat pada rak buku, lukisan mahal, dan potret pernikahan yang digantung rapi di dinding. Cahaya itu menyorot wajah Adrian, suaminya yang berdiri dengan koper di tangan.
“Kita perlu bicara,” ucapnya datar.
Nada itu langsung membuat perut Jane mengeras.
Ia berbalik, membawa cangkir teh melati yang biasanya menenangkan, tapi malam itu aromanya terasa asing, seolah memberitahu bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Kenapa kau membawa koper?” tanya Jane perlahan.
Adrian menghela napas. “Aku akan pergi.”
Jane tidak menjawab. Lidahnya terasa berat, seakan dunia menuntutnya untuk diam.
“Aku… tidak bisa lagi, Jane,” lanjut Adrian. “Kita berdua tahu hubungan ini sudah lama retak.”
Hening panjang menyusul.
“Kalau ini tentang pekerjaan...” Jane mencoba.
“Ini tentang kita.”
Tentang kau, sebenarnya.... begitulah Jane mendengarnya di kepalanya sendiri.
Adrian menatapnya dengan ekspresi yang tak ia pahami, kosong, mungkin lega, atau mungkin kejam.
“Kau… berubah,” katanya akhirnya. “Usia mengubah mu. Kau tidak seperti dulu. Dan… kita tidak bisa punya anak. Aku menginginkan hidup yang masih bisa berkembang. Kau… terjebak.”
Kalimat itu terdengar seperti ribuan jarum yang menancap serempak ke dalam dada Jane.
“Tidak menarik lagi.”
“Mandul.”
“Kau tak mampu memberiku penerus.”
Jane menggenggam cangkirnya terlalu erat. Teh melati di dalamnya beriak dan tumpah ke meja. Tapi ia tak melepasnya.
“Jadi kau meninggalkanku karena… aku menua?” suaranya serak.
Adrian menunduk sedikit, entah malu atau hanya malas melihat wajah istrinya.
“Aku hanya ingin bahagia.”
Dengan itu, ia mengambil kopernya dan berjalan ke pintu.
Jane tidak menangis.
Bahkan tidak berteriak.
Yang ia lakukan hanyalah memandangi celah kecil antara daun pintu saat Adrian melangkah keluar. Sebuah garis cahaya yang perlahan mengecil lalu padam begitu pintu tertutup.
Begitulah cara hidupnya runtuh. Bukan dengan ledakan, tapi dengan pintu yang tertutup perlahan.
**
Beberapa jam setelah Adrian pergi.
Jane duduk di lantai kamar mandi. Ujung jari-jarinya biru. Matanya sembab. Napasnya terengah.
Ia menatap dua garis merah muda di test pack yang terjatuh dari genggamannya.
Dua garis.
Positif.
Ia menatap test pack itu lebih lama.
Lama sekali.
Seperti menatap kebenaran yang tidak ingin ia terima.
“Tidak…” bisiknya. “Tolong… jangan begini…”
Ia seharusnya merasa bahagia, bukan?
Selama lima tahun mereka mencoba.
Selama lima tahun ia dihantui label “mandul” oleh suaminya sendiri.
Selama lima tahun ia melewati terapi hormon, obat, dan diet yang menyiksa.
Dan ketika keajaiban itu akhirnya datang…
Adrian sudah memilih orang lain.
Wanita yang lebih muda.
Dengan tubuh segar.