Laboratorium Wegrant berdiri di ujung kota, tersembunyi di balik gedung-gedung perkantoran yang tampak biasa saja. Tidak ada papan nama, tidak ada penanda. Hanya satu pintu metalik tanpa jendela dan kamera keamanan yang bergerak mengikuti setiap bayangan. Laboratorium itu seperti rahasia yang menolak untuk diucapkan.
Bagi Syren Alcott, gedung itu bukan hanya tempat kerja. Itu adalah pelarian, keterpaksaan, dan janji kepada keluarga, semuanya diaduk menjadi satu. Ia melangkah di lorong steril dengan jas lab yang sedikit kebesaran, rambutnya diikat seadanya. Jam dinding menunjukkan pukul 06.42 pagi. Terlalu pagi bagi pekerja biasa, tapi tidak untuk seseorang yang selalu berharap tiba sebelum Profesor Tom, agar ia bisa bekerja dalam ketenangan sesaat sebelum kekacauan hari dimulai.
Syren menyentuhkan kartu identitas ke scanner. Pintu menggeser terbuka dengan dengungan elektronik. Suhu menurun drastis begitu ia masuk, disertai aroma disinfektan yang menempel di tenggorokan.
“Morning, Ren,” suara datar bernada rendah terdengar dari balik meja kontrol.
Lysander, teknisi biometrik, mengangkat kepalanya sekilas. Mata sembabnya menunjukkan ia baru saja tidur dua jam.
Syren mengangguk kecil. “Pagi, Lys. Ada laporan pengiriman sampel baru?”
Lys menggeser satu tablet ke arahnya. “Baru masuk jam lima subuh.”
Tiga nomor dalam daftar itu muncul: D-17-022, D-19-014, D-18-030. Semua dengan label merah: High-grade tissue + plasma sample.
Artinya, ini bukan sampel standar. Ini sampel berharga dan berbahaya.
Syren menelan saliva yang terasa pahit. “Mereka datang terlalu cepat. Kemarin malam kita baru saja proses batch lama.”
“Ya, aku tahu.” Lys menutup kembali file tersebut seolah ingin menghapusnya dari dunia. “Aku tidak tanya banyak. Lebih aman.”
Syren mengangguk, lalu berjalan menuju ruang lab utama. Lampu-lampu LED memancar putih kebiruan, membuat segala sesuatu tampak terlalu bersih, terlalu sempurna. Di balik kaca tempered, mesin inkubator berdengung stabil, tabung-tabung kultur berputar perlahan, dan kromatograf cair berkelebat seperti jantung mekanik laboratorium.
Di tengah ruangan, Profesor Tom berdiri dengan alis berkerut, membaca laporan hasil serum yang diproses semalam. Tom bukan tipe profesor tua berambut putih yang lembut. Ia tinggi, berbahu sempit, berusia awal 50-an, wajahnya selalu tampak letih namun matanya menyala dengan kegelisahan ambisi.
Ia pernah menjadi bintang akademik. Lalu kariernya nyaris hancur karena satu kesalahan publikasi. Jane Hawthorne datang sebagai penyelamat dan sejak itu, Tom bukan lagi pria bebas. Ia terikat.
“Ren,” panggil Tom tanpa menoleh, seolah ia tahu siapa yang baru memasuki ruangan dari cara langkah kaki.
“Ya?” Syren menaruh tasnya di meja kerja.
Tom mengulurkan hasil cetakan. “Batch 34 gagal lagi.”
Syren mengambil kertas itu. Grafik melandai curam: Cellular degradation after 12 hours.
Satu hasil yang paling ditakuti. Regenerasi awal berhasil, tetapi kemudian sel-sel mengalami degenerasi cepat—proses yang justru mempercepat penuaan.
“Ini… lebih buruk dari batch 30,” Syren berbisik.
“Lebih buruk?” Tom menatapnya dengan mata cekung. “Ini bencana. Dua minggu lagi presentasi final, dan Jane sudah ....”
Ia berhenti. Seakan kalimat itu sendiri mengandung kutukan.
Syren tahu. Jane tidak mengizinkan kegagalan. Tekanan itu melayang seperti asap beracun di seluruh ruangan.
“Profesor…” Syren menurunkan suaranya. “Kita perlu memperlambat ritme. Formula tidak stabil karena kita terlalu cepat memaksa eksperimen. Bahkan organoidnya tidak siap.”
Tom menghela napas panjang. “Kau pikir aku tidak tahu? Tapi Jane tidak peduli stabil atau tidak. Ia ingin hasil yang bekerja pada tubuhnya. Sekarang. Bukan bulan depan. Bukan tahun depan.”
Syren tidak menjawab. Ia mengusap wajahnya sejenak, lalu membuka catatan digitalnya.
“Baik. Aku mulai ulang analisis enzim.”
Namun sebelum ia sempat menyentuh pipet, Lys masuk tergesa dari pintu geser.
“Ren,” katanya dengan suara parau. “Sampel pertama tiba di freezer. Kau harus lihat sendiri.”
Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat bulu kuduk Syren meremang. Ia menutup catatannya, meletakkan pipet, dan mengikutinya ke ruang penyimpanan.
**
Ruang freezer adalah tempat paling sunyi di laboratorium. Pintu baja membuka dengan suara hisapan dingin, uap putih keluar perlahan. Lys memberi isyarat tanya dengan mata: Kau siap?
Syren mengangguk.
Ia menarik laci dingin tempat batch sampel baru di simpan. Tabung-tabung CRYO berwarna perak tergeletak rapi. Tetapi ketika mata Syren menangkap dokumen medis yang disertakan ia terdiam.
Sangat terdiam.
Lembar data pasien donor D-17-022 memuat foto lengan dengan garis memanjang sekitar 12 cm. Luka itu masih segar, dijahit kasar, dan terdapat memar keunguan di pergelangan. Jejak yang mustahil muncul dari proses donor biasa.