Langit senja memudar menjadi ungu kelabu ketika Syren dan Rhys keluar dari gedung wawancara. Angin malam membawa aroma hujan yang menempel pada kulit, membuat suasana semakin meremang. Syren menatap papan gedung “Huellar Research Institute” untuk terakhir kalinya, perasaan campur aduk menyergap dirinya.
Ia seharusnya merasa lega karena wawancaranya berjalan lancar. Kepala HR bahkan tampak tertarik dengan pengalaman penelitiannya. Tapi kegelisahan menempel seperti bayangan.
Rhys menyadari itu. Sebagai polisi reskrim, ia punya kepekaan khusus membaca bahasa tubuh seseorang lebih-lebih istrinya sendiri. “Kau sudah hebat,” katanya sambil memegang tangan Syren. “Pihak perusahaan akan menghubungimu. Kita hampir keluar dari Wegrant.”
Syren mengangguk. “Semoga begitu.”
Namun kata keluar membuat dadanya menegang. Ia tahu siapa yang ia lawan. Dan Jane bukan orang yang akan diam melihat peneliti terbaiknya pergi.
“Ren.” Rhys menatap matanya. “Kau yakin tidak ada hal lain yang kau sembunyikan? Kasus penculikan remaja itu… aku merasa semuanya terhubung.”
Syren menatap jalanan gelap. “Rhys, aku....”
Ia ingin mengatakan segalanya. Tentang sampel donor. Tentang luka sayatan. Tentang ancaman Jane. Tapi ketakutan menahan suaranya. Ia tahu konsekuensinya. Meski begitu, kebohongan kecil mulai menghancurkan dirinya dari dalam.
“Aku cuma ingin kita aman,” lanjut Rhys pelan. “Kau, aku, dan keluarga.”
Syren menggenggam jemarinya lebih erat. “Aku tahu.”
Mereka berjalan menuju parkiran bawah tanah. Area ini dipenuhi suara tetesan pipa dan langkah kaki menggema. Lampu neon berkedip beberapa kali sebelum menyala stabil. Area itu sepi. Terlalu sepi.
Setengah jalan menuju mobil, Rhys tiba-tiba berhenti. Ia memegang lengan Syren, gerakannya cepat dan waspada.
“Jangan panik,” katanya hampir tanpa suara. “Tapi ada yang mengikuti kita.”
Jantung Syren mencelos. “Siapa?”
“Aku belum pasti.” Rhys meraih ponselnya, seolah akan menghubungi rekan kerjanya. Tapi sebelum ia sempat menekan tombol pertama bunyi langkah berat terdengar dari belakang.
Syren menoleh. Dua pria bertubuh besar muncul dari ujung parkiran. Satu memakai jaket tebal, satu lagi hoodie hitam yang menutupi sebagian wajah. Gerakan mereka bukan gerakan orang biasa. Terlalu mantap. Terlalu terlatih.
Rhys langsung mendorong Syren ke belakang dirinya. “Pergi ke mobil,” bisiknya. “Kunci pintunya. Telepon polisi.”
Syren berlari beberapa langkah, tetapi pria berjaket tebal mengeluarkan sengat listrik. Syren terpaku. Rhys mencabut pistolnya, namun pria kedua sudah bergerak cepat, menendang pistol itu hingga terpental ke lantai.
“Rhys!” Syren berteriak.
Pertarungan pecah. Rhys melawan penuh insting polisi: pukulan cepat, serangan tepat, gerakan bertahan yang ia pelajari selama bertahun-tahun. Tapi kedua pria itu bukan preman jalanan. Mereka bergerak seperti bayangan, koordinasi mereka nyaris sempurna.
Salah satu menangkap Rhys dari belakang, menahan tangannya. Yang lain menghantam perutnya, sekali, dua kali, hingga Rhys terbatuk, terhuyung namun masih berusaha melawan.
Syren berlari kembali, mengambil batu kecil di lantai. Ia tak peduli. Ia ingin membantu. Namun ketika ia hampir mendekat....
ZZZT!
Sengatan listrik menghantam sisi tubuhnya. Rasa panas merambat cepat, membuat dunianya kabur. Lututnya lemas. Ia jatuh ke lantai.
Sebelum pandangannya gelap, ia melihat satu hal terakhir:
Rhys menjerit memanggil namanya, sebelum salah satu pria memukul tengkuknya hingga ia tak sadarkan diri. Tubuh Rhys diseret menuju mobil hitam tanpa plat yang menunggu di sudut parkiran.
“RHYS!”
Suara Syren pecah… lalu menghilang.
**
Ketika Syren membuka mata, cahaya putih menyilaukan membuat kepalanya berdenyut. Aroma alkohol medis menusuk hidung. Suara mesin monitor terdengar ritmis di telinganya.
Ia di rumah sakit.
Matanya berkedut, mencoba memahami bentuk-bentuk kabur di sekelilingnya. Ruangan putih. Tirai biru. Infus tergantung. Detak jantungnya sendiri terdengar melalui monitor.