Malam turun seperti tirai hitam yang menutup seluruh langit kota. Di sudut gedung Wegrant Biotech, tempat yang biasanya menyala dengan lampu laboratorium. Kegelapan justru terasa lengket, seperti sesuatu sedang bersembunyi di baliknya.
Jane berdiri di depan kaca besar ruang kerjanya, menatap refleksinya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ia memakai serum, ia tampak tua. Bukan tua yang wajar tetapi layu, kulit seperti kain tipis yang kehilangan elastisitasnya. Garis-garis cekung muncul di pelipis, dan bawah matanya seperti diukir dengan guratan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan.
Tapi lebih buruk lagi: ini terjadi dalam hitungan jam.
Ia meraba pipinya yang mulai mengendur. Kulit yang dulu kencang kini terasa lembek, seperti lilin yang mulai meleleh.
"Tidak… tidak… jangan sekarang…” bisiknya.
Jane memukul kaca dengan punggung tangannya. Satu retakan halus muncul. Lalu dua. Lalu serpihan kecil jatuh ke lantai.
Di belakangnya, Profesor Tom berdiri gelisah. Napasnya tersengal. Ia tahu Jane sedang berada di titik antara kewarasan dan kegilaan.
“Serum terakhir gagal,” katanya pelan. “Tubuhmu menolak enzim X-17. Kita butuh formula terbaru Syren.”
Jane menoleh begitu cepat sehingga Tom mundur separuh langkah. Mata Jane biasanya penuh kendali dingin kini memerah, urat-urat halus tampak mencuat.
“Formula itu seharusnya sudah kau pecahkan! Kau profesor, Tom, bukan teknisi murahan!”
Tom menelan ludah. “Syren satu-satunya yang memahami struktur enzim itu. Karena itu aku menyimpannya di brankas miliknya. Dia… dia yang menyusun mutasi terakhir.”
Itulah kata-kata yang memicu semuanya.
Jane membeku. Lalu bibirnya perlahan melengkung menjadi senyum yang hampir tidak manusiawi.
“Kalau begitu,” ujarnya, “kita ambil dia.”
Ia meraih ponselnya. Jemarinya gemetar tapi cepat. Ia membuka folder yang sudah lama ia siapkan. Dokumen paling gelap yang dimilikinya.
Foto Rhys dalam keadaan terikat. Mulut disumpal kain. Mata lebam di satu sisi.
Jane menekan tombol kirim.
Satu kalimat ia ketik:
Datang sendirian. Atau suamimu mati.
Dan dengan itu, rencana busuknya dimulai.
**
Syren berdiri di depan lobi rumah sakit, tubuhnya masih gemetar setelah siuman beberapa jam lalu. Ingatan tentang penculikan Rhys masih mengoyak pikirannya seperti pisau tumpul: suara teriakan itu, langkah kaki yang menyeret tubuh suaminya, bau tanah dan minyak di parkiran, dan rasa logam di mulutnya sebelum ia tak sadarkan diri.
Ponselnya bergetar. Satu notifikasi muncul. Lalu ia melihat foto itu. Dunia runtuh.
Syren hampir tidak bisa bernapas. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya mengatup. Tangannya gemetar begitu keras sampai ponselnya hampir jatuh.
“Rhys…” suaranya pecah.
Semua rasa takut, marah, dan putus asa bercampur menjadi satu.
Dan di bawah foto itu kalimat ancaman yang meremukkan segalanya.
Syren menutup matanya, memaksa dirinya untuk tidak roboh. Ia tahu ini bukan keputusan yang bisa ia pikirkan lama. Jane bukan orang yang menunggu.
Dalam setengah jam, Peter dan unit reskrim datang membawa rompi kamera kecil yang bisa dipasang di kerah baju. Peter, dengan wajah penuh kekhawatiran, berkata:
“Kau tidak harus melakukannya.”
“Tapi Rhys akan mati kalau aku tidak datang.” Suara Syren datar, hampa, tapi tegas. “Aku tidak akan kehilangan dia.”
Peter menggenggam bahu Syren, berusaha memberi kekuatan. “Kamera ini akan merekam semuanya. Kami akan ada di sekitar gedung. Begitu kami melihat celah, kami masuk.”
Syren hanya mengangguk.
Ia tidak mengatakan apa pun lagi.
Tak ada lagi kata-kata yang cukup.