Requiem Darah Muda

Adeline Nordica
Chapter #5

Dunia Tanpa Darah Muda

Dunia berubah dalam semalam.

Sejak kasus Wegrant merebak, semua stasiun berita, surat kabar, dan media sosial dipenuhi tajuk sensasional:

“Skandal Darah Muda: Ilmuwan dan Selebritas Terlibat Jaringan Ilegal.”

“Regenerasi Sel Berbasis Donor Remaja Resmi Dilarang.”

“Kerajaan Kosmetik Jane Hawk Diambil Alih Pemerintah.”

Gedung Wegrant yang dulunya menjadi kebanggaan kota kini dipagari garis kuning, dijaga aparat siang dan malam. Para petinggi perusahaan berbondong-bondong meminta bantuan pengacara. Beberapa kabur ke luar negeri. Sebagian lagi diam, berharap badai berlalu.

Bahkan masyarakat awam pun tersentak. Para ibu menarik pulang anak remaja mereka dari kegiatan malam. Orang-orang mulai menatap mencurigakan mobil van putih atau pria yang berdiri sendirian di depan sekolah.

Dunia seakan sadar betapa rapuhnya moral manusia ketika umur menjadi komoditas.

Namun di tengah kekacauan itu, ada satu rumah kecil di pinggir kota yang berusaha kembali normal meski normal kini punya arti baru.

Rumah milik Syren dan Rhys.

**

Perlahan, Hidup Bergerak Lagi

Syren duduk di meja makan, memandangi mug tehnya yang mulai kehilangan panas. Sinar matahari pagi masuk dari jendela, membentuk pola lembut di lantai dapur. Tenang. Hangat. Tidak seperti gedung laboratorium yang dingin dan sunyi.

Rhys berjalan keluar dari kamar sambil memasang badge baru di seragamnya. Pagi ini acaranya besar. Ia akan menerima penghargaan atas keberaniannya menangani kasus Wegrant.

Syren tersenyum kecil ketika melihat suaminya sibuk merapikan kerah. “Kau terlihat seperti orang yang akan diwawancarai stasiun TV.”

Rhys mendengus pendek. “Kalau bisa, aku ingin semua kamera itu jauh dariku.”

“Kau pantas mendapat pengakuan itu,” kata Syren, berdiri dan mendekat. Ia membetulkan nama pangkat di seragam Rhys. “Dan aku bangga padamu.”

Rhys terlihat sedikit canggung, tapi matanya melembut. Sudah berminggu-minggu Syren merasa bersalah melihat luka-luka Rhys. Bekas ikatan borgol masih membekas di pergelangan tangannya. Namun pria itu tetap tersenyum, seolah mencoba menenangkan Syren setiap saat.

“Kau juga pantas mendapat penghargaan,” kata Rhys. “Tanpa kau, kasus ini tidak akan terbongkar.”

Syren terdiam sejenak.

Ia masih sering terbangun tengah malam. Masih mendengar suara tembakan. Masih melihat tatapan Jane yang setengah meleleh itu.

Namun pagi ini… rasanya dunia sedikit lebih ringan.

Sedikit.

**


Rhys menyalakan TV untuk melihat berita pagi sebelum berangkat. Reporter berdiri di pemakaman mewah yang baru saja terlihat ditutup oleh pagar hitam.

“Mayat pendiri Hawthorne Beauty, Jane Hawk, dimakamkan malam tadi dalam upacara tertutup. Tidak ada foto peti, tidak ada tayangan jenazah.”

Syren menghentikan langkahnya.

Reporter melanjutkan:

“Pihak pemerintah menyatakan kondisi tubuhnya rusak parah akibat baku tembak dan tidak layak diperlihatkan. Hanya sedikit petinggi negara yang menghadiri pemakaman itu.”

Rhys mengambil kunci mobil, tidak terlalu memperhatikan berita itu. Tapi Syren… Syren menatap layar TV tanpa berkedip.

Ia tidak tahu kenapa.

Ada sesuatu yang menggelitik bagian paling dalam dari ingatannya.

Potongan adegan dari malam itu mencuat:

Pistol. Dua tembakan. Jane terhempas ke dinding. Darah. Ketidakgerakan total.

Tapi juga… Cahaya merah kecil. Botol yang pecah di lantai. Cairan yang menjalar menyentuh ujung jari Jane.

Lihat selengkapnya