Suara mesin kopi menderu pelan, menebarkan aroma Flores Bajawa ke seluruh ruangan sewa tempatku tinggal selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak seperti apartemen di Jepang pada umumnya. Lantai ruangan ini dilapisi oleh tatami, dengan sebuah level di tepi ruangan tempatku biasa tidur sekaligus menyelesaikan pekerjaan. Sepatu dan alas kaki tertata rapi, gelas dan piring nampak masih basah tersusun di sudut ruangan. Hanya meja kerjaku yang penuh dengan beberapa dokumen, catatan kecil, dan tentu saja foto pernikahanku dan istriku.
Jam menunjukkan pukul 6.30 pagi. Aku mulai mengemas barang-barangku sambil terus mengulang apa saja yang harus kukatakan. “Jangan sampai sebut nama, jangan gugup, bersikap normal, kita belum pernah ketemu”. Aku mengambil napas dan mengatur ekspresiku sambil mengatakan, “Kita sama-sama dari Indonesia.” Aku merasa senyumku masih terlihat aneh dan dipaksakan. Sekali lagi, kulatih senyumku agar tampak natural. Tanganku berkeringat saat merapikan kancing baju yang sebenarnya sudah rapi. Kutarik napas dalam-dalam lalu kuhempaskan panjang. Kuulangi tiga kali, lalu mataku Kembali jatuh ke sebuah foto pernikahan yang ada di meja. Tiga tahun penantian. Hari ini aku harus semuanya dari awal.
Segera kupakai sepatuku, kuikat rapat-rapat, kuambil tasku, dan sekali lagi aku memandangi wajah itu sebelum akhirnya aku melangkahkan kakiku ke luar rumah. Misi kehidupan kedua harus berjalan dengan baik. Matahari pagi di musim semi mulai menjatuhkan cahayanya pada ranting-ranting pohon yang tak berdaun, mengiringi burung-burung yang berkicau pagi ini. Aku mengayuh sepeda lipatku menyusuri gang-gang sepi kota di sekitar Waseda sambil terus memutar sebuah kata yang selalu membuatku tenang.
Aku pernah mendengar sebuah nasihat tentang cinta. Tapi aku tak pernah benar-benar memahaminya hingga momen itu. Pernikahan itu bukan tentang cinta. Mungkin kalian akan sedikit merasa aneh mendengar kalimat itu. Terutama bagi kalian yang sedang mencari pasangan hidup. Tapi aku telah melalui semuanya. Aku tak begitu yakin kalian akan memahami ini, tapi bagi sebagian orang, cinta itu bisa ditumbuhkan melalui proses yang santun dengan cara yang beradab. Kecuali kalian masih rancu membedakan antara cinta dan nafsu. Namun, yang menarik dari itu semua adalah cinta yang ditumbuhkan selama bertahun-tahun, dipupuk dengan ketulusan dan perhatian, bisa sirna begitu saja dalam hitungan detik. Secepat tegukan air yang membasahi dahaga. Ia juga meninggalkan luka bagi sebagian orang dan kekosongan bagi sebagian lainnya.
Setiap yang ada akan memberikan makna kepada yang lainnya. Begitu juga dengan orang-orang, peristiwa, tempat, dan kejadian yang pernah kita temui. Bahkan meski hanya beberapa saat, mereka ada untuk sebuah makna. Bahkan hal-hal kecil yang kita temui setiap hari sekalipun akan mengarahkan kita pada perilaku kita, kecenderungan kita, hingga keputusan-keputusan kecil yang mengarahkan kita pada sebuah takdir besar yang tidak pernah kita sangka-sangka. Jadi, dari orang dewasa untuk semua yang sedang memperjuangkan cintanya. Aku akan memberikan kalian satu nasihat gratis. Perhatikan hal-hal kecil di sekitar kalian, pupuklah kebiasaan yang baik, lakukan dengan penuh kesadaran, pada setiap rutinitas dan kebiasaan kecil kalian, karena bisa jadi. Hal-hal kecil itu justru akan menjadi penentu takdir kita di masa mendatang.
Angin menerpa rambutku yang masih sedikit basah. Hari ini aku bersemangat, namun terasa mendebarkan. Aku berhenti di salah satu jalan di tepian Sungai Kanda, memastikan beberapa hal. Lalu kukayuh kembali sepedaku dan berhenti di sebuah kotak pos di persimpangan jalan. Setelah kuraba salah satu sisinya, aku tersenyum, kemudian kembali mengayuh. Tak jauh dari sana, aku berhenti sejenak di sebuah jalan setapak. Kupapah sepedaku dan kuparkirkan di sebuah tempat parkir sepeda di depan café Bernama Uni.Shop & Cafe 125. Aku melihat jam tanganku, kupandangi salah satu arah jalan yang masih kosong sebentar. Tanganku kembali berkeringat, tapi aku harus kuat. Seperti biasa, ketika aku memasuki kafe itu, Yamada langsung menyapaku. Ia adalah seorang barista yang sudah sangat familier denganku. Seperti biasa, aku langsung menuju tempat duduk favoritku di dekat jendela. Tidak seperti biasanya, di jam sepagi ini aku melihat seorang wanita berhijab tengah menempati meja favoritku. Menghadap ke jendela tanpa menyadari ada aku di belakangnya. Sepertinya ia salah satu mahasiswa baru dari Indonesia yang kuliah di sekitar sini. Awalnya aku ingin memintanya bertukar tempat duduk, namun setelah kudapati di mejanya penuh dengan tumpukan buku, catatan, dan laptop. Aku mengurungkan niatku.
Aku menarik kursi di meja yang ada tepat di sebelah meja wanita itu. Memang sedih kita aneh di kafe seluas dan sekosong ini, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari besar itu. Hampir setiap pagi aku melakukan rutinitas yang sama dan duduk di kursi yang sama. Tidak lain karena di kursi ini aku bisa langsung melihat ke arah jendela yang langsung menghadap jalan. Membuatku bisa melihat siapa pun yang lewat tanpa harus terlihat.
Kuletakkan tas ranselku di kursi dan aku mulai membuka laptopku. Sepertinya wanita itu tidak menyadari keberadaanku karena sedang menggunakan headset dan fokus pada laptopnya yang penuh dengan angka-angka. Sebuah piring kecil telah kosong, begitu juga cangkir kopi yang ada di sebelahnya. Tapi dari cup kopi ukuran large di sampingnya, aku tahu ia sangat suka kopi. Sekali lagi aku melihat jam tanganku. Kuperiksa lagi kantong kemeja putihku dan benda di saku celanaku. Lalu aku kembali melempar pandangan pada salah satu arah jalan yang menjadi pusat perhatianku selama tiga tahun ini. Karena dari sanalah, setiap pagi, pada jam yang sama, dari arah yang sama, di jalan yang sama. Dia akan melintas.