Aku masih ingat pagi itu. Aroma dedaunan kering, angin yang berhembus pelan, dan caramu menertawakanku. Aku menggenggam daun-daun itu lalu kutaburkan ke wajahmu. Kau mengeluh lalu tertawa. Tawa yang selalu datang dengan sebuah jeda kecil, seolah kau sengaja membuatku menunggu.
Kau masih sibuk mempersiapkan bekal saat aku berbaring di sebelahmu. Kutatap wajahmu yang menutupi cahaya matahari. Hanya siluet, tapi entah mengapa selalu terasa sempurna. Saat itu kau mengatakan sesuatu. Aku tahu itu penting. Tapi seperti biasa, aku tak pernah benar-benar mendengarnya. Karena tepat saat kau hendak membisikkannya di telingaku, aku terbangun
“Drinnnngggggg”, aku tersentak. Ponselku bergetar. Kuusap mataku, lalu aku melihat ke sekeliling. Aku tertidur di ruang kerja. Untuk kesekian kalinya ponselku bergetar. Aku berusaha menguasai diriku. Mataku mulai tertuju ke sumber suara. Nama di layar panggilan membuat dadaku menegang. Ayah Chan.
***
Aku berlari. Kulompati area tapping ID di gedung tempatku bekerja. Aku berlari menerobos kerumunan, bahkan nyaris menabrak beberapa orang. Dengan panik sambil menggenggam ponsel. Taksi yang kuharapkan datang tepat waktu pun serasa tak membantu. Ramainya lalu lintas siang ini membuatku lebih memilih untuk turun beberapa blok lebih awal dari lokasi pengantaran untuk berlari menuju ruang gawat darurat. Siang ini tepat pukul 12.15 aku mendapat kabar dari orang tua Chan bahwa ia telah sadar. Ada perasaan lega dan takut yang datang bersamaan. Setelah kehilangan kesadaran di acara pernikahan kami, sudah 3 minggu ini Chan tidak sadarkan diri.
Aku takut itu akan menjadi kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya. Belakangan ini aku bermimpi aneh. Aku selalu bersama Chan, namun ia tak pernah melihatku.