“Tubuhnya saat ini memang masih baik-baik saja, tapi sebentar lagi gejala akan terlihat semakin jelas. Dia akan ada dalam keadaan di mana ia tak bisa melakukan tugas sehari-hari sebagaimana mestinya. Intinya.. Fungsi ginjalnya sudah sangat rendah. Hampir tidak bekerja.” Dokter itu menghentikan kalimatnya.
“Bagaimana dengan operasi, Dok?” Tanyaku sambil berharap.
“Kemungkinannya kecil; persentase hanya 2% keberhasilan. Kondisi yang dialami Istri Anda merupakan kasus yang jarang kami tangani.
“Umur seseorang tak bisa ditentukan oleh angka pak, namun berdasarkan perhitungan medis kami telah mengasumsikan tubuhnya masih bisa bertahan selama 1 minggu lagi”
Dadaku terasa sesak. Keringat membasahi tanganku. Rasanya seperti melihat sesuatu yang kami bangun runtuh begitu saja. Sempat aku berburuk sangka pada takdir yang seakan mempermainkanku dan membuatku membeli mimpi yang terlalu tinggi. Aku tak tahu, namun perasaan itu segera kutepis karena aku sadar takdir pulalah yang memberiku kesempatan mengenal wanita sebaik Chan.
Aku terhuyung menyusuri lorong rumah sakit, membayangkan semua impianku yang telah kubangun bersamanya sirna di depan mata. Namun aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Lorong ini nampak berputar dan seakan semua mata tertuju padaku. Pasien yang melintasiku dan para perawat yang memandangku tak kupedulikan lagi. Akhirnya aku menyandarkan diriku pada sebuah kursi tunggu panjang di antara ruang lobi rumah sakit itu. Semua perkataan, momen kecil, dan janji-janji yang pernah kuucapkan bersama Chan melintas dengan cepat lalu menyesakkan begitu saja. Yang jelas, aku merasa gelap dan hilang saat itu.