RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #5

Satu Tempat Bernama...

“Bagaimana jika doamu dikabulkan dengan cara yang tidak kau inginkan? Beranikah kau menjalani prosesnya?” Lamat-lamat, terdengar suara yang lembut ketika aku mulai membuka mata. Silau. Aku melihat sekeliling dan menemukan diriku berada di sebuah padang rumput yang cerah. Seorang wanita dengan kerudung merah jambu nampak berjalan membelah rumput-rumput tinggi itu sambil terus berbicara. Aku yakin itu Chan karena aku sangat mengenali caranya berjalan. Aku berusaha mengejarnya agar bisa mendengar lebih jelas, tapi tubuhku seperti berjalan di tempat. Aku mencoba untuk memanggilnya, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Wanita itu terus berjalan tanpa menoleh ke arahku.

"Chan!!!" Aku terkesiap menyebut nama Chan. Keringat dingin membasahi keningku. Ternyata itu mimpi.

 “Hei, Rei… kamu sudah makan belum?” bisik Chan samar-samar terdengar di telingaku. Rupanya setelah subuh tadi aku tertidur di sebelah pembaringan Chan. Perlahan aku membuka mata dan menggerakkan tubuhku yang telah kaku lantaran tidur dalam posisi terlungkup. Kuusap mataku dan mulai memandang ke arah Chan yang nampak sayu namun tetap memancarkan aura yang menenangkan. Cahaya pagi yang masuk dari jendela kaca ruangan lantai atas ini membuat wajahnya tampak tenang dengan baju putih yang ia kenakan. Seakan tak pernah kulihat Chan secantik ini sebelumnya.

 “Apa aku ada di surga?” kataku sambil tersenyum.

“Enggak… cuman bidadarinya aja yang lagi iseng maen ke bumi.” Kata Chan yang sudah tahu arah gombalanku itu. Aku mengapit kedua tanganku di antara lututku sambil tersenyum tenang memandang wajah Chan. Chan, yang merasa sedikit risih, lalu berseloroh.

“Ihhh.. ngapain sih cengar cengir kayak orang aneh tau!”

“Aku mau bilang kalau kamu cantik, tapi takut kamu marah!” kataku sambil tersenyum tanpa mengedipkan pandanganku.

“Kalau sebelum nikah sih emang I'll feel ya, tapi kalau sudah suami istri mah nggak.” Chan memukulku pelan lalu kembali tersenyum, membuat kedua matanya yang sayu nampak seperti sedang terpejam. Begitulah Chan, selain parasnya yang cantik, ia punya sikap. Sebelum kami menikah, tidak ada celah sedikit pun untuk menggombal ataupun bercanda ke arah percintaan. Sikapnya tegas: jika memang serius, temui ayahnya. Dia tidak ada waktu untuk bermain-main, apalagi dengan urusan hati. Itulah salah satu hal yang membuatku melihat Chan sebagai orang yang berbeda dari kebanyakan. Selisih usia 7 tahun antara aku dan dia tidak menjadikannya anak yang manja, tapi malah mengajariku ketegasan.

 Chan… ada satu tempat yang takkan pernah kita capai… tapi tempat itu selalu memberi kita kekuatan untuk bertahan jika kita menujunya… jadi ikutlah denganku ke tempat itu… ikutlah bersamaku ke sebuah tempat yang bernama Esok, biskku dalam hati.

 

***

 

Lihat selengkapnya