RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #6

Harapan

Chan yang ternyata sudah terbangun saat aku kembali tak bisa menyembunyikan tawanya melihatku berantakan dengan beberapa sisa makanan masih menyangkut di rambutku. “Kamu ngapain aja, Kak?” tanya Chan, disambut tawa heran kedua orang tuanya.

“Musibah…” kataku sambil melenggang ke arah kamar mandi.

Sesaat setelah aku membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, aku sudah mendapati beberapa perawat dan seorang dokter sedang berdiskusi di sekitar tempat tidur Chan. Aku yang khawatir menghampiri dengan wajah cemas. Namun, dokter segera menenangkanku dan berkata bahwa ini hanyalah pemeriksaan rutin. Aku kembali lega.

Beberapa saat setelah dokter tersebut memeriksa Chan, ia mohon diri sambil memberikan isyarat kepada Pak Surya untuk mengikutinya. Kami saling berpandangan, tanpa kata-kata kami membagi tugas, Pak Surya mengikuti dokter, dan aku mendekati Chan yang masih tersenyum lemah setelah diambil darahnya. Senyum Chan yang biasanya memenangkan, kini terasa perlahan mulai meredup.

“Rei, aku tadi mimpi kita akan bikin rumah yang pintunya berwarna kuning,” kata Chan sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya, “Kalau handling-nya warna apa?” tanyaku. Kami berdiskusi tentang rumah impian yang ingin kami tinggali. Tak lama setelah itu, ia kembali tertidur.

Pak Surya kembali ke ruangan dengan wajah datar. Meski khawatir, tidak ada keinginan dalam benakku untuk menanyakan apa yang baru saja dikatakan dokter.

“Aku sama nak Rei mau ke luar dulu cari kopi ya,” kata Pak Surya kepada istrinya. Aku beranjak dari kursiku dengan berat. Aku tak ingin mendengar apa pun lagi. Kami berjalan menyusuri koridor. Dalam fase ini, aku telah pasrah, tidak ingin tahu lebih banyak dan tidak ingin khawatir lebih dari ini. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di sini. Di sebuah balkon rumah sakit terdapat beberapa kursi yang menghadap ke taman belakang, Pak Surya menghentikan langkahnya. Terdapat jeda diam beberapa saat yang tak ingin kupecah, memberikan kepada Pak Surya kesiapan untuk menceritakan segalanya padaku.

“Waktu Aya tak banyak lagi nak Rei,” kata Pak Surya, memulai pembicaraan. Aku berusaha tenang. Hatiku pilu.

“Dokter mengatakan waktunya semakin sedikit; jika ia bertahan lebih dari tiga hari, itu adalah keajaiban.” Suasana hening. Air mata mengalir dari balik kaca mata beliau.

 

***

 

Pagi ini tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Setelah obrolanku dengan ayah Chan kemarin, tak banyak yang bisa kami bicarakan selama Chan tertidur. Di hadapan Bu Prita, lelaki paruh baya itu terlihat lebih tegar. Di tengah keheningan yang kami tak tahu sampai kapan itu, tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bu Prita yang paling dekat dengan pintu segera membukanya dan terkejutnya aku saat orang yang mengetuk pintu itu adalah Deny. Setelah beberapa saat, ia memberi salam kepada Bu Prita dan Pak Surya. Dia melangkah ke arahku. Sejenak, ia memandangi Chan lekat. Kemudian, tanpa mengalihkan pandangannya ke arahku, ia berkata.

“Rei… ikutlah aku, ada sesuatu yang harus aku sampaikan!” katanya serius. Tanpa banyak bertanya, aku pun mengikutinya.

Udara pagi itu masih terasa lembap ketika tak kujumpai sedikit pun cahaya matahari. Suasana mendung dan angin yang menderu membuatku harus memegangi kemejaku yang memang tak pernah kukancingkan itu sebagai ciri khas berpakaianku. Kugenggam dua sisi pakaianku dan kudekapkan di depan dadaku. Berbeda dengan Deny yang membiarkan jubah dokternya berkibar ditiup angin pagi yang menderu di atas atap ini. Pandangan tertuju jauh hingga ke balik perbukitan yang membatasi kota ini. Sepanjang perjalanan, Deny nampak cemas.

“Hal penting apa?” tanyaku sambil mendekatinya. Deny menghembuskan napas panjang yang nampak sangat berat. Aku menunggu.

“Apa kau mencintai Chantika Rei?” kata Deny memulai pembicaraan

“Lebih daripada hidupku, Den,” kataku setelah menghela napas karena kupikir itu hanyalah pertanyaan retoris.

“Rei… kalau ada cara untuk menyelamatkannya… tapi kau harus kehilangan dia… kau mau?” Aku menatapnya. Deny masih membuang pandangannya jauh melewati bukit tepi kota itu.

“hah?” tukasku.

“Jika ada cara untuk membuatnya pulih total seperti dulu, apakah kau mau berkorban untuknya?” lanjutnya. Ia nampak sedang memikul beban yang berat, seperti sedang mempertaruhkan sesuatu. Sekilas sempat ada keraguan tersirat di wajahnya, namun ia berusaha menghilangkannya dengan nada suara yang semakin berat. Ia mulai menjelaskan.

"Ada sebuah harapan yang mungkin mau kau dengar…"

Aku masih menatap lekat Denny saat sekali lagi hembusan angin menerbangkan jubah dokternya. Aku masih mencari tahu apa yang sebenarnya ingin ia katakan.

Lihat selengkapnya