Ada keheningan dan perasaan sesak di ruangan ini sesaat setelah Deny menjelaskan semua informasi tentang prosedur "reset". Awalnya Pak Surya gelisah saat mendengarnya. Begitu juga Bu Prita. Kami bertiga seperti sedang dihadapkan pada buah simalakama. Bagaimana tidak. Kami bertiga adalah orang yang paling dekat dengan Chan . Karena secara gamblang reset memberikan kami pilihan. “Hidup dengan cinta orang tersayang dan membiarkannya meninggal. Atau menyelamatkannya dengan konsekuensi tak lagi dikenali oleh orang yang kita cintai. Akhirnya, dengan deraian air mata Bu Prita dan suara berat Pak Surya, kami memutuskan untuk memberi tahu Chan.
“Aya… dengar dulu, nak… mungkin sesudah itu kamu gak ingat sama kita, tapi kita masih punya kesempatan untuk sekali lagi ada di kehidupan Aya. Kita akan mengembalikan ingatanmu setelah tiga tahun prosesnya selesai. Dan saat itulah kami akan berusaha meski perlahan mengenalkan diri kami dan mengembalikan keadaan seperti saat ini meskipun sebagai orang lain. Yang jelas saat itu pun kami akan selalu di sisi Aya, entah sebagai tetanggamu, atau bahkan sebagai rekan kerja Aya…” Pak Surya mendadak berhenti dan mengatur napasnya. Aku bisa merasakan nada haru yang ia rasakan saat mengatakan itu semua. “Yang jelas, kami akan menjadi orang yang akan selalu di sekitar Aya,” ucap Pak Surya dengan nada menenangkan.
“Tapi Pa… bagaimana kalau Papa gak bisa ada di sana, bagaimana kalau saat itu aku benar-benar udah jadi orang lain dan menolak kehadiran Papa?… bagaimana kalau aku benar-benar gak pernah tahu kalau itu Papa… bagaimana kalau…” Chan dengan panik dan wajah khawatir menjabarkan semua kekhawatiran yang telah menjadi kekhawatiran sejak pertama kali aku mendengar efek dari obat ini. Namun sebelum Chan menuturkan semua ucapannya pak surya memotongnya dengan senyum dan sentuhan di pundaknya.
“Aya…,” katanya dengan wajah tulus.
“Aya, gak usah khawatir, karena bagi kami… melihatmu sembuh dan sehat adalah esensi dari keberadaan kami. Tak peduli bagaimana kau melihat kami, tak peduli di mana di hati keberadaan kami di mata anak kami. Selama kamu bisa hidup dengan sehat dan bahagia. Kami sudah sangat senang. Bukankah memang seperti itu tugas Orang tua, untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja dan menjalani hidupnya dengan baik?.”
Aku yang mulai merasa sesak berusaha mengalihkan pandangan. Sementara Bu Prita hanya bisa terdiam, meneteskan air mata tanpa kata-kata.