RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #9

Meski harus kehilangan dirimu sekali lagi

Aku melempar kotak kue itu. Pintu kamar Chan terbuka. Para perawat berlarian keluar-masuk. Terlalu ramai. Terlalu cepat. Lalu aku menyadari… sesuatu yang buruk sedang terjadi. Aku menyerobot masuk. Apa yang kukhawatirkan terbukti benar. Dua orang dokter dan beberapa perawat sedang mengitari Chan. Aku segera menoleh kanan-kiri mencari kabar, dan kulihat Pak Surya sedang berpelukan dengan Bu Prita dalam haru. Aku yang baru menyadari bahwa salah satu dokter yang ada di sana adalah Deny, segera saja merangsek ke sana dan bertanya apa yang terjadi. Tentu saja, seorang perawat segera memintaku menjaga jarak untuk memberikan ruang bagi kedua dokter itu untuk melakukan penanganan terbaik mereka. Di luar, mendung mulai menelimuti langit sore ini, menambah sesak perasaanku.

 

Seakan Deny tak berani memandangku, dia terus saja menyibukan diri dengan alat-alat medis dan selang-selang pernapasan yang membuatku merinding tiap kali melihatnya. Suara denyutan nadi Chan yang diterjemahkan oleh mesin elektronik dan suara sibuk diskusi dokter dan perawat membuat jantungku ikut berpacu dengan cepat. Di tengah kekalutan itu, aku memandang Pak Surya yang tengah memeluk Bu Prita memandangku pasrah.

 

“Aku harap kamu bersiap, Rei…” kata Deny, menatapku sejenak, kemudian ia kembali melanjutkan kesibukannya. Langsung saja tubuhku mendadak lemas.

“Tapi tadi semua baik-baik saja,” kataku lemah.

“Itu terminal lucidity, Rei.”

“Terkadang sebelum pergi, mereka akan terlihat membaik.”

...

Semua suara denyut nadi dan kesibukan para perawat itu perlahan mengecil dan menghilang. Pandangan di depanku pecah. Suara mesin mulai menjauh. Detaknya memudar. Putih. Semua jadi putih. Lalu aku berdiri di sana… Hamparan padang rumput itu kembali terasa. Aku melihat siluet Chan berdiri memandangiku. Ia memiringkan kepalanya. Aku berusaha bangkit, tapi berat. Cahaya matahari yang bersinar dari balik paras Chan membuatku hanya bisa melihat siluetnya. Air mataku mengalir. Aku berusaha bangkit dan kertas itu sudah terselip di antara genggamanku. Sebuah kertas kecil bertuliskan “reset”.

 

Lihat selengkapnya