Sabuga 1 tahun 3 bulan sebelum reset
Masih tergambar dengan jelas di benakku suasana ruang tunggu almamater dengan kursi yang ditata berjajar sedemikian rupa. Aroma khas konveksi yang menyelinap dari jajaran almamater yang ditumpuk menyeruak setiap kali salah seorang calon mahasiswa membuka bungkusan plastiknya. Satu per satu nomor antrean disebutkan, membuat barisan kursi tunggu itu terisi secara acak. Saat itu aku melihat seorang wanita berkerudung tosca bergeser memberikan jarak ketika ada lelaki yang duduk di kursi sebelahnya. Bahkan ia sempat memilih untuk berdiri hanya agar tidak duduk berdampingan dengan laki-laki yang lain. Itulah Chantika Anastasya. Wanita berwajah datar dengan alis low arch-nya.
Saat itu aku menduga kalau kami berada di jenjang magister yang sama dari warna map yang ia bawa. Hanya itu momen awal pertemuan yang kuingat bersama Chan. Aku tidak berusaha untuk menyapanya, begitu juga sebaliknya. Aku hanya merasa ia bukan tipe yang akan berbicara dengan lelaki.
Pagi itu, minggu ketiga pada mata kuliah budaya, setiap mahasiswa diminta untuk mempresentasikan gagasan dari topik penelitian yang akan diangkat. Chan mendapat giliran untuk presentasi tentang kerajinan topeng. Awalnya aku hanya ingin mendapatkan poin keaktifan dengan bertanya, namun ternyata itu menjadi awal “perkenalan” kami.
“Jika menurut Anda kita harus melestarikan budaya, bagaimana dengan fakta bahwa pengrajin topeng yang Anda paparkan bisa bertahan hidup dengan menjual topeng yang setiap topengnya membutuhkan waktu 2 minggu untuk produksinya?” tanyaku. Tak kusangkan, dari pertanyaan itu Chan sedikit terdiam. Aku menengok ke arah profesor, berharap ia akan membantu Chan memberikan jawaban. Tapi beliau hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Alih-alih memberikan jawaban, beliau malah mempertajam tensi kelas.
“Pertanyaan yang bagus, Bung… sepertinya Nona Chantika tidak berkutik dengan pertanyaan Anda.” Mendengar itu, Chan nampak kesal, kedua alisnya mendekat memandangku serius.
“Terima kasih untuk pertanyaannya. Tugas pelestarian tidak seharusnya dibebankan pada pelaku budaya saja, dalam hal ini perajin. Kita sebagai akademisi juga punya andil, baik melalui artikel ilmiah, hingga inovasi yang mungkin akan memberikan kemudahan percepatan produksi. Sehingga biaya, waktu, dan tenaga bisa dipangkas dengan lebih efisien.” balas Chan dengan profesional meski aku sempat menangkap ada ekspresi kesal dari caranya menatapku.
“Tapi bukankah topeng-topeng itu bernilai karena prosesnya? Jika semua prosesnya dikerjakan oleh mesin hasil inovasi para peneliti, tidakkah itu akan mengurangi nilainya?” lanjutku. Kali ini tidak hanya ekspresinya, Chan membalas pertanyaanku dengan pertanyaan yang lebih tajam.
“Baik, kalau memang demikian. Apa solusi yang akan Anda tawarkan? Apakah kita hanya akan meminta para pengrajin itu pindah profesi untuk bekerja sebagai karyawan pabrik dengan gaji yang lebih stabil?” Chan membalikkan keadaan. Kelas hening.
“Saya tidak bilang jika kita harus membiarkan budaya itu hilang dimakan waktu; saya hanya tidak setuju jika para pengrajin itu harus tetap memikul beban pelestarian dan mengorbankan kesejahteraan mereka…” balasku, membuat tensi kelas semakin naik. Sejak saat itu, entah bagaimana polanya, di kelas apa pun, dalam kesempatan presentasi maupun tanya jawab, Chan selalu jadi orang pertama yang mengangkat tangan untuk membantah pemaparanku. Menariknya, hal itu seperti momen yang sudah diantisipasi oleh teman-teman sekelsel. Ketika Chan melakukan presentasi, mereka langsung menoleh ke arahku. Begitu juga sebaliknya. Kami tidak pernah saling bertengkar. Tapi, entah kenapa, selalu berada di sisi yang berlawanan.
Suatu ketika profesor yang melihat pola itu memberikan perhatian khusus kepada kami. “Kalian ini seperti yin dan yang, argumen kalian sama-sama penting dari sudut pandang yang tepat meski selalu berlawanan. Tanpa disadari, hal itu membantu kelas ini melihat topik yang saya berikan dari sudut pandang yang lebih luas.” kata Prof. Darma sambil menutup pertemuan. Tepuk tangan semua teman-teman sekelas membuatku terasa senang sekaligus malu. Meski demikian, kami tetap asing di luar kelas. Mungkin hal itu yang membuatku bergeser, dari yang tadinya sekedar ingin mendapat nilai keaktifan, perlahan mulai menikmati momen momen seperti itu.
Ada satu momen ketika aku merasa mulai memperhatikan Chan bukan karena bantahannya. Saat itu profesor, meminta beberapa orang untuk maju ke depan kelas, mensimulasikan sebuah formasi ritual salah satu suku pedalaman. Chan adalah salah satu yang ditunjuk. Uniknya, ketika profesor meminta semua orang yang di depan saling bergandengan tangan, Chan langsung berpindah ke ujung kiri di sebelah teman perempuannya.
“Lho kenapa pindah?” kata professor.
“Maaf, Prof., tapi dia bukan mahram saya!” kata Chan polos. Meski pemikirannya tajam, mandiri, dan berpenampilan kasual, Chan punya sikap, dan itu menarik perhatianku.
“Dia nggak gigit kok!” kata professor sambil bercanda.
“Ih nggak mau proff!” kata Chan sambil menunjukkan ekspresi datar khasnya, Professor tersenyum, lalu kelas kembali berlangsung seperti biasa.
Satu waktu aku memaparkan materi presentasi yang aku sendiri tahu sedikit kontroversial. Aku sengaja membuka celah agar Chan mendebatku. Namun, alih-alih Chan yang mendebatku, seluruh kelas malah menjadi kontra terhadap argumenku. Sementara orang yang kuharap akan menjadi partner debatku hanya diam sepanjang sesi diskusi. Aku dibantai habis, aku tidak punya banyak argumen untuk menyanggah. Tapi, sebelum kututup presentasiku, tiba-tiba Chan mengangkat tangan dan menyampaikan satu kalimat yang membuatku terngiang.
“Saya memang tidak setuju dengan pendekatan pemateri, tapi saya bisa memahami kenapa pemateri berpikir seperti itu. Mungkin ke depan jika pemateri bisa lebih fokus kepada inti permasalahan, variabel yang menimbulkan kontroversi bisa lebih ditekan,” kata Chan dari tempat duduknya. Seluruh kelas terdiam. Aku sedikit tersinggung dan kecewa, tapi di saat yang sama aku juga tahu bahwa ia tidak sedang melawanku. Aku merasa ada sesuatu yang sedang ia jaga.
Malamnya aku tidak bisa tidur. Anehnya, dari semua serangan di kelas itu…, hanya Chan yang tidak sedang melawanku, dan itu lebih menggangguku daripada semua serangan yang pernah ia lontarkan. Aku merasa salah langkah, apa jangan-jangan ia tahu bahwa aku sengaja membuat kontroversi itu untuk memancingnya. Apakah karena caraku terlalu klise sehingga ia bisa membacanya, dan menolak untuk ikut dalam permainanku. Hal itu benar-benar menghantuiku. Di sanalah aku mulai menyadari bahwa aku tidak benar-benar ingin mendebatnya. Aku hanya ingin selalu merasa dekat dengannya.
Sangking kepikirannya, aku sampai terbawa mimpi. Dalam mimpiku, aku melihat Chan dengan kerudung tosca miliknya berdiri membelakangiku. Ia kemudian jongkok, dan seperti sedang bermain dengan seorang anak kecil. Aku merasa ada kasih sayang yang terpancar darinya ketika ia berinteraksi dengan anak kecil yang ada di depannya. Di sanalah aku mulai melihat Chan bukan lagi sebagai wanita dengan wajah jutek. Aku mulai melihatnya sebagai wanita yang cerdas, berprinsip, dan penyayang. Sebuah kombinasi yang membuatku merasa hangat.
Entah ada angin apa, siang itu, profesor membagi kelompok di mana aku dan Chan ada di kelompok yang sama. Kelompok kami mendapat tugas untuk melakukan observasi di Bukit Padang. Bagai gayung bersambut, dari titik itu untuk pertama kalinya aku dan Chan benar-benar berbicara di luar kelas. Kelompok kami berkumpul di selasar perpustakaan untuk mendiskusikan jadwal kunjungan. Tapi entah bagaimana obrolan malah berbelok ke arah Chan yang tidak mau bersalaman dengan laki-laki.
“Eh, Chantika, kalau Lu gak mau salaman sama cowok? Terus gimana kalau pas pacaran nanti? Atau lu cuman mau pegang pacar lu aja ya?” tanya Lusi polos. Mendengar itu, aku mulai menjawab untuk mencairkan suasana.
“Dia nggak pacaran, Lusi,” kataku sambil membuat tabel di laptopku. Lusi kemudian menoleh ke arah Chan.
“Serius?” Chan yang merasa canggung kemudian membantah.