Aku selalu membuka kotak bekal dan kotak bekal keduaku bersamaan. Aku mulai memakan bekalku sambil melihat kotak bekal kedua. Seperti sedang menunggu sesuatu terjadi, hingga aku menyadari tidak ada siapa-siapa. Lalu aku menutupnya kembali tanpa kesedihan. Sepertinya aku sudah terbiasa. Aku memandangi sarang burung saat aku menyantap bekalanku. Alih-alih memiliki teman dan sekadar berdiskusi dengan teman-teman sekelasku, aku lebih memilih berjalan beberapa menit untuk duduk di taman yang luas ini. Entah kenapa, sendirian lebih membuatku nyaman. Inilah yang selalu kulakukan di hari pertama aku masuk ke kampus.
Juga di hari berikutnya…
Dan hari berikutnya lagi…
Lalu hari berikutnya…
Dan berikutnya…
Sampai tak terasa dua musim telah berlalu. Lalu burung itu datang, membawa jerami pertamanya. Begitulah akhirnya aku menjadikan tempat ini sebagai tempat favoritku. Mengamati seekor burung membangun sarangnya, mengisinya dengan pasangan hingga ketiga anaknya menetas menjadi hal yang selalu kutunggu.
Kini sepasang burung nampak bergantian mencari makan untuk ketiga-tiga ekor anaknya. Memberikan perasaan yang unik di benakku. Jika cuaca sedang baik, aku selalu menyempatkan diri beristirahat dan memakan bekalanku di taman ini. Aku memilih kursi kayu yang ini karena aku bisa melihat burung-burung itu. Terkadang aku meletakkan beberapa remah dan biji-bijian di kursi ini agar mereka bisa mengambilnya.
***
“Apa yang Nak Ana lakukan minggu ini?” tanya Dokter Ryo sambil memeriksa tensi darahku. Ryoshin Senpai, begitu para perawat di sini menyebutnya. Beliau adalah dokter senior yang selalu memantau perkembanganku di setiap akhir pekan. Garis wajahnya telah menunjukkan puluhan tahun pengalaman dan integritas.
“Bagaimana… apa yang Nak Ana lakukan minggu ini?” tanya Dokter Ryo untuk kedua kalinya. Aku mengernyitkan dahi.
“Tidak biasanya… bukannya harusnya dokter bertanya apa yang saya ingat minggu ini?” balasku. Dokter tersenyum.