Aku masih berdiri memandangi sarang burung yang sudah kosong. Ada perasaan hampa ketika melihat sarang itu tidak lagi ditempati.
“Sudah kosong ya?” Tiba-tiba sebuah suara datang dari belakangku. Laki-laki dengan kamera profesional itu lagi. Aku tidak menjawab. Hanya bergeser ke samping.
“Padahal tinggal satu foto terakhir saja, aku tidak pernah mendapatkan gambar yang baik untuk burung yang berbulu biru itu,” kata laki-laki itu, kemudian menoleh ke arahku. Aku mengalihkan pandangan.
“Bukan biru, itu tosca,” balasku sambil tetap memandangi sarang yang sudah kosong itu. Lelaki itu lalu memeriksa folder foto dari kameranya. Lalu mengangguk.
“Hmm… kali ini pengamatanmu tepat,” kata laki-laki itu, lalu membidik kameranya ke arah sarang yang kosong itu. Aku masih diam. Lelaki itu memotret sarang itu beberapa kali. Setelah dirasa cukup, ia memasang kembali tutup lensa
“Tidak usah khawatir, justru jika mereka tidak terbang, mereka tidak akan menjadi burung,” katanya singkat lalu pergi.
***
“Jika mereka tidak terbang, mereka tidak akan menjadi burung,” kataku, mengulangi perkataan lelaki kamera profesional itu. Dokter Ryo tampak tertegun mendengar jawabanku. Ia tersenyum.
“Tapi yang membuat saya heran… mengapa mereka tidak tinggal saja di sarang itu bersama selamanya?” lanjutku.
“Hmm… Nak Ana… apa menurutmu sarang itu dibuat agar burung tetap tinggal?” Aku terdiam sambil menggelengkan kepala pelan.