RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #15

Melihat Dunia

Jika memang tidak bisa bertemu, berarti memang bukan jodoh. Lalu aku akan melihatnya sebagai tanda untuk melanjutkan langkah. Ya… sekarang aku harus lebih peka terhadap tanda-tanda agar tidak termakan oleh perasaan. Setiap malam aku beristikharah untuk meminta petunjuk. Dan di siang harinya aku akan berikhtiar untuk mencari tanda-tanda petunjuk itu.

Hari ini matahari tidak bersinar terlalu terang. Langit tak mendung, tapi tak ada cahaya matahari. Setelah perjalanan jauh yang kutempuh, mungkin kali ini aku lebih baik menikmati momen dengan berkeliling di sekitar Nagoya. Universitas Nagoya adalah kampus yang luas dengan banyak pepohonan di sekitar gedung farmasi tempat Profesor Yuuji beraktivitas. Waktu telah menunjukkan pukul 11.59. Aplikasi langsung memberikan notifikasi bahwa waktu dzuhur telah tiba. Aku bergegas mencari restroom terdekat untuk mengambil wudu. Sambil mengamati sudut-sudut taman, mencari titik yang agak tersembunyi untuk salat dzuhur. Dalam perjalananku mencari tempat wudu, aku melihat seorang lelaki berdiri lalu rukuk di antara pepohonan. Ada perasaan sedikit tenang karena tidak hanya aku yang melakukan salat di tempat terbuka seperti ini.

Aku menemukan satu tempat yang agak tinggi di antara pepohonan untuk melakukan salat di sana. Kuhamparkan sajadah portabelku dan duduk lebih lama dari biasanya. Aku selalu menikmati menjadi orang asing dan salat di tempat-tempat yang tidak biasa seperti ini. Kulihat jam tanganku dan kuraih tas bekalku. Aku akan mencari tempat untuk menyantap bekalanku.

***

Selain sudut halal tempat mahasiswa Muslim makan siang, stan halal milik wanita tua langgananku adalah alternatif kedua dari empat alternatif yang ada. Alternatif ketiga adalah di stan vegetarian, sementara alternatif keempat adalah membawa bekal sendiri. Pojok halal di kantin sangat penuh dengan mahasiswa Muslim dari berbagai belahan dunia, India, Turki, Pakistan, hingga Indonesia. Itulah mengapa aku hanya membeli di stan halal dan tidak di tempat lainnya karena ingin menghindari interaksi sosial yang tidak perlu.

Hari itu aku terlambat datang dan mendapati antrean di stan halal itu sudah mengular. Memang tidak banyak menu yang ditawarkan selain nasi kotak, takoyaki, dan onomiyaki halal. Tidak biasanya stan itu diserbu antrean sepanjang itu, tapi jika diamati, rata-rata yang mengantre adalah anak-anak berseragam SMA. Itu membuatku ragu untuk menjadi bagian dari antrean itu. Aku mencari tempat duduk tak jauh dari antrean itu sambil mengamati wanita paruh baya yang sedang melayani satu per satu pesanan ditemani suaminya. Wanita itu mengikatkan kain di antara rambutnya. Dengan topi bucket hat yang hampir menutupi wajahnya, sebuah kacamata cokelat menggantung di atas masker yang ia kenakan. Dari ujung lengan yang tertutup oleh sweater lengan panjang itu, aku melihat beberapa selotip tertempel seperti koyo.

“Itu anak-anak SMA Tokyo. Mereka sedang mengikuti uji coba ujian nasional di kampus ini.” Tiba-tiba, suara yang tak asing terdengar tak jauh dari tempat dudukku. Aku menoleh dan mendapati lelaki dengan kamera profesional itu sedang duduk tak jauh dari kursiku. Sepertinya ia telah ada di sana lebih dulu daripada aku. Setelah beberapa saat aku terdiam, aku melontarkan pertanyaan padanya.

“Oh… kenapa Anda ada di sini? Mana kameranya?” tanyaku.

“Hari ini aku lagi bekerja, lagipula kamera juga butuh libur,” balasnya sambil tersenyum.

***

“Ih… kangen sama takoyaki ibu itu…” gumamku sambil menyantap kotak bekalku. Langit Nagoya tiba-tiba berubah menjadi mendung. Aku segera memastikan apakah aku membawa payungku tadi.

Lihat selengkapnya