Aku sempat panik ketika mengetahui fakta bahwa surat-surat itu tidak berasal dari Dokter Ryo. Pertanyaan besarnya adalah. Lalu siapa yang mengirimnya? Mengapa? Setelah pertemuan itu, aku buru-buru kembali ke apartemenku sambil terus mengawasi sekelilingku untuk melihat apakah ada orang yang mengikuti atau mengawasiku.
Kubuka lagi keranjang tempatku menyimpan tumpukan surat-surat itu. Semua menggunakan amplop putih. Di dalamnya ada satu kertas seukuran kartu pos dari bahan karton tipis dengan masing-masing satu kata di dalamnya. Kupikir dulu Dokter Ryo akan mengirimkan setiap kata ini untuk melihat reaksiku, siapa tahu salah satu kata itu akan membawa ingatanku kembali. Tunggu… apa jangan-jangan ada orang lain yang juga berusaha membuatku ingat kembali?
***
“Tenanglah, kita tidak harus duduk bersama selama perjalanan nanti,” kata lelaki itu, menenangkanku. Di belakang terdengar suara pengumuman di speaker yang menjelaskan peraturan di area kereta bawah tanah. Aku pun menerima tawarnya. Kuambil e-money itu dan kutempelkan pada pintu tiket menuju peron. Kami berjalan berjauhan. Dan duduk di tempat yang agak jauh. Setelah duduk, aku melihat lelaki itu mengambil buku lalu membacanya dengan tenang di seberang sana. Tidak ada obrolan yang berarti.
Karena tujuan kami sama, setelah mengambil jalur kereta lokal ke Stasiun Motoyama, kami berjalan menyusuri lorong menuju jalur kereta berikutnya. Setelah keluar dari line Meijo, kami harus menempelkan kartu lagi untuk bisa masuk ke line Higashiyama. Tapi sebelumnya aku memasuki area tapping e-money, aku bergegas menuju loket untuk top up e-money sejumlah biaya perjalananku tadi. Sambil menyampaikan pada petugas kondisiku tadi agar tidak terjadi kesalahan di kartuku ketika taping di jalur berikutnya.
“Seharusnya dari sini aku sudah bisa pakai kartuku sendiri,” kataku sambil menyodorkan kartu milik lelaki itu.
“Begitu ya… baiklah… jaga dirimu,” katanya lalu pergi.