RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #18

Antara masa lalu, kini, dan nanti

Apa kalian tahu hal konyol dari proses penerimaanku? Sehari setelah aku meninggalkan kotak bekal keduaku di taman, besoknya aku kembali ke tempat itu. Mengambil kotak itu yang mulai tertutup oleh salju. Kuberihkan, lalu kubawa pulang. Memang tidak gampang. Tapi aku belum menyerah. Bukan karena aku lemah. Tapi aku sendiri tidak yakin apakah ini hal yang benar. Jadi, hari berikutnya aku membawa kotak itu seperti biasanya. Lalu meninggalkan di tempat yang sama lebih lama. Hari ketiga aku mengambilnya kembali. Hari keempat aku meninggalkannya lagi untuk kemudian di hari kelima aku mendatanginya lagi. Aku bahkan sempat menangis sebelum mengambilnya untuk yang kelima kalinya. Hari keenam, aku meninggalkannya, tapi tetap mengamatinya dari kejauhan.

Aku tahu segala temuan di sini tidak akan pernah hilang melainkan kembali kepada pemiliknya. Jadi, di percobaan ketujuh aku meletakkannya di sebuah tempat yang berbeda. Ada sebuah patung di salah satu sudut taman itu. Aku meletakkan kotak bekal itu tak jauh di sekitar kaki patung itu. Aku meninggalkannya di sana dan kutahan diriku untuk tidak melihatnya sebelum dua hari berlalu. Dan apa yang terjadi? Yap… kotak itu masih ada di sana. Dan kalian tahu apa yang kulakukan berikutnya? Yap… aku membawanya pulang. Membersihkannya lalu mengemasnya dengan baik dan membawanya kembali pada hari berikutnya. Seperti tidak pernah terjadi apa pun.

Akan tetapi, semakin aku membiarkan kotak itu ada bersamaku, semakin aku kesulitan untuk menjelaskan kepada Hana. Dan tanpa kusadari, itu terus membayangi setiap kali aku hendak membuka diri kepada orang lain.

***

Siang itu aku kembali membagi kotak bekalanku dengan Hana. Kali ini kami tidak duduk di taman, tapi di sebuah kafe yang tidak jauh dari sana, karena cuaca sangat dingin di luar. Seperti biasa, ketika Hana menikmati kotak bekalku, aku mendekap kotak keduaku yang berisi biskuit dan roti kering. Kami bercengkerama asyik sekali. Hari itu aku bahkan tahu lebih banyak tentang masa kecil Hana yang cukup konyol. Ia pernah diminta untuk bernyanyi mewakili sekolahnya di tingkat kota. Tapi karena ia grogi, di saat ia telah di atas panggung, ia berlari sambil menangis mencari mamanya.

“Mamaaaa…” kata Hana menirukan teriakannya waktu kecil dulu, lalu tertawa terpingkal-pingkal tertahan. Aku yang mendengarnya juga merasa konyol. Akhirnya waktu berlalu dan Hana harus segera pergi untuk kerja paruh waktunya. Saat itu lagi-lagi kegelisahan menghampiriku. Akhirnya, sekali lagi aku berjalan ke taman di bawah salju. Meletakkan kotak bekal itu di salah satu kursi di sana. Lalu aku berbalik badan. Setelah beberapa langkah, aku masih menoleh ke arah kotak yang perlahan ditutup salju itu. Aku mengambil napas lalu melangkah pergi.

Keesokan harinya aku kembali ke tempat itu dan mendapati kotak itu telah hilang. Awalnya aku bersorak sendiri. Namun, ketika aku melangkah pulang, tiba-tiba hatiku memaksaku untuk berbelok ke minimarket. Tanpa pikir panjang, aku mengambil kotak bento dengan desain yang minimalis. Membayarnya. Lalu berjalan menuju apartemenku dengan langkah cepat.

***

“Hei… apa kau mendengarku? Apa kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?” Aku berbicara sendiri sambil mengaduk-aduk sisa mi instan sementara kaki dan badanku kumasukkan ke dalam selimut kotatsu—sejenis meja lesehan yang didesain dengan kolong di lantai untuk menghangatkan. Di hadapanku ada kotak bekal bermotif kayu polos yang tadi siang kubeli. Aku sedang bermonolog dan bertanya pada diriku di masa lalu.

“Kenapa kau menahanku? Sagitu sayangnya ya?”

“Nggak kok… aku nggak ingin menggantikanmu… kau tetap akan menjadi rumahku. Aku nggak akan bangun rumah baru juga. Tapi karena kamu nggak ketemu… dan sekarang musim salju… bisa nggak sih aku cari tempat baru?” Kataku. Lalu aku mengambil tumpukan surat-surat yang setiap pagi sudah ada di pintu depan. Entah kenapa. Sejak aku meninggalkan kotak bekal untuk pertama kalinya dulu. Surat-surat itu berhenti datang. Kubuka lagi surat-surat yang pernah kubuka. Kuletakkan berjajar di atas meja. Lalu tanpa sengaja salah satunya terkena cipratan air mi instan yang ada di meja. Membasahi sebagian dan menegaskan adanya bekas lipatan di salah satu sisinya.

Aku mengamati lekat-lekat lipatan itu. Lalu aku mengambil surat yang lainnya. Kuamati betul-betul dan ternyata aku menemukan bekas lipatan lainnya. Aku memeriksa semua surat itu satu per satu. Aku dibuat merinding. Hampir semua surat yang ada di sana memiliki lipatan di bagian yang berbeda. Seperti ada sebuah pola.

Apa ini? Apakah seseorang memang sedang ingin mengirimkan pesan untukku? Tapi siapa? Kenapa tidak langsung saja? Kenapa harus begini caranya?

Lihat selengkapnya