RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #19

Aku akan pulang

Tiga hari ini, salju turun dengan lebat, membuat beberapa transportasi umum mengalami keterlambatan karena jalanan yang membeku membuat kendaraan rawan melaju. Di musim salju seperti ini aku dan Hana tak lagi duduk di taman. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah kafe dekat kampus. Biasanya setelah kelas, Hana akan menunggu shift kerjanya. Di sanalah aku biasa menemaninya sambil berdiskusi panjang lebar tentang apa pun. Di kafe itu kami akan membicarakan apa pun mulai dari hal yang remeh:

“Eh, tahu nggak di kampus kita akhir-akhir ini banyak orang melihat hantu taman?” Lalu ia menjelaskan segala teori konspirasinya. Mulai dari mahasiswa yang depresi, arwah penunggu, hingga teori bahwa itu adalah penjaga bumi yang mulai gelisah karena banyak mahasiswa belajar berlebihan dan menyalakan lebih banyak lampu di sekitar kampus.

“Katanya dia selalu muncul pagi-pagi. Kadang duduk di bangku taman. Kadang berdiri dekat pohon. Ada yang bilang dia sering memindahkan barang-barang orang yang tertinggal.” Hana bercerita dengan nada pelan.

“Ih… kurang kerjaan… Hantu kok kerjaannya beresin barang orang?”

“Nah, itu dia. Hantu paling rajin di kampus.”

Hal yang penting:

“Aku nemuin selebaran menjadi relawan berbayar di prefektur Akita dan Tokushima. Di sana kebanyakan penghuninya adalah orang tua. Dan di musim salju seperti ini, banyak relawan yang membantu membersihkan salju.”

“Apa kau akan ikut Hana?”

“Tentu saja. Ini akan menjadi liburan berbayarku, dan kau tahu, kabarnya akan ada banyak mahasiswa dari kampus lain juga. Mungkin di sanalah aku akan menemukan jodohku.” Kata itu hanya membuatku tertawa.

Juga hal yang tragis:

“Keluargaku ada, tapi tidak berfungsi dengan baik…” jawabnya sambil menghela napas. Hana, wanita yang nampak di cerita ini, tidak kuduga ia telah mengalami banyak hal di usia mudanya. Kedua orang tuanya berpisah dan dia dititipkan kepada neneknya. Ia harus merawat adik dan neneknya sekaligus. Untungnya, ia adalah anak yang berprestasi, jadi ia bisa mendapatkan beasiswa di kampus ini. Hanya saja, ia tetap harus mencari part-time agar bisa membantu biaya sekolah adiknya dan hidup bersama neneknya yang sudah tua.

***

Saat itu aku sedang memandangi sebuah poster lowongan relawan yang dikatakan Hana ditempel di mading perpustakaan. Kalian sungguh mungkin tidak mengerti betapa beratnya aku memulai hidup. Setiap kali ada kesempatan seperti ini. Hatiku terbagi menjadi dua. Di satu sisi, ada ketakutan bahwa aku akan benar-benar meninggalkan masa lalu dan menjalani hariku. Aku khawatir ada bagian dari diriku yang seharusnya kujaga, tapi kulepaskan. Tapi hatiku yang lain seakan mendorongku agar aku melanjutkan hidup. Hal-hal seperti ini selalu terulang setiap kali kesempatan itu datang. Ketika ada piknik kelas, perkumpulan pelajar indonesia, forum pelajar muslim jepang, hingga kegiatan relawan yang dibicarakan Hana ini yang sebenarnya terbuka untuk siapa saja. Tidak harus orang Indonesia, tidak harus Muslim, dan tidak harus pelajar, meskipun Hana bilang kalau sebagian besar yang ikut kegiatan seperti ini memanglah pelajar.

Jadi di tengah kebimbanganku itu. Aku hanya mencatat nomor kontak yang tertera di poster itu tanpa tahu apakah aku akan menghubunginya atau tidak.

***

‘Selamat siang, apakah benar ini dengan Mitsuki? Saya ingin mendaftar program relawan. Aku mengirimkan pesan itu setelah belasan kali kuhapus dan kuedit. Di layar nampak orang yang menerima pesan itu sedang mengetik.

‘Hai… iya benar. Dengan siapa ini?’

‘Saya Anastasya, ini adalah kegiatan relawan pertama saya, tolong berikan informasi tentang kegiatan ini’ balasku.

‘Sebelumnya, apa kau sudah mengunjungi website kami?’

‘maaf… belum’

Lihat selengkapnya