RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #20

Mendengarmu

Setelah perjalanan kurang lebih 5 jam ke prefektur Yamagata menggunakan bus, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendapatkan penginapan. Satu penginapan akan dihuni oleh beberapa relawan. Aku dikelompokkan bersama beberapa relawan perempuan dari berbagai latar belakang. Setelah itu, kami semua dikumpulkan di sebuah gedung olahraga sekolah, tepatnya di lapangan basket indoor. Di sana kami diberikan pengarahan. Salah satu orang yang memberikan pengarahan adalah Mitsuki. Ia nampak luwes dan pandai membawa suasana dengan menyisipkan beberapa gurauan dalam pengarahannya.

“Selain membantu membersihkan salju, kita juga akan memberikan pemeriksaan kesehatan kepada para orang tua. Dan karena klien kita adalah orang tua. Jadi, bersabarlah jika mereka banyak bertanya dan bercerita. Karena orang tua sejatinya adalah penunggu masa lalu, sementara pemuda adalah pemandu masa depan.”

Lalu di tengah-tengah pengarahan itu ada sepasang laki-laki dan perempuan berhijab yang datang terlambat. Masuk, kemudian duduk di antara kami.

***

Setelah malam itu, Hana meminta izin untuk memfoto semua surat-surat yang kubawa untuk ia coba cari tahu nantinya. Kami berpisah di depan kafe di tengah salju yang turun agak lebat. Aku terus memikirkan siapa pengirim surat-surat itu dan untuk apa. Aku merasa ada sesuatu yang janggal.

Malam itu, salju turun semakin lebat, membuatku kesulitan menemukan orientasi arah. Aku berhenti di bawah sebuah lampu taman. Salju menutupi semua jalan, meski aku masih bisa melihat lampu-lampu jalan dan beberapa pepohonan. Aku sulit melihat di mana belokan menuju apartemenku. Lalu di saat aku mulai ketakutan, aku mendengar suara dua orang, laki-laki dan wanita, yang berbicara dengan lantang. Aku mendengar sang wanita meminta untuk membeli sesuatu di sebuah convenience store. Aku ingat tidak ada minimarket terdekat di sekitar sini selain di dekat apartemenku. Diam-diam aku mengikuti mereka dari belakang hingga aku bisa melihat gedung apartemenku. Tapi anehnya, sepanjang jalan aku mengikuti mereka berdua. Ada perasaan aneh dalam diriku. Sepertinya ada sesuatu dalam diriku yang ingin memberitahuku.

Saat aku sudah ada di depan apartemenku. Aku mempercepat langkahku dan dengan refleks yang aneh, tiba-tiba aku menghampiri lelaki yang sedari tadi berjalan bersama wanita di depanku. Lalu dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku memukul bahu orang itu. Mereka kaget. Aku pun lebih kaget. Cepat-cepat aku meminta maaf lalu berlari masuk menaiki tangga apartemenku. Aku benar-benar malu dan merasa seperti orang aneh.

***

Malam sebelum kegiatan, kami berkumpul di ruang olahraga. Kami saling berkenalan, membagi kelompok, dan sisanya adalah makan dan minum. Aku dan beberapa teman Muslim lainnya memisahkan diri ketika waktu magrib telah datang. Kami melakukan salat berjamaah. Ada setidaknya 5 jamaah laki-laki dan 3 orang wanita dari berbagai ras dan negara. Setelah selesai berjamaah, kami diarahkan ke makanan khusus Muslim oleh panitia. Aku melihat Mitsuki juga ada di sana sambil membagikan potongan buah. Ia nampak membaur dengan semua orang.

Aku mencari kursi agak jauh di sudut gedung di antara tumpukan air mineral. Sebelum makan, aku mengeluarkan buku catatanku dan mulai menulis. Itulah jadwalku: menuliskan semua yang kulalui dalam satu hari.

“Permisi…” Mitsuki tiba-tiba berdiri di depanku. Cepat-cepat aku menutup dan menoleh ke arahnya.

“Saya ingin mengambil beberapa air mineral,” katanya sambil matanya mencari sesuatu di antara tumpukan kardus air mineral itu. Aku berdiri menggenggam bukuku erat lalu menepi ke samping.

“Ah, santai saja… saya hanya ingin mengambil ini,” katanya, lalu mengangkat sebuah kardus yang sudah terbuka.

“Apakah Anda suka makanan halal?” tanyaku. Ia tersenyum sambil mengangkat alisnya. Cepat-cepat aku menjelaskan.

“Karena saya tadi melihat Anda di area makan teman-teman Muslim dan sering melihat Anda di antrean stan halal,” lanjutku.

“Hmm… pengamatan Anda bagus juga…” balasnya. “Ya… saya suka sekali makanan halal,” balasnya dengan senyuman lebar.

“Kenapa? Apakah itu terasa berbeda?” tanyaku. Ia kemudian tertawa kecil. Tapi belum sempat ia menjawab, seorang laki-laki datang dan menawarkan bantuan.

“Apa ada yang bisa dibantu, senpai?” laki-laki itu. Dari garis wajahnya, aku bisa tahu ia adalah orang Indo. Aku melangkah mundur.

“Yaya… tolong bawa beberapa juga untuk teman-teman I sana,” kata Mitsuki. Lelaki itu mengambil dua kotak, menganggukkan kepalanya kepadaku. Lalu berjalan bersama Mitsuki. Aku kembali duduk dan mulai menyantap makan malam yang tadi sudah kutaruh. Mitsuki dan laki-laki itu nampak asyik berbicara sambil membawa kardus-kardus itu. Sesaat pandanganku terhenti pada punggung Mitsuki. Lalu cepat-cepat aku menyuapkan makananku.

***

Aku panik bukan main ketika aku mendapati buku catatanku tidak ada di tas. Aku yakin tadi aku sudah memasukkannya ke dalam tas. Tapi setelah kubongkar seluruh isinya, aku tetap tidak menemukannya. Hari sudah malam dan gedung olahraga berjarak agak jauh dan pasti sudah ditutup. Aku segera mengirimkan pesan kepada Mitsuki.

Lihat selengkapnya