---Tiga tahun sebelum insiden buku---
Sehari setelah observasi ke Gunung Padang. Pak Surya, ayah Chan, memintaku untuk datang ke rumah mereka. Di sana aku disambut dengan baik. Keluarganya sangat terbuka padaku. Hal itu sedikit mengikis keteganganku. Chan adalah wanita yang cerdas dan cantik, namun sangat konservatif. Aku bisa melihat itu ketika di kelas dan ketika di tongkrongan bersama teman kelas lainnya. Para cowok selalu menyatakan bahwa Chan adalah wanita yang manis, tapi tidak bisa didekati. Aku tahu itu sejak pertama kali melihatnya di Gedung Sabuga, yang akhirnya kusadari menjadi bibit ketertarikanku padanya.
“Kau tahu, Nak Rei, setiap kali Aya mempersiapkan satu tugas presentasi, atau sepulang dari kampus di mana hari itu ia presentasi, Aya akan menceritakan kepada Nak Rei dengan panjang lebar.” Pak Surya, lelaki dengan kacamata frameless, berbaju polo dengan wajah yang nampak segar ini, bercerita dengan antusias. Ya, Pak Surya adalah lelaki yang berdiskusi denganku ketika kami berada di Gunung Padang. Chan mem-bercandaiku ketika aku melamarnya dengan mengatakan bahwa beliau adalah drivernya.
“Kan memang Papah yang nyupirin aku selama ini?” lanjut Chan setelah melihat wajahku merah padam. Lusi yang berdiri di belakang Chan nampak terpingkal-pingkal tertahan. Dari gelagatnya, ia nampak mendapat berita besar dan sudah tak sabar untuk membaginya dengan yang lain.
“Papa ih….” Aku mendengar suara Chan menegur dari ruang keluarga, disusul dengan tawa khas Pak Surya. Aku tidak menyangka keluarga Chan adalah keluarga yang sangat hangat. Aku hanya bisa terdiam. Aku sudah mati kutu sejak aku menginjakkan kaki di rumah Chan. Rumah yang besar dan asri. Pak Surya adalah pemilik franchise dari beberapa brand terkenal.
“Apa benar Nak Rei ini selalu mendapat nilai tinggi di kelas? Juga ini… Nak Rei rajin jadi salat ya… hebat… saya belum bisa euy seperti Nak Rei. Tidak satu pun pertanyaan yang sempat kujawab, tapi Pak Surya terus menghujanaku dengan pertanyaan. Dari pertanyaan itu aku bisa paham, bahkan sedikit tersanjung karena ternyata selama ini Chan mengamatiku dari tempat yang tidak kuketahui.
“Jadi, apakah lamaran saya diterima, Pak?” tanyaku setelah hampir satu jam Pak Surya bercerita satu arah, tapi tak sedikit pun memberikan aku clue apakah sebenarnya aku diterima atau tidak.
“Aya… sini!” Aya begitulah keluarganya memanggil Chan. Anastasya Chantika. Hari itu, untuk pertama kalinya, aku duduk berhadapan dengan Chan bukan untuk sebuah perdebatan argumentasi maupun diskusi koordinasi. Hari itu aku berada di hadapannya sebagai lelaki yang ingin membangun sebuah cerita yang kelak akan kami sebut sebagai rumah.
***
Dua hari setelah pertemuan itu, kami menikah. Pak Surya meminta kami untuk menikah secara agama terlebih dahulu dan menunda resepsi kami hingga ujian akhir semester selesai. Tidak ada pesta, tidak ada bulan madu, apalagi liburan. Kami menikah di akhir pekan dan mengisi hari-hari kami seperti orang yang sedang berpacaran. Makan, jalan-jalan, dan mengunjungi beberapa galeri dan toko buku. Benar-benar cara berpacaran orang cupu. Aku bahkan masih tinggal di kosan dan ketika malam kami pulang ke tempat kami masing-masing.
Pada hari Senin pertama saat masuk kuliah, semuanya heboh. Beberapa teman yang tampaknya juga menyukai Chan langsung menghampiriku untuk meminta penjelasan. Begitu juga dengan teman-teman Chan. Lusi bahkan belum tahu kalau kami sudah menikah. Ia masih heboh menceritakan kejadian di Gunung Padang. Suasana kelas sudah heboh dan bertambah heboh ketika Chan datang. Kerumunan masa kini beralih padanya. Aku sengaja menahan diri untuk tidak dulu bercerita kalau kami sudah menikah. Kami belum sempat membicarakannya. Aku khawatir ia akan merasa malu atau sejenisnya. Tapi aku salah. Chan dengan tenang, santai, dan mantap mengatakan bahwa tidak hanya melamar, ia menjelaskan bahwa sekarang kami adalah suami istri. Di sanalah suasana kelas semakin heboh tak terkendali. Tidak sedikit teman kami yang baru datang kebingungan lalu segera mendatangi kami untuk mengucapkan selamat setelah mengetahui apa yang terjadi.
Ketika kelas berlangsung, kami bahkan masih duduk di tempat masing-masing seperti sebelumnya. Hanya saja di setiap jam istirahat dan pulang. Chan selalu berdiri di sebelahku, menungguku untuk pergi bersamanya. Tak jarang kami menghabiskan waktu istirahat dan pergantian jam bersama. Chan selalu membawa dua bekal, ia selalu memasak untukku. Dan aku selalu menghabiskan bekal yang ia bawa, bahkan ia sengaja menyisakan bekal miliknya agar aku bisa mendapat lebih banyak. Chan. Tidak pernah tidak membawa dua bekal, bahkan ketika hari itu ia sakit.
Ada banyak hal yang kami bicarakan. Dan aku baru tahu, dalam urusan pernikahan, cerita sederhana yang bagi kita biasa saja bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti dan mendatangkan empati bagi orang lain. Ada satu hal yang bagiku adalah hal biasa, namun membuat Chan meneteskan air mata. Aku bercerita padanya bahwa menyantap kotak bekal seperti ini adalah impianku di masa kecil. Ya… aku bukanlah dari keluarga orang berada, tapi itu adalah hal yang biasa bagiku. Bahkan ketika aku mengatakan padanya bahwa iklan teh yang menunjukkan keluarga minum teh bersama juga menjadi satu impian di masa lalu.