“Wow… apa ini? Apa benar kamu yang bikin?” tanyaku kepada Chan setelah ia menyuapkanku sepotong kue yang membuat lidahku terasa hidup.
“Ini namanya cheesecake… dan iya aku yang bikin… aku jago lo bikin kue… kue…”
“Ya… aku tahu, semua masakanmu memang enak.”
“Rei… sebenarnya kamu bilang enak itu karena memang enak atau karena kamu belum pernah ngrasain aja ya?” Chan melirik sebal. Aku tertawa.
“Hei, jangan salah… sudah puluhan konferensi nasional maupun internasional kuhadiri, tak sedikit di antaranya menyajikan makanan dari Asia hingga Eropa. Jadi ketika aku bilang enak, itu berarti memang enak. Dan khusus kue ini Chess ini… ini di atas level kenikmatan sejati…”
“Cheesecake,” balas Chan sambil memukulku. “Gombal banget sih! Sering ya ngegombal kayak gitu ke cewek… cewek…?” sindirnya. Aku tertawa. Chan mencubitku.
“Tunggu… aku ajarkan kau cara menikmati makanan yang enak,” kataku sambil meminta sendok kayu yang ia pegang. Aku membetulkan posisi duduk dan bersila. Aku memotong sedikit kue itu, melumatnya, lalu memejamkan mata, menunduk, sambil menepuk-nepuk lututku beberapa kali.
“Enaaakkk…..” kataku sambil terus menepuk-nepuk lututku dengan satu tangan. Setelah aku menelan kue itu, kuangkat lagi kepalaku, mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Chan tertawa geli
“Ayo sekali lagi… lakukan bersamaku…” Kami duduk saling berhadapan, bersama-sama mengambil satu suapan. Saling suap. Lalu menunduk dan menepuk-nepuk lutut kami dengan satu tangan. Berteriak… enaaakkk… mengambil nafas. Menghembuskannya, kami saling berpandangan dan tertawa. Sejak hari itu, tidak ada cheesecake yang kami makan tanpa ritual tersebut.
Waktu menuju resepsi pernikahan semakin dekat, begitu juga liburan semester genap. Chan menyusun banyak rencana, termasuk rencana perjalanan bulan madu kami. Uniknya, ia memaparkan semua itu dalam bentuk powerpoint dengan presentasi ala biro travel. Aku tidak pernah menyangka wanita yang nampak jutek dan dingin ini sangat hangat dan menyenangkan.
“Tapi… aku duduk di dekat jendela ya…” kataku setelah melihat semua rute perjalanan pesawat, kereta, dan bus yang ia paparkan setiap mengunjungi satu daerah.
“Boleh aja… kamu pasti pingin lihat pemandangan dari jendela ya…” lanjutnya. Aku grogi lalu mencari alasan.
“Eh… anu… ya tentu saja agar aku bisa melihat pemandangan… aku tidak gampang mabuk kok,” balasku. Chan langsung tertawa.
“Yeee… laki-laki gagah gini ternyata mabuk kalau naik transportasi umum ya…. Cupu!” lanjutnya, dan itu menjadi bahan gurauan Chan setiap kali kami bersama dan melihat bus, kereta, atau pesawat. Meskipun hanya gambar, ia akan langsung meledekku.
“Eh Rei.. Rei… lihat itu, ada pesawat… sini-sini pegangan,” aku hanya memutar bola mataku.
Kami menjalani semua hari dengan menyenangkan. Bahkan semakin seru ketika kami menyiapkan resepsi pernikahan kami. Kami seakan punya kesepakatan yang tidak terucap untuk saling melengkapi. Untuk urusan makan. Chan akan selalu membawakannya untukku. Tapi untuk urusan kesiagaan aku akan melengkapinya. Seperti saat hujan di sore itu.
Seperti biasa, aku menjemput Chan untuk satu kegiatan. Langit mendung dan gerimis. Aku tetap berjalan menuju motorku ketika hari mulai gerimis, lalu membuka sedikit jaketku.
“Eh… kamu nggak akan sok jago lepas jaketmu terus dikasih ke aku, kan?” kata Chan seperti mencegahku.