Aku sedang berselancar di laptopku mencari peluang beasiswa di Jepang di mana Chan akan ditempatkan nantinya. Tangan kiriku memutar-mutar cincin dengan gambar setengah daun. Cincin milik Chan yang sering kukenakan di kelingkingku. Di sebelah cincinku. Aku memberi Chan cincin setengah daun karena itulah satu-satunya benda berharga yang kumiliki, peninggalan orang tuaku, sementara Chan memberiku cincin dengan gambar bunga sakura.
Tiba-tiba sebuah email masuk menawarkanku sebuah pekerjaan sebagai responden berkala dari satu penelitian medis. Aku tidak pernah mempelajari berbagai hal medis sebelumnya, tapi setelah kubaca beberapa hal dari tawaran itu, aku mulai memahaminya. Tidak hanya mendaftar sebagai responden, aku bahkan mengajukan proposal untuk menjadi anggota tim peneliti mereka setelah aku menemukan bahwa basis penelitian mereka ada di Nagoya, Jepang. Aku segera memeriksa peta dan melihat lokasi Chan nantinya dan Universitas Nagoya.
Empat jam dengan kereta cepat bukanlah jarak yang dekat. Jadi aku mengajukan beberapa proposal dengan beberapa kondisi. Aku harus beralih profesi. Setidaknya setelah kuliah S2-ku terhenti, dan resign dari pekerjaanku. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya agar bisa tetap ada di dekat Chan nanti.
“Jangan banyak begadang, Rei. Kau juga harus menjaga kesehatanku.” Deni tiba-tiba datang sambil memberiku sebotol air mineral. Ia duduk di depanku.
“Oiya, Den… waktu itu kau bilang kalau kau sempat mendaftar sebuah penelitian, ya… bisa kau ceritakan lebih banyak?” tanyaku sambil membuka air mineral.
“Namanya Professor Bening. Dia adalah ilmuwan Indonesia yang memimpin penelitian di Jepang. Penelitiannya berkaitan dengan peremajaan sel. Setidaknya begitu terakhir aku mendaftar satu tahun lalu.” Lalu Deni diam sejenak, seakan ragu hendak menyampaikan atau tidak.
“Tapi ini adalah blessing in disguise karena kondisi Chan. Dan beliau juga sedang sempat datang di kota ini. Aku mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan kolaborasi penelitian itu.” lanjutnya.
“Santai Den… kami juga berterima kasih atas peluang yang kau sampaikan. Jadi, apa tugasmu? Apakah kau akan berangkat ke Jepang?”
“Aku nggak akan ke mana-mana, Rei. Tetap di sini dan menjadi perpanjangan tangan beliau untuk meneliti beberapa hal.”
“Hmm… ya… ya… Sepertinya Profesor Bening itu orang yang jenius banget, ya,” kataku.
“Begitulah aku benar-benar mengaguminya. Semoga suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan beliau,” katanya sambil membenarkan posisi berdirinya.
“Oiya… jika memungkinkan… mengingat Chan akan tinggal di Jepang nanti. Apakah ada cara atau peluang bagiku untuk bertemu dengan beliau? Mungkin aku bisa membuat kunjungan dan membicarakan perkembangan Chan.
“Tentu saja… sebenarnya aku sudah menyampaikan ini pada kedua orang tua Chan tadi saat kau pergi. Profesor Benning akan bertanggung jawab atas semua akomodasi Chan selama di Jepang jika ia tetap diberikan akses untuk melihat perkembangannya.”