Suatu pagi, aku melihat Chan duduk di bangku kayunya. Ia membuka bekalnya. Aku tersenyum dari kejauhan. Ia menyiapkan dua kotak bekal seperti biasanya. Ia membuka salah satunya lalu memakannya perlahan. Sesekali ia memandangi kotak bekal keduanya. Membukanya, lalu menutupnya kembali. Sampai ia selesai dan memasukkan kembali semua kotak bekalnya.
Aku tidak tahu apa yang ia bawa di dalam tasnya. Tapi satu waktu aku melihatnya membawa dua kantong teh celup. Mengangkatnya tinggi-tinggi dengan ekspresi datar. Lama sekali ia memandanginya, lalu ia menurunkan tangannya. Wajahnya terlihat bingung. Aku tahu apa yang terjadi. Tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak bisa dijangkau pikirannya. Chan selalu membawakanku kotak bekal dan kantung teh agar kami bisa menyeduh bersama. Tapi nampaknya di kehidupan barunya ini, ia hanya bisa membawa tanpa tahu untuk apa.
Biasanya aku akan datang pagi buta ke apartemennya. Mengirimkan surat-surat itu dan menyirami tanamannya. Chan tidak akan pernah menyadarinya karena ia sering lupa. Menjelang siang, Pak Surya akan datang untuk meletakkan botol susu yang baru dan mengambil botol yang sudah kosong. Bu Prita, dengan kesehatannya yang menurun, selalu mengupayakan untuk datang ke stan halal. Tapi akhir-akhir ini beliau sudah tidak kuat lagi untuk sekadar berdiri di sana menunggu anaknya datang. Senyuman kecil dan anggukan datar dari Chan sudah sangat berarti baginya. Lalu di akhir pekan kami bertiga akan berkumpul dan saling bertukar cerita tentang Chan. Di sanalah kami akan tersenyum mendengar tingkah Chan, tetapi juga menangis ketika memahami bahwa Chan masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lamanya dengan orang-orang tersayangnya.
Namun demikian, ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada kedua orang tua Chan. Cerita tentang laki-laki dan kamera. Ia memang tidak pernah secara jelas mendekati Chan. Tapi kehadirannya memang sedikit-banyak membantu Chan. Aku tahu baik Chan maupun lelaki dengan kamera itu sama-sama suka mengamati sesuatu. Lelaki itu mengamati sekelilingnya lalu mengabadikannya dalam kameranya. Sementara Chan mengamati hal-hal yang mungkin ia rasakan, ia tak bisa mengingat. Ada perasaan yang menenangkan tapi sedih ketika mengetahui Chan tetap dengan kebiasaannya dan berusaha menutup diri dari lingkungannya. Wanita secantik Chan pasti tidak sulit untuk mendapatkan pasangan jika ia tidak menutup diri. Aku tidak tahu apakah ia bahagia. Dan mungkin itulah yang paling membuatku takut. Bukan karena ia melupakanku, tapi karena mungkin ia sedang belajar hidup tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya telah hilang dari hidupnya.
Salah satu hal yang membuatku sedikit cemburu adalah ketika melihat Chan mengobrol dengan lelaki itu ketika mereka sama-sama mengamati sebuah sarang burung. Atau ketika mereka sedang antre di stan makanan halal. Aku mencari tahu namanya. Seno. Senopati Mitsuki. Aku menemukan sebuah blog miliknya. Isinya penuh dengan tulisan tentang statistik, fotografi, dan kehidupan mahasiswa asing di Jepang. Ia ternyata mahasiswa doktoral. Di salah satu tulisan lama, ia bercerita tentang masa kecilnya di Indonesia sebelum pindah ke Jepang ketika SMP.
Lalu setelah dua tahun berlalu dengan rutinitas yang sama. Aku melihat ada perubahan dalam kebiasaan Chan. Ia tidak lagi mendatangi dokter tempat ia biasanya mengonsultasikan perkembangannya. Ia tak lagi nampak menutup diri. Ia lebih terbuka dan bahkan kini ia memiliki seorang teman dekat bernama Hana. Aku sering mendengar mereka berdialog di taman.