RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #25

Untuk bertumbuh

Selama dua tahun terakhir ini aku menjalin komunikasi dengan Profesor Bening via email. Sebenarnya sudah beberapa kali aku mengutarakan keinginanku untuk menemuinya, tapi beliau selalu menolak dengan berbagai alasan. Dalam studi magisterku di Waseda, aku mengambil Human Science. Setidaknya segala hal yang kukonsultasikan mengenai Chan dengan Profesor Benning menjadi landasan dari kerangka penelitianku selama ini. Dari irisan penelitian itulah aku mengetahui bahwa ingatan manusia tidak hanya berasal dari hippocampus, di otak. Ya, penelitianku adalah tentang memori kolektif dan individual yang memiliki banyak turunan. Profesor Bening banyak membantuku terkait hal itu. Itu juga yang akan menjadi strategiku untuk kembali mengenal Chan.

Aku telah mempersiapkan semuanya selama dua minggu, waktu yang kubutuhkan untuk persiapan. Hari ini aku akan menemui Chan dengan skenario yang kurancang. Aku akan berpura-pura mengembalikan buku Chan yang pernah kuambil. Lalu aku akan memulai semuanya di sana. Aku tahu Chan mungkin akan marah ketika seseorang membaca buku catatannya. Jadi, aku akan memposisikan diriku sebagai orang yang bisa membantunya memahami ingatannya yang hilang. Jadi… di sinilah aku. Di atas sepeda pancal yang meluncur membelah udara pagi yang dingin.

Aku berhenti di salah satu jalan di tepian Sungai Kanda, memastikan beberapa hal. Lalu kukayuh kembali sepedaku dan berhenti di sebuah kotak pos di persimpangan jalan. Setelah kuraba salah satu sisinya, aku tersenyum, kemudian kembali mengayuh. Aku berhenti di sebuah kafe bernama Uni.Shop & Cafe 125. Aku melihat jam tanganku, kupandangi salah satu arah jalan yang masih kosong sebentar.

Aku menyapa Yamada, seorang barista yang sudah sangat familier denganku. Aku hendak duduk di tempat duduk favoritku di dekat jendela. Tapi tidak seperti biasanya, di jam sepagi ini aku melihat seorang wanita berhijab tengah menempati meja favoritku. Menghadap ke jendela tanpa menyadari ada aku di belakangnya. Sepertinya ia salah satu mahasiswa baru dari Indonesia yang kuliah di sekitar sini. Awalnya aku ingin memintanya bertukar tempat duduk, namun setelah kudapati mejanya penuh dengan tumpukan buku, catatan, dan laptop. Aku mengurungkan niatku.

Aku menarik kursi di meja yang ada tepat di sebelah meja wanita itu. Memang sedikit aneh di kafe seluas dan sekosong ini, ia memilih tempat itu. Tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari besar itu. Hampir setiap pagi aku melakukan rutinitas yang sama dan duduk di kursi yang sama. Tidak lain karena dari kursi ini aku bisa langsung melihat ke arah jendela yang langsung menghadap jalan. Membuatku bisa melihat siapa pun yang lewat tanpa harus terlihat.

Aku meletakkan tas ranselku di kursi dan aku mulai membuka laptopku. Sepertinya wanita itu tidak menyadari keberadaanku karena sedang menggunakan headset dan fokus pada laptopnya yang penuh dengan angka-angka. Sekali lagi aku melihat jam tanganku. Kuperiksa lagi kantong kemeja putihku dan benda di saku celanaku. Lalu aku kembali melempar pandangan ke salah satu arah jalan yang menjadi pusat perhatianku selama hampir tiga tahun ini. Karena dari sanalah, setiap pagi, pada jam yang sama, dari arah yang sama, di jalan yang sama. Dia akan melintas.

Akhirnya orang yang aku tunggu tiba. Dari kejauhan, Chan dengan baju warna krem dengan paduan hijab yang panjang menjuntai. Jaket merah marun menutupi sebagian badannya. Aku mengambil napas dalam-dalam ketika ia mulai mendekat. Inilah saatnya. Aku berdiri. Menarik bangkuku ke belakang, mengambil buku catatan Chan yang ada di tasku, lalu berbalik badan untuk segera berlari menghampirinya untuk menjalankan rencanaku. Lalu…

“Brakkk…. Prangg….” Aku terjungkal ke belakang dan semua gelap. 

 

Aroma minyak kayu putih yang khas menyengat dan membuatku tersadar. Kepalaku terasa berputar. Perlahan aku bangkit dan duduk di kursi sofa tempatku berbaring.

“Anda sudah sadar?” Suara seorang wanita terdengar samar-samar. Aku masih mengusap kepalaku yang terasa benjol di belakang. Tak lama kemudian Yamada membawakanku segelas air hangat. Aku meminumnya dan menghela napas.

Saat pandanganku mulai jelas, aku melihat wanita berkerudung tadi, dengan mulut yang tertutup masker, mengucapkan permohonan maaf berkali-kali. Ya seperti dugaanku. Ia orang Indo. Au bisa tahu dari logatnya. Aku melihat kemejaku yang sudah bernoda oleh kopi. Cepat-cepat aku mencari buku catatan Chan dengan sedikit panik. Lalu aku melihat ke arah wanita tadi. Ia memegang buku itu dengan kedua tangannya, lalu menyerahkannya kepadaku.

Lihat selengkapnya