RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #26

Meski kita akan tinggal sejenak

Sejauh yang kuketahui, perjalanan ke Yokohama adalah perjalanan terjauh yang pernah dilakukan Chan sejak ia memulai kehidupan barunya. Aku bisa tahu itu karena aku telah menyetel laptop Chan agar memberikan notifikasi email di ponselku setiap kali ia merencanakan perjalanan. Dari sana juga aku bisa memantau di mana Chan berada dengan live share location. Dan seperti biasa, aku akan selalu mendampinginya dengan jarak yang tidak ia duga. Dan aku berharap ia tetap bisa merasakan kehadiranku dengan cara yang ia pilih.

Kadang aku sendiri merasa apa yang kulakukan sudah terlalu jauh. Aku mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa aku masih ada. Tapi selama tiga tahun, aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak sedang mengawasinya. Aku hanya memastikan ia baik-baik saja. Lalu aku membuat batasan yang tegas pada diriku sendiri. Aku tidak akan membuka email atau pesan apa pun yang dikirimkan kepada Chan. Aku hanya butuh tahu di mana ia berada.

Tapi kali ini untuk pertama kalinya ia nampak memeriksa tiket ke Nagoya. Paginya, aku mengikutinya dari jauh. Ia memesan dua tiket dan sengaja mengosongkan kursi di dekat jendela. Itu sudah cukup untuk membuat hatiku merasa hangat. Ia masih menganggapku meski dengan tatapan datar setiap kali ia memandang kursi kosong di sebelahnya itu.

Tapi setelah beberapa kali ia menempuh perjalanan ke sana. Untuk pertama kalinya aku melihat ia hanya memesan satu tiket. Meski aku lihat ia nampak ragu untuk melakukannya. Chan membutuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan bahwa ia hanya akan membeli satu tiket. Begitu juga ketika di dalam kereta cepat itu. Meski terlihat gelisah, ia memilih untuk duduk di dekat jendela. Memandang keluar jendela dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.

Aku tidak tahu siapa orang yang ingin ia temui. Yang aku tahu, ia selalu masuk ke gedung laboratorium medis di Universitas Nagoya. Tidak lama. Sepertinya ia selalu gagal menemui orang tersebut. Hari itu. Hari ketika Chan memesan satu tiket dan duduk di kursi dekat jendela. Ia tidak langsung pulang seperti biasanya. Ia sholat di taman dan membuka bekalnya di sana. Dan ketika langit mulai mendung, ia nampak gelisah. Sepertinya ia lupa membawa payungnya hari itu. Tapi seperti biasa, hal-hal seperti itu sudah sering terjadi. Aku selalu membawa dua payung dan dua pack tisu untuk hal-hal seperti ini. Diam-diam aku meletakkan payungku di bangku tempatnya beristirahat ketika ia mencuci kotak bekalnya. Ini bukan pertama kalinya. Tapi untuk pertama kalinya Chan nampak ragu untuk mengambil payung itu.

Meski akhirnya Chan mengambil payung itu dan menggunakannya. Aku merasa ada sesuatu yang mulai berubah darinya. Wajahnya sedikit lebih bersinar. Ia nampak lebih menerima kondisi yang tidak ia mengerti selama ini. Dan itu sedikit banyak telah mengganggu pikiranku. Chan… apakah kau telah siap meletakkan masa lalumu dan memulai cerita baru?

Hujan turun dengan deras. Saat itu aku berdiri tepat di belakangnya ketika ia berdiri mematung di depan sebuah kotak pos. Tiba-tiba ia mengusap air mata yang mengalir deras tidak seperti biasanya. Ingin sekali aku menggapainya, memeluknya, dan mengatakan semuanya. Tapi aku tahu saat itu belum waktunya. Dan jika aku tetap memaksakan keinginanku. Itu akan membahayakan dirinya.

Ketika Chan telah masuk ke tangga kereta bawah tanah. Aku masih berdiri di sana. Aku juga menangis. Hari itu aku tidak pulang bersama Chan. Aku menghabiskan soreku di Nagoya. Sambil terus bertanya, apakah yang kulakukan adalah benar? Apakah ini akan membuat Chan tersiksa? Apakah aku harus menghentikannya? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Hingga waktu maghrib tiba. Aku mendatangi salah satu masjid di Nagoya. Sholat di sana dan setelah salam aku menyandarkan badanku ke belakang untuk berbaring di atas karpet yang empuk sambil meraih-raih sesuatu yang bisa kugunakan sebagai banta.

***

Lihat selengkapnya