RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #28

Dengan cinta yang masih sama

Lima jam perjalanan dari Waseda menuju Yamagata terasa panjang. Aku dan Sunset duduk di kursi dengan lajur dan baris yang berbeda. Minibus ini terdiri dari dua lajur kursi yang masing-masing berada di dekat jendela, memberikan ruang untuk sirkulasi di tengah. Aku duduk di kursi nomor 15 dekat jendela, dan Sunset duduk di kursi 16 di seberangku. Jika ada hal yang harus kami diskusikan, kami akan saling bergeser, duduk di ujung dan saling mencondongkan badan.

Kendaraan kami berhenti di Fukushima untuk memberikan waktu istirahat kepada driver. Selain itu, laporan cuaca yang buruk membuat kami harus menunggu beberapa saat di sana. Aku dan Sunset duduk di salah satu meja yang ada di kafe tempat pemberhentian kami.

“Nagoya? Universitas Nagoya?” Aku terkejut. Aku kira profesinya adalah perawat dan dia bekerja sebagai petugas kesehatan. Aku dan Sunset mengisi waktu dengan ngobrol banyak hal, termasuk aktivitas sehari-hari kami. Kami tidak lagi menggunakan istilah Anda dan saya.

“Maksudmu… sebagai petugas kesehatan di kampus itu atau…” Ia tertawa.

“Enak aja… aku ini peneliti,” jawabnya. Aku lebih terkejut lagi. Aku memang sering melihat beberapa pekerja migran berkumpul di Tokyo; ada yang berhijab, ada yang bercadar. Tapi aku tidak menyangka kalau wanita bercadar ini menjadi peneliti.

“Mahasiswa?” Ia menggeleng.

“Kau bisa periksa profil akademikku… eh… nanti jadi ketahuan nama aslinya.” Mendadak wanita itu ragu.

“Aaa….” Aku melirik curiga ke arahnya. Lalu aku ingat tentang Profesor Bening yang juga ada di Nagoya. Karyanya telah banyak kusitasi dan menjadi sumber kerangka teoriku.

“Baiklah, jika aku belum bisa melihat profil akademikmu, apakah kau mengenal seorang bernama Profesor Bening?” tanyaku. Ia terdiam sejenak. Memandangku lalu tersenyum.

“Ya, tentu saja… dia orang yang agak keras kepala,” ia mengatakan itu sambil memainkan cangkir kopi. Sepertinya ada hal personal antara dia dan Profesor Bening. Aku tersenyum.

“Hmmm…. jadi kau pernah bekerja bersama beliau? Apa kau tahu mengapa tidak ada lagi publikasi darinya selama dua tahun ke belakang ini?” tanyaku. Ia diam sejenak. Menghela napas lalu memasukkan cangkir itu ke balik cadarnya, meminum sisa kopinya hingga habis. Aku masih menunggu.

“Saat ini ia sedang melakukan sebuah penelitian besar… seperti yang kubilang, ia keras kepala, perfeksionis dan… ingin melakukan semuanya sendiri,” ucapnya. Aku mengangguk.

“Aku pernah membaca penelitiannya. Beliau melihat amnesia bukan hanya sebagai kumpulan sel. Aku melihat satu hipotesis itu saja sudah memiliki banyak turunan penelitian. Tentang memori… emosi… hingga hal-hal yang lebih… bersifat spiritual,” lanjutku.

“Jika aku punya kesempatan berkolaborasi dengannya, aku akan mengajukan satu hipotesis bahwa manusia menyimpan kenangannya tidak hanya di dalam otaknya. Maksudku, jika ada istilah muscle memori…”, aku diam sejenak.

“Bisa jadi penelitian itu akan menyingkap adanya istilah custom memori… itu pun bisa individu maupun kolektif.” Aku melihat Sunset nampak tidak terlalu tertarik.

“Kau masih suka membuat istilah sendiri.”

“Maksudmu?”

Lihat selengkapnya