RESE〒

Erik Armayuda
Chapter #29

Dengan hidup yang lebih baik

“Kenapa kau tidak mengembalikannya sendiri padanya?” Sunset memarahiku lewat pesan singkat. Aku tidak bisa menjawabnya. Semalam aku hanya berpikir untuk segera melepas buku itu. Karena mungkin jika aku memang lebih lama lagi, aku akan membukanya dan membacanya. Tidak boleh. Aku harus punya batasan. Aku harus menghargai privasi Chan.

Ketika waktu subuh, aku berjamaah dengan relawan Muslim lainnya di gedung olahraga. Seperti biasa, setelah salat aku berbaring ke belakang sambil beraba-raba sesuatu yang bisa kujadikan bantal. Sepanjang malam aku berdoa agar diberikan petunjuk. Aku terus memikirkan perkataan Seno. ‘Membangun rumah adalah tentang dedikasi dan ketulusan.’

Selama ini aku mengira bahwa perjuanganku adalah tentang membawa Chan kembali ke rumah lama. Rumah yang pernah kami bangun bersama. Tapi bagaimana jika di kehidupannya yang sekarang, ia lebih membutuhkan rumah baru yang bisa lebih memahami kondisinya dengan cara yang berbeda dari yang pernah kupahami?

Bagaimana jika perjuangan sesungguhnya bukanlah tentang membawanya pulang? Tapi membangun rumah yang baru, bahkan jika aku tahu ia tidak akan pernah memilih rumah itu.

“Tapi bagaimana dengan rumah yang sudah dibangun? Apakah ia harus ditinggalkan begitu saja?” Aku mengingat diskusiku dengan Seno semalam.

“Ya, biarkan saja dia di sana. Karena setidaknya itu akan menjadi penanda. Satu titik di dunia yang luas ini. Bahwa di titik itu, di mana rumah itu berada, sebuah cerita pernah ada. Mungkin orang-orang akan lupa. Hanya kita yang masih menjaga kenangan di sana. Tapi itu tidak masalah. Karena yang terpenting bukan rumahnya. Tapi orang yang bertumbuh dengannya. Seperti burung dan sarangnya.”

Aku yakin 100 persen Seno tidak mengetahui kondisiku. Tapi semua yang ia katakan entah bagaimana sangat menggambarkan kondisiku. Itu membuatku harus memikirkan kembali upayaku selama dua tahun terakhir. Bagaimana aku bisa tahu apakah ini hanya ujian keraguan yang harus kulewati? Ataukah tanda bahwa aku harus berhenti?

Saat memikirkan hal itu, tanpa sadar aku tertidur. Aku terbangun ketika hari sedikit terang. Tidak ada siapa pun di gedung itu, tapi aku melihat pintunya sedikit terbuka. Jadi aku mendekat ke mesin pemanas ruangan dan duduk di kursi yang ada di sana.

Aku terkejut karena di meja itu ada sebuah buku yang malam tadi kuserahkan kepada Seno. Kini ada di hadapanku. Aku terpaku lama memandang buku itu. Aku bahkan mengusap mataku dan meyakinkan bahwa ini bukan mimpi. Apakah ini tanda yang aku minta sepanjang malam tadi? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun di sana. Lalu bagaimana buku ini bisa ada di sini?

Perlahan aku mengambilnya. Lalu melemparnya kembali, dan seketika buku itu terbuka di satu halaman, di mana aku bisa membaca beberapa kata: lelaki, kamera, tidak ingin tertahan. Lalu udara dari pemanas ruangan menyibakkan halamannya, membuatku bisa membaca kata lainnya. Bangku taman, melanjutkan hidup. Lalu halaman itu berbalik lagi, tertiup angin dari pemanas ruangan. Mitsuki, dan di bawahnya. Membangun rumah baru.

Aku masih syok dengan kata-kata yang kubaca sekilas, lalu mencoba merangkai keadaan ketika tiba-tiba suara wanita yang sangat kukenal itu berteriak ke arahku.

“Apa yang Anda lakukan?” Aku menoleh kebingungan.

“Anda tidak bisa membaca catatan orang begitu saja!” Chan melanjutkan.

“Apa Anda membacanya?” ia sedikit berteriak. Nampak beberapa relawan yang mulai masuk ke sana menoleh ke arah kami.

“Apa Anda membacanya?” ia berteriak lagi. Aku, di tengah kebingunganku atas semua teka-teki itu. Mengangguk gamang karena aku memang membacanya, meski aku tidak pernah membukanya.

“Saya benci orang seperti Anda!” Chan menghentakkan tangannya di meja. Menutup bukunya lalu pergi dengan marah. Seno yang baru saja masuk membawa logistik nampak kebingungan. Ia menghampiriku. Aku mencoba menjelaskan kalau buku itu tanpa sengaja terbuka dan angin dari mesin pemanas membuat halamannya berbalik.

“Tapi apakah kau membacanya?” tanya Seno. Sekali lagi aku mengangguk.

“Hmm… kau tidak seharusnya melakukan itu, Bro… kupikir sebaiknya kau meminta maaf,” lanjut Seno. Ia benar. Tapi semua kejadian ini berjalan begitu cepat. Beberapa waktu lalu Chan memukulku dengan keras. Tapi entah mengapa kalimat terakhirnya itu lebih menyakitkan daripada pukulan itu.

“Tenanglah… aku akan bicara padanya,” kata Seno sambil berusaha menenangkanku. Seno nampak mengejar Chan ke luar. Aku masih bisa melihat mereka dari jendela kaca. Aku melangkah mendekati jendela itu. Samar-samar aku mendengar suara mereka.

“Ana!” teriak seno.

Lihat selengkapnya