Di sebuah fasilitas penelitian, di sebuah laboratorium. Tampak seorang wanita berkerudung memasuki ruangan sambil mengamati sebuah papan laporan. Tak jauh darinya, seorang lelaki dengan rambut panjang tengah mencampur beberapa larutan berwarna ke dalam tabung reaksi. Di belakang mereka tertata rapi tabung-tabung kaca seukuran kaleng soft drink, dengan berbagai jenis dan bentuk daun di dalamnya.
“Hari sudah malam, beristirahatlah,” kata wanita itu sambil mengambil salah satu daun yang ada di lemari kaca tadi. Di seragamnya menggantung kartu ID dengan nama Rahmania Setya.
“Istirahatlah…,” kata wanita itu lagi. Lelaki yang ia ajak bicara tidak bergeming dan masih fokus pada penelitiannya. Lelaki dengan kacamata pelindung itu tengah serius menuang larutan dan mengaduk-aduknya. Jambangnya belum dicukur dan wajahnya nampak lelah. Ia mengenakan seragam yang sama dengan wanita itu dengan sebuah kartu Id menggantung yang bertuliskan nama Yuuji Bening. Seubah nama yang tidak pernah ia tahu akan ia cari dari orang lain. Ada sesuatu yang berkilauan di tangan kedua orang tersebut. Sebuah cincin dengan ukiran daun yang terbelah separuh menghiasi jari manis kedua orang itu.
“Benign… kau bahkan belum sarapan”
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Setelah formula ini stabil.”
“Kalau kau pingsan sebelum formulanya stabil?” Bening terdiam. Ia menghentikan aktivitasnya dan melepas kacamata pelindung sambil menarik napas.
“Sudah tidak ada waktu lagi untuk beristirahat. Waktunya semakin sempit; jika aku tidak bisa menemukan formulanya, aku tidak akan bisa menepati janjiku padanya,” kata lelaki itu, sedikit bergetar.
“Istirahatlah dulu, sebentar lagi Kai akan menggantikanmu. Mungkin dengan mata yang lebih tajam kita akan lebih mudah menyempurnakan formula kita,” kata wanita itu.
“Baiklah,” kata lelaki itu sambil membuka pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Tak lama setelah itu, seorang lelaki berseragam dengan rambut berwarna merah memasuki ruangan dengan membawa sekantung keripik dan sebuah kotak yang diserahkan kepada Nia.
“Terima kasih, Kai…” kata Nia sambil menerima bingkisan itu. Lelaki itu kemudian duduk sambil mengamati komputer yang ada di mejanya. Nia hanya memandangi lelaki itu sambil berkata dengan risih.
“Kenapa kau suka sekali menggigit-gigit tusuk gigi itu? Tidak higienis, tahu!” katanya mengkritik lelaki itu yang suka memainkan tusuk gigi di mulutnya itu. Lelaki itu hanya diam.
***
“Apa kau gila?” Formula itu masih belum diuji. Teriak Nia pada Bening.