Wanita mana yang tidak panik jika mendapat kabar jika suaminya yang jauh disana sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Saat menerima telepon tadi Kaira baru saja selesai melakukan konsultasi dengan keluarga pasien. Niat hati ingin minum malah dapat telpon dari nomor tidak dikenal.
Kaira sempat tidak percaya tadi, dia juga takut jika ternyata itu modus penipuan. Banyak bertebaran di internet tentang berita yang satu itu. Tapi ternyata rasa takutnya tidak sebanding dengan ketakutannya berita sakitnya Fariz itu benar adanya.
Kaki Kaira sampai seperti jelly saking lemasnya.
"Dok ... sampean kenapa?" Suster Tere bertanya. Wanita paruh baya itu ikut berjongkok, memegang bahu Kaira dengan raut wajah khawatir.
Kaira yang masih lemas dan tubuhnya juga bergetar hanya diam. Dia masih berusaha mengontrol dirinya. Seumur hidup dia belum pernah sepanik ini mendengar atau menangani orang sakit.
"Dok ... ayo bangun dulu. Kita duduk di dalam dulu." Yang Suster Tere maksud dalam itu ruangan khusus pegawai.
"Sus tolong siapkan brankar buat di bawa ke depan, ada—" ucapan Kaira tercekat dengan tangis. Tanpa dikomando Suster Tere langsung mendekap tubuh Kaira.
"Tenang dulu dok, kuasai diri sampean dulu ..." kata suster Tere sembari mengusap-usap punggung Kaira. Setelah dirasa Kaira mulai tenang dia baru bertanya lagi. "Kerabat dokter Ara ada yang sakit dan sudah dalam perjalanan kemari?" tanya suster Tere menebak.
"Suami saya sus, dia demam tinggi. Tapi tadi sudah minum panadol. Kayaknya lambungnya juga bermasalah, dia—" belum sempat Kaira melanjutkan ucapannya mobil Fariz sudah terlihat. Di Depan pintu IGD kartu Sinyo sudah siaga.
"Dokter Ara tenang dulu. Suami sampean bisa di pegang dokter Boy." Suster Tere memapah Kaira untuk bangun dan berjalan mendekati Fariz. Fariz yang tak sadarkan diri diangkat ke brankar hingga memasuki ruang IGD semua nampak jelas dipandangan Kaira.
Kaira yang tidak siap melihat itu hingga nyaris terhuyung ke belakang. Untung suster Tere masih merangkulnya.
Dipapah Suster Tare Kaira mendekat. Wajah pucat Fariz yang layaknya mayat hidup membuat tangis Kaira semakin deras lagi. Dokter Boy yang baru datang sempat melirik Kaira dengan bingung sebentar, lalu balik pada si pasien.
"Kenapa ini sus?"
"Demam dok, tadi sudah sempat diberi paracetamol—"
"Sekitar lima belas menit yang lalu." Kaira memotong.
"Dugaan dokter Ara asam lambung juga dok—"