Resep Cinta Dalam Doa

Sebelum Fajar
Chapter #24

Pada Akhirnya

Mana ada orang sakit minta pecel lontong malam-malam?

Ada, Fariz orangnya, Pak Manut sampai putar-putar kotak semarang. Dari Simpang Lima, Jalan Pandanaran, Gajah Mungkur, Sampangan sampai Banyumanik. Tidak dapat, mana ada jual pecel lontong di jam sepuluh malam.

Akhirnya ganti sate ayam. Tapi sudah dibelikan justru pilih makan bekal Kaira. Sudah begitu mintanya disuapin pula. Kok ngelunjak.

"Lah sate ayamnya mas?"

"Buang saja!" jawab Fariz enteng.

Kaira sampai melongo-baru tahu jika Fariz bisa semenyabalkan ini. "Ara makan satenya aja ya? Mas makan bekalnya Ara." Fariz justru menatap Kaira tajam. "Ya sudah kita tetep makan bekal ini sama-sama. Tapi Ara juga makan satenya gimana. Mubazir Mas kalau gak dimakan."

"Tapi saya mual sama baunya. Menyengat sekali."

"Terus itu satenya gimana dong?" tanya Kaira sambil melirik satu porsi sate kambing di atas meja-dibungkus plastik rapat. Kata Fariz yang rapat biar baunya tidak keluar.

"Itu kurang kencang nutupnya Ara. Baunya masih sampai sini," itu kata Fariz tadi ketika Kaira tengah menali kantong plastik berisi sate. "Tapi ini sudah di plastikin sampai tiga rangkap loh mas." Kaira menjawab. "Ya sudah taruh yang jauh aja sana!" jadilah diletakkan di atas kursi dekat kaki Fariz.

"Kasih orang saja lah. Pusing saya sama baunya."

Kaira memutar bola matanya malas. "Semua kan sudah dapat bagiannya Mas. Lagi pada makan juga tu di ruang pegawai."

"Kasih pak Manut, biar dikasihin anak istrinya."

Kaira tidak menjawab, dia justru menyodorkan satu suap nasi beserta lauknya. Ayam krispi dan cah kangkung. Rasanya Kaira ingin menjejalkan semua makanan ini langsung ke mulut Fariz. Demi Tuhan, pria Kutub Utara mode gurun pasir ternyata menyebalkan. Cerewet sekali.

"Kapan saya pindah ke kamar rawat? Disini tidak enak, brangkarnya keras."

"Nanti, lagi disiapkan sama perawat ruangan nya."

Kemudian mereka sama-sama diam. Fariz sibuk memperhatikan wajah Kaira, sedangkan Kaira subuk menyuapi dirinya dan juga Fariz sampai tidak sadar tengah diperhatikan. "Kamu sebegitu takutnya saya kenapa-kenapa?" Fariz bertanya tiba-tiba, tatapan masih tertuju pada Kaira.

Lihat selengkapnya