Kaira sampai rumah sakit Fariz tidak sadarkan diri. Kata Karu Sinyo hanya tidur. Tapi ini terlalu nyenyak untuk ukuran Fariz yang mudah terjaga. Sampai Kaira genggam tangan nya kencang-kencang sekalipun tetap tidak terbangun.
"Sama dokter Boy dikasih Diazepam tadi dok. Kayaknya suami sampean lagi kebanyakan pikiran deh dok. Jadi tidurnya gak berkualitas. Kaya ketakutan juga," ujar Karu Sinyo.
Kaira genggam tangan Fariz lagi. Melihat wajah Fariz yang damai dalam tidurnya membuat hati Kaira semakin teriris pilu. "Mama mertua saya baru aja meninggal, Papa sekarang belum benar-benar pulih dari kecelakaan itu. Baru dua minggu. Beliau ini anak tunggal ..."
Karu sinyo tidak bisa berkata-kata. Mulutnya mendadak kelu. "Dia kehilangan banget, yang dia lakuin buat mengalihkan semua itu ya cuma kerja, kerja dan kerja." Kaira menatap wajah Fariz lebih dulu lalu menatap Karu Sinyo yang berdiri di sampingnya, sedangkan Kaira duduk dibangku sebelah brankar.
"Makasih ya Karu Sinyo sudah jagain suami saya sewaktu saya gak ada. Nanti saya tanya sendiri ke dokter Boy soal kondisi suami saya. Saya jadi gak enak sama sampeyan."
"Gak usah pakai sungkan segala dok, kita ini keluarga. Dokter yang sabar ya, dokter kuat suami dokter Ara juga gitu. Beliau cuma butuh dukungan sampeyan. Perlindungan sama penguat yang nunjukin ke dia kehilangan ibu bukan berarti kehilangan segalanya. Beliau sudah punya sampean yang selalu ada buat dampingi."
"Makasih banyak Karu Sinyo. Hari ini sampean dan yang lain sudah bantu saya banyak banget. Terima kasih." Ujar Kaira tulus, dia sungguhan. Jika tidak ada mereka—rekan-rekannya di sisinya tadi dan saat ini Kaira tidak tahu bagaimana nasib dirinya. Semua yang terjadi melemaskan otot-ototnya, menghilangkan fokusnya dan memporak porandakan hatinya.
Karu Sinyo hanya mampu menjawab jika semua bukan masalah berat untuknya sebelum akhirnya pamit pergi. Tinggalah Kaira dan Fariz yang masih memejamkan matanya rapat-rapat.
***
Fariz dipindahkan di ruang perawatan 30 menit lebih lambat dari yang dijadwalkan. Di jam sebelas malam. Di kamar perawatan terbaik di Saida Hospital. Kamar yang Fariz tempati ini mungkin tak sebagus kamar-kamar utama di RS Umum Swasta atau bahkan Negeri sekalipun di luaran sana.
Yang mereka sediakan ala kadarnya seperti ruang kamar yang luas, toilet yang nyaman, televisi, lemari dan kulkas mini. Ada sofa juga di dekat pintu masuk tapi hanya muat untuk tiga orang. Maklum rumah sakit khusus Jiwa, yang mereka unggul kan perawatan khusus jiwa. Jika pasien umum seperti Fariz ini ya hanya ala kadarnya seperti inilah yang mereka berikan meski katanya ini sudah kamar nomor satu di ruang perawatan umum.