"Ternyata punya istri tu enak juga ya?" Itu kata Fariz setelah lima hari merasakan dirawat Kaira dengan sepenuh hati. Layaknya Malika, kedelai hitam yang dirawat seperti anak sendiri.
Meski tetap saja ada bumbu-bumbu "kesal" saat Kaira manja dan banyak maunya. Tapi rasa syukur itu jauh lebih mendominasi.
"Tak masalah, masih sebanding lah. Hitung-hitung bayar jasa rawat gratis," kata hatinya lagi.
Bohong jika Fariz sesabar itu. Tetap ada mengeluhnya meski hanya sekedar helaan napas berat diiringi wajah masam dan kesal.
Seperti saat ini contohnya. Mereka adu argumen perkara rumah mana yang mereka singgahi selepas dari rumah sakit ini. Rumah Albi atau Bian. Karena Kaira menolak mentah-mentah ketika Fariz mengajak pulang Apartemen saja.
Alasanya, "kalau pulang ke rumah papa itu sama aja kita pulang apartment. Ara gak mau. Mas tu sembuh juga baru, sudah mau kerja rodi lagi. Dikira itu badan robot. Robot aja butuh istirahat," bantah Kaira tak terbantahkan ketika Fariz merekomendasikan rumah Bian saja yang jadi tempat persinggahan mereka.
Memang itu maksud Fariz. Jika di rumah Albi, sudah pasti tidak bisa bebas bekerja. Apalagi sekarang ini tangannya sudah gatal, badan juga pegal-pegal—sudah ingin bekerja.
"Saya gak enak sama Abi kamu Kaira. Katanya waktu itu kamu mau tinggal sama papa buat sementara kan? Hitung-hitung nemenin papa biar gak kesepian."
"Itu kemarin, sekarang sudah enggak lagi," bantah Kaira.
"Kenapa?"
"Ya karena kemarin mas nolak lah. Pakai tanya segala." Jawab Kaira sewot. Nada suaranya memang tenang dan pelan. Tapi nyatanya cukup mampu membuat Fariz menelan ludah susah payah.
Mereka lenggang cukup lama. Kaira duduk bersedekap di pinggiran ranjang dengan kaki yang disilangkan, sedangkan Fariz di sofa, posisinya sama—mereka saling berhadapan.
"Kalau semalam mau?" tawar Fariz pada akhirnya.
Kaira menoleh. "Satu minggu."