Resep Cinta Dalam Doa

Sebelum Fajar
Chapter #34

Hari Yang Sibuk

Hari yang sibu dan melelahkan.

Besok harinya, Fariz melakukan pemeriksaan tentang kondisi mentalnya ke Saida Hospital. Rencana sebelumnya memang seperti itu. Kaira bahkan sudah mendaftarkan Fariz untuk konsultasi dengan dokter spesialis jiwa di jam satu siang—lepas dari KUA.

Tapi karena kondisi semalam jadwal ditukar. Periksa dulu baru ke KUA. Jadi jadwal temu dengan dokter spesialis dimajukan jadi pukul sembilan pagi.

Tidak tanggung-tanggung setelah menyaksikan sendiri bagaimana kondisi Fariz, berkat posisinya sebagai salah satu dokter di Rumah Sakit itu, juga kenal dekat dengan keluarga pemilik Rumah Sakit. Jadilah Kaira meminta bantuan pada dokter Timo, ayah kandung dari dokter Kian untuk sang penguasa Saida Hospital itu sendiri yang menangani suaminya.

"Gak masalah Kaira, kayak sama siapa wae," kata dokter Timo ketika berulang kali Kaira mengatakan maaf dan terimakasih. Jadwal praktek dokter Timo jam sebelas siang, harus terpaksa maju demi Kaira yang menghubungi pria tua itu langsung.

Pemeriksaan Fariz sudah selesai dilakukan, ada sesi konsultasi yang dimana hanya si pasien dan juga dokter saja yang tahu. Saat ini giliran Kaira yang berbicara dengan dokter Timo mengenai kondisi Fariz, sedangkan pria itu tengah duduk di kuris tunggu depan ruang praktek dokter Timo, kepalanya disandarkan dengan kepala yang sedikit mendongak dan mata terpejam.

"Belum mau cerita banyak Kaira. Kamu bisa mulai bangun kepercayaan suamimu ndok. Rasa percaya ke orang lain tipis sekali soalnya. Kelihatanya suamimu malah lebih ke belum benar-benar siap buat pengobatan ini ya?"

Kaira menghela napas panjang. "Beliau memang minim kepercayaan dok—"

"Panggil saya Pakde Kaira, kamu sudah mau resign," potong dokter Timo lalu mendengus masa. Dia tidak suka mendengar laporan resign nya Kaira, sama seperti tidak sukanya dia metika dipanggil dokter oleh orang terdekat atau diluar jam praktiknya. Terkhusus Kaira sih lebih karena hampir jadi menantu tapi gagal total.

"Njih pakde," ujar Kaira masih sungkan. Senyum merekah timbul di sudut bibir dokter Timo. "Saya juga kurang tahu apa penyebabnya sebenarnya pakde. Yang saya tahu, beliau ditinggal orang tersayang berulang kali. Yang terakhir ibunya dan hampir kehilangan ayahnya juga. Tingkat kepercayaan nya sampai gak percaya Tuhan."

"Sudah pernah menyinggung? Setidaknya sedikit?"

Lihat selengkapnya