Resep Cinta Dalam Doa

Sebelum Fajar
Chapter #35

Paniknya Fariz

Sekuat-kuatnya manusia pasti ada masa lelah dan tumbangnya juga.

Kalimat itu yang paling cocok untuk menggambarkan sosok Kaira. Di tengah kegiatannya yang padat merayap-rayap selama hampir dua bulan ini akhirnya dia tumbang juga—jatuh sakit.

Badan meriang, panas dingin, lemas dan hidung mampet. Padahal sudah minum obat, tapi bersin itu tak kunjung reda juga hingga hidungnya semerah cery.

Jangan tanya bagaimana dengan Fariz, si manusia sehat jasmani tapi tidak dengan rohaninya itu sudah panik bukan kepalang. Sejak tadi hanya hilir mudik. Cari ini, cari itu, padahal mencarinya juga di rumah yang ia tinggali dari dia masih jadi jabang bayi hingga hampir bau tanah.

Kadang yang dicari juga hanya satu barang, tapi carinya bisa sampai 30 menit lebih. Banyakan bingung sama ngocehnya. Tingkahnya itu loh ada-ada saja, sampai Bian dan Kaira geleng-geleng kepala saking jengahnya.

Seperti saat mencari baskom untuk kompres. Selama lima belas menit pria itu hanya berputar dan mondar mandir di dapur. Tidak pakai buka pintu lemari atau apapun tapi ngocehnya tidak tertahankan. Bian yang sudah muak jadi acuh tak acuh membiarkan putranya itu berbuat sesuka hatinya.

"Pa mangkuk besar yang gedenya segini—" dia memperagakan besarnya ukuran dengan tangan, "Itu dimana sih Pa? Simpen barang kok gak bener."

"La kamu carinya dimana?"

"Ya di dapur lah Pa. Emangnya mangkok makan tempatnya dimana lagi kalau bukan di dapur." Nah kan, tanya tapi giliran di respon justru "nyolot". Itulah Fariz.

"Ya kalau di dapur harusnya ada. Makanya kamu tu cari barang pake mata bukan pake mulut."

Fariz mendengus kesal, menatap Bian dengan garang. Pria tua itu sedang menyantap sup ayam di atas meja makam, tapak tenang tanpa beban.

Fariz menghela napas lagi, wajahnya terlihat sekali kesalnya. "Papa ini gimana sih. Menantu kesayangan Papa tu lagi sakit loh, sakitnya parah banget. Badannya panas. Kok bisa-bisanya malah makan—"

"Papa laper ya makan lah, lagian juga kan ada kamu suaminya. Apa guna kamu itu kalau masalah kaya gitu aja Papa yang urus. Entar kamu cemburu kalau Papa yang urusin istrimu."

Benar juga, tapi mana mau dia mengakui—gengsi. "Ariz itu pria anti cemburuan pa ..." katanya. "Lagian Bude Nim kenapa sih pake cuti segala, kalau gini kan susah. Perawat itu ngapain juga diberhentikan sih Pa? Harusnya kan kaya gini dia bisa batu urus istri Ariz. Payah bener. Mana gak bilang dulu ke Ariz lagi. Dia itu kerja sama Ariz bukan sama Papa."

Lihat selengkapnya