Pengajuan surat pengunduran diri Kaira disetujui tepat setelah dua hari Kaira izin sakit. Pihak rumah sakit menemukan penggantinya dengan cepat, alhasil cepat juga dia dibebastugaskan tugaskan. Alhamdulillah, tidak harus menunggu waktu hingga satu bulan ternyata.
Pagi ini dia datang ke rumah sakit untuk sekedar berpamitan dengan rekan kerjanya. Peluk hangat serta tangis sebagai menu utama perpisahan ini. Yang cukup mengejutkan justru respon dokter Kian. Dokter sepisialis penyakit dalam itu baru juga datang, belum duduk, mendengar berita itu dari partner perawatnya, langsung di lempar tas kerjanya ke atas brankar ruang prakteknya.
Tergopoh-gopoh dia menghampiri Kaira. Membuka pintu ruang khusus karyawan di IGD—mengagetkan Kaira yang sedang mengemas barang-barang yang semula sengaja di tinggal untuk dibawa pulang kembali. Kaira reflek balik badan, dia menatap dokter Kian yang tengah berdiri di ambang pintu, satu tanganya memegang kusen pintu.
"Ara kamu yakin mau berhenti kerja? Kenapa? Suamimu gak kasih izin?" serang dokter Kian. Napasnya tersengal-sengal hingga pelafalannya tidak jelas.
Kaira justru bergeming, selang lima detik ia baru menarik sudut bibirnya, menatap dokter Kian dengan lembut dan ramah. "Kenapa diantara semua orang cuma aku yang gak tau Ara? Mama saja tau, tapi gak ada yang ngasih tau. Kamu juga." dokter Kian kembali berujar, nada suaranya terdengar putus asa.
"Maaf dokter ..." jawab Kaira penuh penyesalan, sudut bibirnya dia melengkungkan ke bawah dengan kepala yang sedikit menunduk—tidak enak hati.
Dokter Kian justru terkekeh getir, dia mendongak sesaat lalu kembali menatap Kaira dalam. "Bahkan sampai detik inipun kamu masih memanggilku seperti itu ..." Kaira masih bergeming, kepalanya semakin menunduk sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. "Ternyata cinta sendiri itu semenyakitkan ini ya Kaira?" bagaimana tidak syok Kaira mendengar pernyataan cinta dadakan itu. Dia tatap dokter Kian dengan penuh tanya. "Kamu gak salah dengar Kaira, saya cinta sama kamu dari satu tahun lalu."
"Dok—"
Dokter Kian terkekeh getir lagi, dia mengusap wajahnya kasar lalu buang muka sekilas. "Jangan dipikirkan. Ini memang salah saya yang terlalu bodoh menunda-nunda waktu. Andai saya lebih cepat pasti semua tidak akan jadi seperti ini kan Kaira?"
Kaira tidak bisa menjawab bibirnya kelu.
Dokter Kian berujar lagi. "It's okay, semua cuma perkara jodoh. Bukan jodoh ya saya bisa apa kan?"
"Dokter gak marah lagi?" tanya Kaira.