“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.
“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.
Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulutnya kosong, Bu Amara mengambil sesuap lagi. Setelah menghabiskan sendok ketiga, ia menepuk bibir merahnya dengan serbet.
Di bawah lampu temaram restoran Italia itu, Bu Amara terlihat lebih garang dari biasanya. Rambutnya yang disanggul ketat. Kacamata berbentuk tanduk yang bertengger di hidung. Bibir merah bergincu.
“Miri. Duduklah di samping saya,” panggilnya, menunjuk kursi kosong di hadapannya.
“Maaf, Tante, saya masih di jam kerja–”
Ada getaran mengalir sepanjang punggung Miri sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya. Tatapan Bu Amara berubah tajam. Ia tampak seperti serigala betina yang siap menerkam.
“Duduk,” perintah Bu Amara.
Miri menghela napas, lalu menarik kursi. Ketika ia duduk, Bu Amara memperbaiki postur tubuhnya. Seorang dari golongan elit yang tak lelah menjaga etika, apalagi ketika menghadapi rakyat jelata seperti Miri.
“Bagaimana tiramisunya, Tante? Enak?” tanya Miri, mencoba memecah keheningan.
“Oh? Ini? Enak, kok,” jawab Bu Amara dengan nada datar.
Komentar yang dingin dari sang serigala membuat telapak tangan Miri berkeringat. Ia mencoba mengeringkan tangannya pada celemek yang melingkari pinggang. Namun, upayanya tak membuahkan hasil.
Apakah hidangan penutup itu memuaskan lidahnya? Apakah Bu Amara mengharapkan sajian lain? Bagaimana jika dia berharap Miri membawakan sepiring pasta? Kepala Miri terus berputar.
“Ini … juga favoritnya Baskara, Tante. Setiap kali ia mampir, pasti memesan sepiring tiramisu,” tambah Miri.
Strateginya menggunakan nama putra semata wayang Keluarga Wibowo berhasil. Mata Bu Amara berkilat, seakan sedang memanggil kehidupan kembali. Permata manapun tak akan sanggup membanggakan hatinya seperti Baskara, sang putra tersayang.
Namun, Miri luput menyadari keangkuhan yang menghiasi bibir berkerut Bu Amara. Boleh saja Miri telah memeluk hati Baskara selama 10 tahun terakhir. Selama janur kuning belum melengkung, Bu Amara masih memegang kendali masa depan putranya.
“Tentu saja dia suka tiramisu. Pembantu kami biasa membuatkannya di rumah,” ucap Bu Amara angkuh.