Resep Cinta Miri

Mozze Satrio
Chapter #2

Bab 2. Kita Usahakan Restu Itu

“Terus? Kamu ambil amplopnya?”

Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?

“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.

“Ssst–”

Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah gugup. Seorang ibu muda yang sedang menunggu petugas binatu menghantarkan paket cuciannya melirik ke arah Miri dan Jihan.

Miri tak peduli. Ia masih berang setiap kali mengingat wajah Bu Amara yang memandangnya dengan tatapan mencemooh. Belum lagi amplop coklat yang ia lempar kembali padanya.

“Gue! Benci! Banget! Si Serigala Betina itu! Kenapa dia harus jadi calon mertua gue, sih?!” gumam Miri dengan gigi rapat.

Jihan mengangkat bahu. Di meja konter binatu, petugas lain akhirnya kembali. Ia membawa setumpuk pakaian bersih dalam bungkus plastik, pesanan Miri beberapa hari lalu.

Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar sejumlah uang, kedua sahabat itu pergi meninggalkan toko. Mereka berjalan beriringan di Minggu pagi yang cerah. Sepanjang langkah mereka kembali ke apartemen Miri, pembicaraan terus berlanjut.

 “Tapi lima puluh juta tuh bisa jadi modal awal buat kamu buka toko kue, Mir. Itu juga salah satu impianmu, kan?” sambung Jihan.

“Aku juga berpikiran sama, Jihan. Pikiran itu terlintas waktu aku memegang amplop tebal itu,” balas Miri, membuang napas panjang.

Miri mengangkat tangan ke Jihan, memperlihatkan ibu jari dan telunjuknya yang nyaris menempel. Jihan yang sedang mengunyah sebatang Pocky cokelat, hanya dapat mengangkat alis.

“Tebal amplop itu lima senti, Jihan. Lima senti! Steak di tempat kerja kita aja nggak setebal itu!” seru Miri.

“Terus? Baskara udah tahu belum?”

Pertanyaan itu membuat Miri mengatupkan bibir. Ia menggeleng. Ini bukan pertama kalinya Bu Amara memprovokasi Miri dengan iming-iming sejumlah uang. Baskara pun tahu itu.

Namun, Miri tak tega membebani pikiran Baskara dengan kelakuan ibunya. Berapa kali pun Miri mengomel, Baskara akan bertengkar dengan ibunya. Miri benci itu. Miri benci menjadi penyebab retaknya hubungan ibu dan anak sebuah keluarga.

“Si serigala itu memang nggak suka lihat aku dan Baskara bahagia,” keluh Miri, memeluk erat bungkusan baju binatu.

Lihat selengkapnya