“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.
“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.
Terakhir kali Miri melihat kekasihnya segusar itu adalah di tahun-tahun terakhir perkuliahan mereka. Baskara yang berjaga sepanjang malam menyusun skripsi, menatap layar dengan mata merah. Bila Miri tak sesekali singgah untuk mengantar makanan, bisa jadi Baskara sudah masuk rumah sakit.
Di akhir makan malam itu, rahang Baskara mengencang. Sepanjang perjalanan mengantar Miri pulang, ia menggenggam setir kuat-kuat. Miri tak berani mengusiknya. Siapapun akan naik pitam ketika mendengar ibunya berkata ‘Mama yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik’ di hadapan pacar sendiri.
“Aku sudah terbiasa menjadi bahan gunjingan orang, tapi tidak Baskara. Setiap kritikan dan hujatan seperti sayatan baginya. Setidaknya, aku senang Baskara masih membelaku,” ungkap Miri, tersenyum kecil.
Jihan bergumam, sambil membuang bungkus Pocky yang telah kosong ke tempat sampah terdekat. Di sisa perjalanan mereka menuju apartemen Miri, kepala Jihan mencetuskan sebuah ide.
“Gimana kalau kalian kawin lari aja? Kamu terima uang si Serigala, lalu pura-pura putus sama Baskara. Nah, ketika si Serigala lengah, kamu bawa Baskara, terus ke luar negeri!” usulnya.
Miri tertawa lepas. Ia tahu Jihan hanya berusaha menghibur.
“Bagus juga, tuh, idenya … kalau aku mau jadi target pembunuh bayaran yang disewa Amara Wibowo,” celetuk Miri.
Senyum yang sempat merekah di bibir Jihan memudar. Entah Miri serius atau tidak, Amara Wibowo terlihat seperti sosok wanita yang mampu melakukan hal itu.
Mereka akhirnya tiba area unit apartemen Miri. Sambil menaiki tangga, Miri mengingat kembali sikap teguh Baskara yang ingin menjalankan kisah cinta mereka dengan lurus. Meski terdengar kolot, Baskara enggan melanggar titah ibunya, apalagi di saat ia harus mengambil keputusan besar.
“Makasih usulnya, Jihan. Sayangnya, Baskara terlalu taat aturan untuk setuju dengan ide kawin lari. Dia si anak baik, paling anti bikin masalah. Bahkan kalau Baskara tahu aku berani terima uang itu, aku bakal habis dicecar,” ungkap Miri.
“Laki-laki seperti Baskara sepertinya udah jarang di dunia ini. Apalagi untuk orang seumuran kita. Biasanya kalau nggak tukang main cewek, ya tukang selingkuh. Baskara punya nggak teman satu lagi yang kayak dia? Nggak kaya-kaya amat juga nggak papa!” seru Jihan, membuat Miri menggelengkan kepala.