Selepas menonton film, Miri singgah ke apartemen Baskara. Makan malam romantis dan pengaruh alkohol membuat keduanya larut dalam gairah untuk saling memeluk erat.
Dalam sekejap mata, hari yang mereka lalui hari itu melintas di benaknya. Bak film picisan yang diputar cepat dalam bioskop, setiap kejadian hari itu muncul di mata Miri dan ia tak bisa menghentikannya. Suara neneknya yang ingin ia menyegerakan tanggal pernikahan. Arman dalam balutan hoodie, pertama kalinya bagi Miri melihatnya tampil kasual. Sekotak popcorn berukuran besar. Tak lupa anting asing di lantai mobil Baskara.
Anting itu masih ada di dalam tas Miri. Jantungnya yang berdebar karena sentuhan Baskara, perlahan berbelok untuk alasan yang berbeda.
Tanpa aba-aba, Miri merenggangkan lengan yang memeluk kekasihnya. Pria di hadapannya terkejut, hingga hanya dapat mematung saat separuh tubuhnya masih memeluk Miri. Wajahnya tampak bingung, dan Miri memaklumi.
“Sayang,” bisik Miri, sambil menangkupkan wajah Baskara. “Gimana … kalau kita nikah Desember ini?”
Tubuh Baskara seketika bergeming. Perlahan, ia menarik diri. Meski tak dapat melihat ekspresi wajah Baskara yang tertutup bayangan malam, tapi Miri tahu pria itu tak senang. Ia mungkin berpikir bahwa Miri sudah gila, dan dugaannya benar.
“Kamu gila, ya?” ucap Baskara ketus. “Kamu tahu itu nggak mungkin, Mir.”
“Aku merasa Nenek ada benarnya juga,” sahut Miri sambil menunduk. Ia tak berani menatap mata kekasihnya–karena Miri tahu, alasan terbesarnya hingga usulan itu keluar dari mulutnya bukan karena demi sang nenek semata. “Kita nggak perlu ngadain pesta mewah, cukup keluarga aja dulu–”
“Nggak,” potong Baskara tegas. Sambil turun dari tempat tidur, pria itu menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aku nggak bisa nikah tahun ini, Mir! Kamu tahu itu!”
Nada bicara Baskara yang meninggi menggiring Miri ke tepian emosi. Ia mencoba untuk tetap tenang, tapi reaksi Baskara membuat Miri mempertanyakan apakah ia benar-benar menginginkan pernikahan mereka.
“Kenapa nggak bisa?” Miri mendengar suaranya gemetar. “Karena gengsi keluargamu? Karena ada rencana bisnis yang nggak bisa ditunda? Beri aku alasan kuat supaya aku nggak berubah pikiran, Baskara!”
“Karena,” Baskara berkata dengan napas memburu, “akhir tahun banyak agenda penting perusahaan yang nggak bisa aku tinggalin, Mir! Aku aja takut nggak punya waktu untuk kamu! Untuk kita! Apalagi untuk pernikahan!”
“Aku yang akan urus semua! Kamu cukup atur waktu kosong, datang, tanda tangan dokumen. Udah!” sahut Miri tak kalah sengit. Ia duduk di tepi tempat tidur, sebelum melangkahkan kaki ke arah Baskara. Miri menarik lengan pria itu dan memaksanya untuk berputar, menghadapinya. “Atau, kita bisa nikah dulu, baru kasih tahu orang tuamu! Setidaknya, kita udah dapat restu ayahmu, kan?”
Baskara menghela napas, melarikan jari-jari di antara rambutnya.
“Hubungan keluargaku nggak segampang itu, Mir. Aku nggak bisa sekedar menikah di catatan sipil,” balas Baskara dengan suara lembut. “Nggak ada sejarahnya keluargaku menikah dengan sederhana. Bahkan sepupu-sepupu aku juga gitu. Muka orang tuaku mau taruh di mana?!”
Miri tak mengerti.