Resep Hati Sang Dokter Logika

diandiara1806
Chapter #1

BAB 1 Ruang Operasi Adalah Segalanya

"Satu milimeter lagi."

Suara Piter Wijaya terdengar seperti mesin yang terkalibrasi sempurna. Datar, tanpa getaran, dan mutlak. Di bawah lampu operasi yang menyilaukan, ujung mikroskapel miliknya bergerak dengan presisi yang menakutkan. Di hadapannya, sebuah aneurisma otak yang siap pecah tampak seperti bom waktu yang tertanam di jaringan saraf pasien.

Seluruh tim di ruang operasi itu menahan napas. Suara detak jantung dari monitor EKG adalah satu-satunya musik latar yang diizinkan di ruangan ini. Bagi Piter, suara itu bukan sekadar tanda kehidupan, melainkan data. Frekuensi, ritme, tekanan darah—semuanya adalah angka yang harus dia jaga dalam batas aman.

"Klip," pintanya singkat.

Suster Mira dengan sigap memberikan instrumen yang diminta. Tidak ada gerakan sia-sia. Di dunia Piter, efisiensi adalah kasta tertinggi. Dia tidak butuh obrolan ringan tentang akhir pekan atau keluhan tentang kopi kantin yang hambar. Yang dia butuhkan adalah hasil.

Klik.

Klip titanium itu terpasang sempurna, mengunci aliran darah yang mengancam nyawa. Piter menarik napas pelan, sangat halus hingga tidak ada yang menyadarinya. Dia mundur selangkah, melepaskan pandangannya dari mikroskop bedah.

"Selesaikan penutupannya, Dokter Rendy. Pastikan hemostasis benar-benar bersih," perintahnya sambil mulai melepas sarung tangan lateksnya yang berlumuran darah.

"Siap, Dok. Operasi yang luar biasa, seperti biasa," sahut Rendy Pramono, asisten setianya, dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan.

Piter tidak menjawab. Pujian baginya hanyalah noise—gangguan suara yang tidak menambah nilai pada hasil akhir. Dia berjalan keluar menuju ruang sterilisasi. Saat air mengalir membasuh sisa-sisa ketegangan di tangannya, pikirannya sudah melompat ke agenda berikutnya. Laporan keuangan kuartal kedua Wijaya Medical Centre (WMC) yang harus dia tinjau, konflik jadwal antara departemen radiologi dan onkologi, serta tumpukan email yang menunggu respons instan.

Piter Wijaya bukan sekadar dokter. Dia adalah mesin penggerak WMC. Baginya, rumah sakit ini adalah organisme raksasa yang harus diatur dengan logika matematika yang ketat. Emosi? Itu adalah variabel yang merusak. Belas kasihan tanpa kompetensi hanya akan berakhir di kamar jenazah. Itulah prinsip yang membuatnya menjadi ahli bedah saraf terbaik sekaligus CEO yang paling ditakuti di Jakarta.

Dia keluar dari ruang operasi, langkah kakinya yang dibalut sepatu kulit mahal berbunyi ritmis di atas lantai marmer rumah sakit. Staf yang berpapasan dengannya segera menepi, memberikan jalan layaknya prajurit yang menyambut jenderal. Piter tidak melirik. Matanya lurus ke depan, fokus pada layar ponsel yang baru saja dia aktifkan kembali.

Tiga belas panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor yang sama.

Papa.

Piter menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kantornya yang kedap suara. Dahinya berkerut sedikit. Ayahnya, sang patriark keluarga Wijaya, jarang menelepon berkali-kali kecuali jika ada masalah besar pada portofolio bisnis keluarga. Dan bagi Piter, setiap interupsi pada jadwalnya adalah sebuah serangan terhadap efisiensinya.

Ponsel di tangannya kembali bergetar. Dia menjawabnya tepat di dering kedua.

"Ya, Pa. Saya baru selesai operasi," ucap Piter, suaranya tetap profesional bahkan pada ayahnya sendiri.

"Piter, pulang sekarang," suara Papa Wijaya terdengar berat dan tidak menerima penolakan. "Malam ini ada makan malam penting di rumah. Tidak ada alasan pekerjaan."

Lihat selengkapnya