Makan malam dimulai dengan keheningan yang sedikit canggung, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu di atas piring porselen mahal. Piter makan dengan gerakan yang sangat efisien, hampir mekanis. Dia tidak terlalu peduli dengan rasa makanannya; baginya, makanan hanyalah asupan kalori untuk menjaga fungsi otaknya tetap optimal.
Piter duduk tegak di kursi kayu jati yang terasa terlalu kaku, bahkan untuk standar punggungnya yang terbiasa bertahan berjam-jam di meja operasi. Di hadapannya, piring porselen dengan pinggiran emas memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menggantung megah di tengah ruangan. Suasana ruang makan ini selalu sama: dingin dan penuh dengan aturan tak tertulis yang menurut Piter sangat tidak efisien.
Dia melirik jam tangannya. Delapan belas menit telah berlalu sejak mereka mulai menyantap hidangan pembuka. Secara teknis, ini adalah pemborosan waktu. Jika dia berada di rumah sakit, dalam waktu delapan belas menit, dia sudah bisa menyelesaikan tinjauan awal pada dua hasil pemindaian CT-scan dan memberikan instruksi pada perawat jaga. Namun, di sini, dia terjebak dalam ritual memutar sendok sup yang lamban.
Papa Wijaya berdeham, suara yang biasanya menandakan bahwa negosiasi sesungguhnya akan segera dimulai. Piter meletakkan sendoknya tepat di posisi jam empat, tanda dia sudah selesai dan siap mendengarkan.
"Piter," mulai Papa dengan nada yang disetel sedemikian rupa agar terdengar kebapakan namun tetap dominan. "Kamu sudah mengenal keluarga Satya sejak kecil, meski mungkin jarang berinteraksi karena kesibukanmu di asrama dan universitas."
Piter mengangguk singkat. Dia melirik ke seberang meja. Anindita Satya masih menunduk, ujung jarinya memainkan serbet di pangkuannya. Dari sudut pandang klinis, Piter mencatat adanya tanda-tanda kecemasan ringan—napas yang sedikit dangkal dan penghindaran kontak mata.
"Rumah Sakit WMC sedang berkembang pesat, tapi sebagai CEO, kamu butuh sesuatu yang lebih dari sekadar keahlian medis. Kamu butuh stabilitas citra. Kamu butuh pendamping yang bisa menyeimbangkan duniamu."
Piter meletakkan garpunya dengan perlahan. Logikanya mulai memetakan arah pembicaraan ini. "Citra saya sebagai CEO sangat stabil, Pa. Akreditasi internasional WMC baru saja diperbarui dengan nilai sempurna. Kepuasan pasien berada di angka sembilan puluh delapan persen."
"Papa tidak bicara soal angka, Piter," ayahnya menukas, matanya menatap tajam. "Papa bicara soal legitimasi sosial. Dunia bisnis kita sedang berubah. Orang ingin melihat sisi manusiawi dari seorang pemimpin. Dan keluarga Satya... kami sudah berdiskusi panjang lebar mengenai hal ini."
Piter melirik ke arah Anindita. Wanita itu tampak menunduk, menatap piringnya dengan saksama seolah-olah pola porselen itu adalah hal paling menarik di dunia. Ada ketegangan di pundaknya.
"Maksud Papa?" Piter bertanya, meski dia sudah tahu jawabannya.
"Kami ingin menjodohkanmu dengan Anindita," ucap ayahnya tanpa basa-basi lagi. "Ini adalah penggabungan strategis. Wijaya Medical Centre akan mendapatkan akses ke jaringan infrastruktur dan pendanaan baru, sementara keluarga Satya akan mendapatkan prestise medis yang kita miliki. Pernikahan ini akan dilakukan dalam waktu dekat."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap.
Piter tidak terkejut. Secara logis, ini adalah langkah bisnis yang sangat masuk akal. Pernikahan politik dan bisnis sudah menjadi hal lumrah di lingkaran sosial mereka. Namun, ada sesuatu yang terasa salah. Mungkin karena dia baru saja menghabiskan empat sampai sembilan jam menyelamatkan nyawa seseorang dengan teknologi paling mutakhir, dan sekarang dia diminta untuk menjalani tradisi kuno yang sama sekali tidak ilmiah.
Tuan Satya, yang sejak tadi diam, kini ikut bicara. "Kami melihat Piter sebagai sosok yang stabil. Anindita... dia adalah kebanggaan kami, meski dunianya sangat berbeda denganmu. Dia seorang seniman. Dia punya perspektif yang mungkin bisa memberikan warna baru bagi kehidupanmu yang terlalu... mekanis."
Piter melirik Anindita. Warna baru. Istilah yang sangat abstrak. Di matanya, hidup tidak butuh warna, hidup butuh kejelasan fungsi. Dia melihat Anindita bukan sebagai "warna," melainkan sebagai variabel baru dalam persamaannya. Apakah variabel ini akan meningkatkan produktivitasnya atau justru menjadi distraksi yang merusak ritme kerjanya?
Anindita akhirnya mendongak. Matanya besar dan tampak jernih, tetapi ada kabut kesedihan yang coba dia sembunyikan di balik topeng ketenangan. Dia tidak bicara. Dia hanya mengamati Piter, seolah-olah sedang mencoba membedah pria itu dengan cara yang tidak pernah Piter pelajari di sekolah kedokteran.
"Bagaimana dengan detail teknisnya, Pa?" tanya Piter, mengabaikan tatapan Anindita. "Apakah ada perjanjian pranikah yang sudah disiapkan? Bagaimana pembagian hak suara dalam dewan direksi jika aliansi ini disahkan melalui ikatan legal pernikahan?"
Papa Wijaya tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya dia berikan pada lawan bisnis yang baru saja menyerah. "Semua sudah disusun oleh tim hukum kita, Piter. Fokusnya adalah pada stabilitas kepemimpinanmu di WMC. Keluarga Satya akan memberikan dukungan penuh, termasuk suntikan modal untuk pusat riset saraf yang selama ini kamu impikan."
Pusat riset saraf. Itu adalah kartu as ayahnya. Papa Wijaya tahu persis bahwa Piter sangat menginginkan fasilitas penelitian mandiri untuk mengembangkan teknik bedah mikro terbaru.
"Kapan rencana ini akan diresmikan?" Piter bertanya lagi.
"Dua bulan dari sekarang. Pertunangan akan diumumkan minggu depan," jawab ayahnya tegas.
Piter kembali menghitung. Dua bulan. Dia harus menyesuaikan jadwal operasinya. Dia harus mendelegasikan beberapa tugas administratif kepada Rendy. Dia perlu menjadwalkan pertemuan-pertemuan formal dengan keluarga Satya untuk memastikan transisi ini tidak mengganggu kinerjanya sebagai CEO.
Dia menatap Anindita lagi. Kali ini, wanita itu mendongak. Mata mereka bertemu. Tidak ada binar cinta, tidak ada kemesraan yang diharapkan dari sepasang calon mempelai. Yang ada hanyalah tatapan dua orang asing yang baru saja diberitahu bahwa hidup mereka bukan lagi milik mereka sendiri.