Resep Hati Sang Dokter Logika

diandiara1806
Chapter #3

BAB 3 Tatap Muka Pertama (dan Canggung)

Dua puluh empat jam adalah waktu yang cukup bagi Piter Wijaya untuk mengubah sebuah keputusan besar menjadi serangkaian sub-tugas di aplikasi manajemen proyeknya. Baginya, perjodohan ini sudah bukan lagi soal perasaan atau takdir, melainkan sebuah operasionalitas yang harus dijalankan dengan presisi bedah saraf. Jika ayahnya menginginkan citra, maka Piter akan memberikan citra yang paling sempurna, paling mengilap, dan paling efisien yang pernah dilihat dunia bisnis Jakarta.

Pukul 15.50. Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan.

Piter sudah duduk di sudut paling tenang sebuah kafe kelas atas di pusat kota. Tempat ini dipilih karena tingkat kebisingannya yang rendah dan jarak antar mejanya yang cukup jauh, menjamin privasi yang diperlukan untuk apa yang dia anggap sebagai rapat orientasi. Tablet di hadapannya menyala, menampilkan draf awal "Protokol Kehidupan Bersama" yang dia susun semalam. Piter tidak percaya pada keberuntungan; dia percaya pada struktur.

Lonceng di atas pintu berdenting halus.

Piter tidak mendongak, jemarinya masih sibuk menggeser grafik proyeksi anggaran pusat riset saraf yang baru. Namun, sebuah aroma samar—campuran antara kertas lama, cat air, dan sedikit vanila—menembus barisan pertahanan antiseptik yang biasanya menyelimuti indranya. Dia mendongak, dan untuk sesaat, prosesor di kepalanya mengalami lag ringan.

Anindita Satya berdiri di sana.

Dia tidak mengenakan gaun pastel yang kaku seperti semalam. Kali ini, dia memakai kemeja linen putih yang lengannya digulung asal, dipadu dengan celana kain lebar berwarna terakota. Rambutnya dibiarkan jatuh bergelombang, dan ada sebuah bros perak berbentuk kuas kecil yang menyemat di kerahnya. Sederhana, sangat jauh dari standar sosialita yang biasanya mengejar Piter, tetapi ada karakter yang begitu kuat dalam setiap jengkal penampilannya. Dia terlihat seperti sebuah sketsa yang tiba-tiba hidup di tengah ruangan yang terlalu formal ini.

"Anda datang lebih awal," suara Anindita memecah hening, lembut namun memiliki ritme yang mantap.

Piter segera mematikan layar tabletnya. "Sepuluh menit adalah batas toleransi saya untuk persiapan lingkungan. Silakan duduk, Anindita."

Anindita menarik kursi di hadapan Piter. Gerakannya halus, tidak terburu-buru. Dia meletakkan tas kanvasnya di kursi sebelah, lalu menatap Piter tepat di mata. Tatapan itu tidak menuntut, tidak juga memuja. Itu adalah tatapan yang seolah sedang mencoba menangkap proporsi wajah Piter untuk dipindahkan ke dalam ingatan visualnya.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu," lanjut Piter, suaranya kembali ke nada bariton yang datar. "Saya rasa kita perlu menetapkan beberapa parameter dasar sebelum keluarga kita melangkah lebih jauh ke urusan logistik pernikahan."

Anindita tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Piter merasa seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu tanpa dia sadari. "Parameter dasar? Dokter, saya pikir ini adalah janji temu untuk minum kopi, bukan audit rumah sakit."

"Dalam setiap kemitraan jangka panjang, audit awal adalah kunci keberhasilan, Anindita," Piter tidak bergeming. Dia menggeser tabletnya ke tengah meja. "Saya sudah menyusun poin-poin yang menurut saya krusial. Jadwal kerja saya, ekspektasi keterlibatan sosial, pengelolaan privasi, hingga rencana keuangan bersama. Saya ingin kita berada pada frekuensi yang sama agar tidak ada energi yang terbuang sia-sia untuk konflik non-esensial di masa depan."

Anindita menatap tablet itu, lalu kembali menatap Piter. Dia tidak menyentuh perangkat canggih itu. "Apakah ada bagian dalam daftar itu yang membahas tentang... kita? Maksud saya, di luar jadwal dan angka?"

Piter mengerutkan dahi. "Kita adalah entitas yang menjalankan protokol ini. Jika protokol dijalankan dengan baik, maka kita akan berfungsi secara optimal. Bukankah itu tujuan utamanya?"

"Fungsi optimal," gumam Anindita, suaranya seperti sedang mencicipi sebuah kata yang asing. "Anda benar-benar melihat pernikahan ini sebagai sebuah sistem mekanis, ya?"

"Logika mengatakan demikian," jawab Piter mantap. "Pernikahan ini dimulai dari kesepakatan bisnis keluarga. Mengharapkan dorongan emosional yang intens secara tiba-tiba adalah tindakan yang tidak realistis dan berisiko tinggi. Saya lebih memilih membangun hubungan yang stabil berdasarkan transparansi dan efisiensi."

Anindita terdiam sesaat. Dia memanggil pelayan dan memesan secangkir earl grey tanpa melihat menu. Piter mencatat hal itu: dia tahu apa yang dia inginkan. Tidak ada keraguan. Sebuah poin efisiensi.

"Saya seorang ilustrator, Dokter Piter," ucap Anindita setelah pelayan pergi. "Pekerjaan saya adalah menangkap emosi yang tidak terkatakan dan menuangkannya ke dalam garis. Bagi saya, dunia tanpa 'variabel tidak terukur' seperti yang Anda sebutkan semalam, akan terasa sangat... pucat."

"Seni adalah bentuk stimulasi dopamin yang valid, saya tidak membantah itu," Piter membetulkan kacamatanya. "Namun, dalam struktur rumah tangga, dopamin tidak bisa membayar tanggung jawab sosial atau mengelola reputasi rumah sakit. Saya butuh pasangan yang mengerti bahwa di rumah ini, logika adalah hukum tertinggi."

"Lalu di mana Anda menyimpan hati Anda?" tanya Anindita tiba-tiba. Pertanyaan itu begitu langsung, begitu tajam, hingga Piter merasakan denyut di pelipisnya.

"Hati adalah organ otot yang memompa darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi," jawab Piter, berlindung di balik definisi medis. "Secara metaforis, 'hati' saya ada pada dedikasi saya untuk menyelamatkan nyawa. Jika Anda mencari romansa dari buku-buku fiksi, saya khawatir Anda akan kecewa."

"Saya tidak mencari romansa fiksi," sahut Anindita, matanya kini berkilat dengan sesuatu yang menyerupai tantangan. "Saya mencari manusia. Semalam, saya melihat Anda begitu bangga dengan angka-angka kesuksesan WMC, tapi saya juga melihat cara Anda memegang pulpen—begitu erat, seolah-olah Anda takut jika Anda melepaskannya, seluruh dunia Anda akan runtuh. Ada ketegangan yang tidak sinkron dengan nada bicara Anda yang tenang."

Piter merasa sedikit telanjang. Bagaimana bisa wanita ini, yang baru dia temui dua kali, mencoba melakukan pemindaian psikologis padanya? "Anda terlalu banyak berasumsi dari observasi visual yang dangkal, Anindita. Fokus kita hari ini adalah sinkronisasi rencana, bukan analisis kepribadian."

Piter mulai membacakan poin-poin dalam tabletnya. Dia berbicara tentang jadwal operasinya yang tidak bisa diganggu gugat, tentang acara amal tahunan keluarga Wijaya yang wajib dihadiri, dan tentang bagaimana mereka harus menjaga penampilan sebagai pasangan yang harmonis di depan media untuk mendukung stabilitas saham WMC.

Anindita mendengarkan dengan sabar. Dia tidak memotong, tidak juga membantah. Dia hanya menyesap tehnya sesekali, tatapannya beralih ke jendela besar kafe yang menampilkan hiruk pikuk kota.

Lihat selengkapnya