Resep Hati Sang Dokter Logika

diandiara1806
Chapter #4

BAB 4 Dilema Idealistis Anindita

Anindita Satya menutup pintu pagar rumahnya dengan gerakan pelan, hampir tak bersuara. Di luar, suara mesin sedan perak milik Piter Wijaya perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di jalanan perumahan yang asri itu. Anindita bersandar pada gerbang besi yang dingin, memejamkan mata sejenak. Aroma parfum Piter—campuran antara sandalwood dan sesuatu yang sangat tajam, mirip bau ruang dokter—masih tertinggal di indra penciumannya.

Dia berjalan masuk, melewati taman depan yang dipenuhi bunga krisan kesayangan ibunya. Lampu-lampu taman yang menyala kuning hangat biasanya memberi ketenangan, tapi malam ini, cahaya itu justru terasa seperti sorot lampu interogasi. Anindita tidak langsung masuk ke bangunan utama. Dia memutar langkah menuju paviliun kecil di samping rumah yang telah dia sulap menjadi studio pribadinya.

Di dalam studio, bau cat minyak, terpentin, dan kertas lama menyambutnya. Inilah satu-satunya tempat di mana dia merasa memegang kendali penuh. Di sini, tidak ada protokol, tidak ada merger bisnis, dan tidak ada pria kaku yang menganggap perasaan sebagai anomali medis.

Anindita menyalakan lampu meja, membiarkan sudut-sudut ruangan lainnya tetap tenggelam dalam bayangan. Dia duduk di depan easel besarnya, mengambil buku sketsa yang tadi dia bawa. Jemarinya masih terasa kaku. Dia teringat bagaimana Piter menatapnya di kafe tadi—tatapan seorang ilmuwan yang sedang membedah spesimen langka.

Dia mengambil pensil grafit 2B, mulai menggoreskan garis di atas kertas putih yang masih bersih. Awalnya hanya garis-garis abstrak, tetapi perlahan, sebuah bentuk mulai muncul. Itu adalah sketsa sebuah pernikahan. Ada figur pengantin wanita dengan gaun yang menjuntai indah, tapi wajahnya tampak kabur, seolah-olah dia sedang memudar menjadi asap.

Di sampingnya, figur mempelai pria berdiri tegak. Anindita menekan pensilnya lebih kuat saat menggambar sosok itu. Garis-garisnya tajam, sudut-sudutnya kaku. Piter dalam gambar itu tidak terlihat seperti manusia yang bernapas. Dia lebih mirip sebuah arca batu atau monumen logam yang dingin. Tidak ada tangan yang saling menggenggam. Hanya dua orang yang berdiri bersisian di atas altar yang luas, namun dipisahkan oleh jurang tak kasat mata yang sangat dalam.

Keamanan emosional dengan cara membunuh emosi itu sendiri.

Kalimat itu terngiang kembali di telinganya. Anindita meletakkan pensilnya dengan tangan gemetar. Bagaimana mungkin dia bisa berbagi tempat tidur, berbagi meja makan, dan berbagi rahasia hidup dengan pria yang bahkan menganggap "hati" hanyalah sebuah pompa darah?

Pintu studio berderit terbuka. Anindita tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau parfum mawar yang mahal sudah lebih dulu menginfasi ruangannya.

"Nindita? Kamu sudah pulang?" suara Ibu Satya terdengar lembut, tetapi ada nada tuntutan yang tersembunyi di sana.

"Sudah, Bu. Baru saja," jawab Anindita tanpa menoleh dari sketsanya.

Ibunya berjalan mendekat, berdiri di belakang Anindita sambil mengamati gambar di atas meja. Anindita secara refleks mencoba menutupi sketsanya dengan tangan, tapi ibunya sudah lebih dulu melihatnya.

"Gambarmu selalu punya suasana yang... unik," komentar ibunya, suaranya tetap tenang. "Tapi sepertinya kamu terlalu banyak memasukkan perasaan gelisah ke dalamnya. Piter itu pria yang sangat baik, Nindita. Dia mapan, cerdas, dan dari keluarga yang sangat terpandang. Apa lagi yang kamu cari?"

Anindita menarik napas panjang. "Aku mencari manusia, Bu. Bukan robot yang diprogram untuk sukses."

Ibunya menghela napas, sebuah suara yang terdengar seperti ban bocor. Dia duduk di kursi kecil di sudut studio, merapikan rok sutranya. "Cinta sejati yang kamu impikan itu... itu hanya ada di buku-buku ilustrasimu. Di dunia nyata, stabilitas adalah segalanya. Keluarga Wijaya adalah pelindung yang kita butuhkan sekarang. Proyek infrastruktur ayahmu butuh jaminan yang hanya bisa diberikan oleh pengaruh mereka."

"Jadi aku adalah jaminannya? Seperti sertifikat tanah atau saham?" tanya Anindita, suaranya mulai meninggi.

"Jangan dramatis, Nindita. Kamu menikah dengan pria paling diinginkan di kota ini. Banyak wanita yang bersedia memberikan apa saja untuk berada di posisimu. Piter memang kaku, tapi itu karena dia orang yang bertanggung jawab. Dia tidak punya waktu untuk hal-hal remeh."

"Baginya, perasaan itu remeh, Bu. Dan aku adalah makhluk yang hidup dari perasaan. Bagaimana kami bisa bertahan?"

Ibunya berdiri, mendekati Anindita dan mengelus rambutnya dengan kaku. "Kamu akan belajar beradaptasi. Dia akan menyediakan segalanya untukmu. Studio yang lebih besar, akses ke galeri mana pun yang kamu mau. Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan? Kebebasan untuk berkarya?"

"Kebebasan tanpa jiwa itu namanya penjara mewah, Bu," gumam Anindita pelan.

Ibunya tidak menjawab lagi. Dia hanya menepuk bahu Anindita sekali sebelum berjalan keluar. "Pikirkan lagi. Jangan kecewakan Ayahmu. Besok pagi, penjahit akan datang untuk mengukur gaun pengantinmu. Pastikan kamu ada di rumah."

Keheningan kembali melanda studio. Anindita menatap sketsa figur Piter yang mirip arca itu. Dia merasa seolah-olah sedang menggambar nisannya sendiri.

Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Sebuah panggilan video dari Devi, sahabatnya sejak zaman kuliah seni. Anindita ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Nindita! Oh my God, gimana kencan pertamanya?" suara Devi meledak dari speaker telepon, wajahnya yang penuh energi muncul di layar.

Anindita mencoba memaksakan senyum. "Bukan kencan, Dev. Lebih mirip wawancara kerja atau audit tahunan."

Lihat selengkapnya