Layar tablet di atas meja kerja Piter Wijaya berkedip, menampilkan notifikasi yang tidak ada hubungannya dengan grafik okupansi tempat tidur atau margin laba bersih kuartal ini. Di sana, di laman berita internal Wijaya Medical Centre (WMC), sebuah foto terpampang dengan tajuk yang mencolok: Aliansi Dua Dinasti: CEO WMC Piter Wijaya Segera Meminang Putri Keluarga Satya.
Piter menatap layar itu selama tiga detik. Baginya, itu adalah waktu yang cukup untuk memproses data visual tersebut sebelum mengategorikannya ke dalam folder "Noise" di kepalanya. Dia tidak tersenyum. Dia tidak terlihat bangga. Dia hanya mencatat dalam hati bahwa tim humas rumah sakit telah bekerja dengan kecepatan yang efisien untuk memitigasi isu pengadaan alat MRI yang sempat digoreng oleh Pak Hartawan.
Pukul 08.00 pagi. Udara di kantornya yang luas di lantai teratas WMC terasa dingin dan steril, persis seperti yang dia sukai. Di balik jendela kaca besar, Jakarta mulai merayap dalam kemacetan, tetapi di dalam sini, segala sesuatu berjalan sesuai hukum termodinamika yang tenang.
Ketukan pintu yang terlalu bersemangat membuyarkan konsentrasi Piter pada laporan bedah saraf yang sedang dia tinjau. Dia tidak perlu melihat monitor CCTV untuk tahu siapa yang berdiri di balik pintu itu. Hanya ada satu orang di rumah sakit ini yang berani mengetuk pintunya seolah-olah sedang menabuh drum.
"Masuk, Rendy," ucap Piter tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.
Pintu terbuka lebar, dan Dr. Rendy Pramono melangkah masuk dengan senyum yang lebarnya bisa menyaingi sayatan operasi laparoskopi. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kecil dari toko roti artisan paling mahal di Jakarta Pusat, lengkap dengan pita perak yang berkilau.
"Selamat, Bos! Akhirnya, robot kita resmi diprogram untuk memiliki pendamping hidup!" seru Rendy, meletakkan kotak itu tepat di atas tumpukan berkas yang baru saja dirapikan Piter.
Piter melirik kotak itu, lalu melirik Rendy dengan tatapan yang bisa membekukan air dalam sekejap. "Pindahkan benda itu ke meja samping, Rendy. Gula dan remah-remah adalah musuh utama kebersihan dokumen."
Rendy terkekeh, tetapi tetap memindahkan kotak itu. "Ayo dong, Piter. Ini berita besar. Seluruh rumah sakit heboh. Suster-suster di bangsal anak sampai menangis, ada yang patah hati, ada yang terharu karena akhirnya kamu menemukan seseorang yang—menurut berita—punya jiwa seni yang tinggi. Kontras banget sama kamu yang jiwanya terbuat dari titanium."
Piter membetulkan posisi kacamatanya dengan jari tengah, gerakan yang sangat mekanis. "Berita itu hanyalah instrumen komunikasi strategis untuk menstabilkan persepsi pemegang saham. Tidak ada yang perlu dirayakan secara berlebihan. Pernikahan ini adalah variabel tambahan untuk memperkuat pondasi WMC di wilayah timur melalui jaringan Satya Group. Itu saja."
Rendy menarik kursi di depan meja Piter, duduk dengan gaya santai yang selalu membuat Piter sedikit terganggu. "Variabel tambahan? Kamu benar-benar memanggil calon istrimu variabel tambahan? Piter, aku ini temanmu sejak kita masih berjuang di bangsal IGD yang bau pesing. Aku tahu kamu kaku, tapi ini soal pernikahan. Bagaimana dengan Anindita? Dia cantik, cerdas, dan jujur saja, aku sudah lihat profilnya. Dia punya aura yang bisa melunakkan es di kutub utara. Bagaimana perasaanmu saat kalian bertemu kemarin?"
Piter terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada kafe sore itu. Dia mengingat aroma vanila dan kertas lama. Dia mengingat noda cat biru di dekat kuku Anindita. Dia mengingat bagaimana wanita itu memandangnya seolah-olah dia adalah sebuah kegagalan sistem yang perlu diperbaiki.
"Dia memiliki kemampuan observasi yang cukup tajam untuk ukuran seorang seniman," jawab Piter datar. "Namun, dia terlalu didominasi oleh pendekatan emosional. Dia menanyakan di mana saya menyimpan hati saya. Secara medis, itu pertanyaan yang tidak relevan."
Rendy tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. "Dia bertanya begitu? Wah, Anindita benar-benar punya nyali. Dan apa jawabanmu? Kamu jelaskan anatomi ventrikel jantung?"
"Tentu saja. Saya memberikan definisi yang akurat secara klinis," sahut Piter serius.
Rendy berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi campuran antara kasihan dan tidak percaya. "Piter... kamu benar-benar kasus yang sulit. Pernikahan itu bukan soal penggabungan aset. Ini soal berbagi hidup. Kamu tidak takut jika duniamu yang sangat rapi ini bakal berantakan saat ada orang lain masuk? Terutama orang yang dunianya penuh warna dan—mungkin—kekacauan artistik?"
"Segala sesuatu yang berantakan bisa dirapikan kembali jika protokolnya jelas," jawab Piter, jarinya mulai mengetik di atas keyboard dengan ritme yang konstan. "Saya sudah menyusun Protokol Kehidupan Bersama. Dia sudah membacanya. Kami sudah sepakat pada parameter-parameter dasar. Selama dia tidak melanggar batas privasi dan jadwal operasional saya, risiko komplikasi bisa diminimalisasi hingga di bawah lima persen."
Rendy menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu bicara seolah-olah sedang merencanakan operasi pengangkatan tumor. Ini Anindita, Piter. Manusia. Bukan spesimen. Apa kamu nggak pernah terpikir kalau mungkin, hanya mungkin saja, kamu butuh sedikit 'kekacauan' itu supaya kamu merasa hidup?"
"Saya merasa sangat hidup saat berada di ruang bedah dengan mikroskop di depan mata, Rendy. Itu adalah puncak dari eksistensi saya. Pernikahan ini hanya fase yang harus dilalui untuk memenuhi ekspektasi sosial dan tuntutan ayah saya. Setelah pesta selesai, saya akan kembali ke sini, dan dia akan kembali ke studionya. Efisiensi akan tetap terjaga."
Rendy menatap temannya itu cukup lama. Ada keheningan yang janggal di ruangan itu, hanya diinterupsi oleh dengung halus mesin pendingin ruangan. Rendy sudah melihat Piter menghadapi ribuan situasi kritis dengan wajah tanpa ekspresi, tapi entah mengapa, melihat Piter menyikapi pernikahannya sendiri dengan cara yang sama membuat Rendy merasa merinding.
"Kamu tahu, Piter? Aku khawatir," ucap Rendy pelan, suaranya kehilangan nada canda. "Aku khawatir suatu hari nanti kamu akan bangun dan menyadari bahwa semua grafik dan datamu tidak bisa memberimu pelukan saat kamu sedang hancur. Dan Anindita... aku harap dia tahu apa yang dia hadapi. Karena menikahi pria yang merasa hatinya hanyalah otot pemompa darah itu... itu tugas yang sangat berat."
Piter menghentikan ketikannya. Matanya yang tajam menatap Rendy melalui bingkai kacamata tipisnya. "Kekhawatiranmu tidak didukung oleh data primer yang kuat, Rendy. Anindita adalah wanita dewasa yang rasional. Dia menerima perjodohan ini dengan kesadaran penuh akan keuntungan yang akan didapat keluarganya. Ini adalah transaksi yang adil."
"Transaksi," gumam Rendy sambil berdiri. "Oke. Transaksi. Aku akan pergi sebelum aku kena serangan jantung karena mendengar logikamu yang mengerikan itu. Cupcake di kotak itu punya kadar gula yang tinggi, tapi mungkin kamu butuh itu supaya otakmu nggak terlalu dingin."
Saat Rendy berjalan menuju pintu, dia berhenti sejenak dan menoleh. "Oh, satu lagi. Pak Hartawan dan Bu Sandra sedang berkumpul di kantin tadi pagi. Mereka sepertinya sedang mendiskusikan bagaimana 'fokus baru' kamu pada pernikahan ini bakal mengganggu performa CEO. Hati-hati, Bos. Di rumah sakit ini, tidak semua orang ingin melihatmu sukses dalam 'transaksi' baru ini."
Piter hanya mengangguk singkat. Setelah Rendy keluar, keheningan kembali menguasai ruangan. Piter menatap kotak roti di meja samping. Namun, saat matanya menatap kotak roti itu, sebuah pesan teks dari Anindita semalam terlintas lagi.
Hal yang paling tidak efisien di dunia ini adalah hal yang paling layak untuk diperjuangkan.
Piter mendengus pelan. "Premis yang cacat," batinnya. Perjuangan tanpa hasil yang terukur adalah pemborosan sumber daya. Namun, dia mendapati dirinya menatap bros itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Dia bertanya-tanya, jenis logika apa yang digunakan Anindita hingga dia bisa menulis kalimat seperti itu dengan penuh keyakinan.
Ponselnya bergetar. Sebuah email dari bagian keuangan. Isinya adalah draf anggaran untuk bulan madu yang dipesan oleh ibunya. Piter membuka lampiran tersebut dan langsung mengerutkan dahi. Lima hari di sebuah resort terpencil di Maladewa. Tanpa sinyal internet yang stabil. Tanpa akses cepat ke rumah sakit.
Ini adalah bencana logistik.
Piter segera mengetik balasan. Revisi agenda bulan madu. Kurangi durasi menjadi tiga hari. Pastikan lokasi memiliki fasilitas pusat bisnis dan koneksi satelit dua puluh empat jam. Saya tidak bisa meninggalkan operasional WMC sepenuhnya selama lima hari tanpa pengawasan langsung.