Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #6

BAB 6 Pra-nikah dan Realitas Tekanan

Lampu meja di kantor Piter Wijaya memancarkan cahaya dingin, menerangi tumpukan dokumen yang sudah bergeser sejak Anindita meletakkan buku sketsanya. Sejak Anindita pergi, Piter mencoba untuk tidak melihat buku kecil yang penuh warna itu. Dia tahu, itu adalah portal ke dunia yang tidak efisien, dunia yang penuh dengan garis-garis abstrak dan emosi yang tidak terukur. Dunia yang sama sekali tidak ingin dia masuki. Dia masih CEO yang punya seabrek kerjaan.

Beberapa menit berlalu. Buku sketsa itu tetap di sana, sebuah anomali visual di antara kertas-kertas laporan keuangan dan slide presentasi rapat dewan. Piter menghela napas, memutuskan bahwa mengabaikannya adalah strategi terbaik. Dia meraih ponselnya, mencari notifikasi terbaru dari tim medisnya, dan kembali menyelam ke dalam dunianya yang aman dan steril.

Minggu-minggu berikutnya berputar dalam kabut kesibukan Piter. Proyek MRI baru, persiapan akreditasi rumah sakit, serta intrik dewan direksi yang semakin panas dengan Pak Hartawan sebagai dalang utamanya—semua menuntut fokus penuhnya. Pernikahan? Itu adalah subplot yang dikelola oleh asistennya, Rendy, dan tim event organizer profesional yang diutus ibunya. Piter merasa ia sudah mendelegasikan tugas dengan sangat efisien.

Di sisi lain kota, di paviliun studio Anindita, waktu terasa berjalan lebih lambat, lebih berat. Setiap hari adalah parade persiapan yang membosankan dan melelahkan.

"Pilihan renda ini agak terlalu rumit, Nona Anindita," ujar penjahit dengan sapuan meteran di lehernya, mata tuanya mengamati Anindita dari balik kacamata. "Bukankah Nona lebih suka sesuatu yang klasik dan sederhana?"

Anindita hanya mengangguk pelan, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun pengantin pertama yang dicobanya adalah tumpukan kain satin putih gading dengan detail renda yang terlalu banyak di bagian dada. Gaun itu indah, mewah, dan sangat mahal—tapi bukan dia. Gaun itu terasa seperti sangkar berlapis mutiara yang menjebak esensi dirinya.

"Saya rasa... apa pun yang terbaik menurut Ibu saja," jawab Anindita, suaranya pelan. Setiap kali dia diminta memilih, pertanyaan-pertanyaan Piter di kafe tempo hari terngiang. Apakah dalam hidup Anda, segala sesuatu selalu harus memiliki hasil yang terukur?

Dia selalu berpikir hidup itu tentang proses dan perasaan. Sekarang, proses pernikahannya hanyalah serangkaian keputusan cepat yang harus diambil untuk mencapai hasil akhir: sebuah pesta besar, sebuah ikatan formal. Tidak ada jiwa di dalamnya.

Ibunya tersenyum di belakang penjahit, matanya berbinar melihat gaun mahal itu. "Pilih yang paling mewah, Nindita. Ini hari besarmu. Kita harus menunjukkan pada keluarga Wijaya bahwa keluarga kita juga memiliki standar yang tinggi."

Montase adegan persiapan bergulir cepat dalam benak Anindita. Mencoba gaun lain dan lagi, sendirian di butik megah dengan pantulan dirinya yang tampak asing. Rapat katering di sebuah hotel bintang lima, di mana dia hanya diminta mengangguk setuju pada pilihan-pilihan menu yang sudah ditentukan. Memilih dekorasi bunga di sebuah florist mewah, di mana dia merasa suaranya lenyap di tengah-tengah rentetan argumen antara ibunya dan event organizer tentang tema rustic-chic versus modern-minimalist.

Piter? Dia tidak ada di sana.

Piter tidak pernah melupakan pekerjaan utamanya, dan itu sudah lebih dari cukup baginya.

Begitu kira-kira alasan yang selalu dilontarkan ibunya setiap kali Anindita bertanya mengapa Piter tidak pernah datang, walau hanya sebentar. Piter hanya muncul di acara-acara fitting yang paling krusial—untuk kemeja tuxedonya, atau untuk sesi foto pre-wedding yang terasa lebih mirip sesi pemotretan majalah bisnis daripada perayaan cinta.

Di sesi foto pre-wedding, Piter berdiri tegak di sampingnya, senyum tipisnya terpahat sempurna untuk kamera, tetapi matanya tetap dingin dan jauh. Anindita mencoba untuk menatapnya, mencari sedikit kehangatan, sedikit koneksi, tapi yang dia temukan hanyalah refleksi dari ketidakpastian dirinya sendiri di mata Piter.

Apakah semua ini hanya akting?

Lihat selengkapnya