Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #7

BAB 7 Janji yang Hambar

Putih.

Warna itu seharusnya melambangkan kemurnian, awal yang baru, atau mungkin harapan. Namun, bagi Anindita Satya, pantulan di cermin besar di depannya hanya meneriakkan satu hal: kekosongan. Gaun yang berhari-hari lalu terasa seperti kafan, kini benar-benar membungkus tubuhnya. Dingin kain satin itu meresap ke pori-porinya, seolah-olah mencoba membekukan sisa-sisa kehangatan yang masih ia miliki.

"Nindita, tarik napas. Kamu pucat sekali," suara Devi terdengar cemas di belakangnya. Sahabatnya itu sedang sibuk merapikan veil panjang yang menjuntai di lantai marmer hotel mewah ini.

Anindita mencoba melakukan apa yang diminta Devi. Dia menarik napas, tetapi yang masuk ke paru-parunya hanyalah aroma bunga lili yang terlalu kuat—pilihan pasif-agresifnya yang kini justru mencekik lehernya sendiri. "Aku nggak apa-apa, Dev. Cuma... sedikit pusing."

"Sedikit pusing itu gejala wajar buat pengantin yang nggak tidur semalaman," Devi berdiri di sampingnya, memegang kedua bahu Anindita. "Dengar, ini hari besarmu. Di luar sana ada ratusan orang penting. Kamera, wartawan, rekan bisnis orang tuamu, dan dewan direksi WMC. Semuanya mau lihat 'pernikahan abad ini'. Kamu harus tampil sempurna."

Sempurna. Kata itu adalah tuhan di keluarga Wijaya dan Satya. Anindita menatap matanya sendiri di cermin. Dia melihat seorang wanita yang baru saja menyerahkan kemerdekaannya demi sebuah tanda tangan di buku nikah.

"Piter sudah di sana?" tanya Anindita pelan.

"Sudah. Dia sudah di altar sejak sepuluh menit lalu. Rendy bilang dia terus-menerus melihat jam tangannya. Tipikal Piter, kan? Bahkan di hari pernikahannya pun dia menghitung detik seolah-olah ada pasien aneurisma yang menunggu di meja operasi," Devi mencoba melucu, tapi Anindita tidak tertawa.

Anindita membayangkan Piter. Pria itu pasti berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitamnya yang tanpa cela. Tidak ada keringat dingin, tidak ada detak jantung yang berpacu liar karena cinta. Piter Wijaya hanya sedang menunggu tugasnya selesai. Pernikahan ini adalah prosedur medis lain baginya. Masuk, lakukan insisi, jahit, selesai.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan pahitnya. Ibu Satya masuk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan wilayah baru. Wajahnya berseri-seri, perhiasan berliannya berkilau di bawah lampu kristal.

"Sudah waktunya, Nindita," ucap ibunya, mengabaikan kecemasan di wajah putrinya. "Ayahmu sudah menunggu di depan pintu. Ingat, jaga postur tubuhmu. Jangan sampai terlihat ragu. Hari ini adalah hari di mana martabat keluarga kita dikukuhkan."

Anindita tidak menjawab. Dia mengambil buket bunga lili putih itu—benda yang terasa seberat bongkahan batu. Dia melangkah keluar dari ruangan yang harum itu, meninggalkan separuh jiwanya di sana.

*

Di ujung lorong gereja yang didekorasi dengan kemewahan yang berlebihan, Piter Wijaya berdiri dengan ketenangan yang menakutkan. Matanya menatap lurus ke arah pintu besar yang masih tertutup. Dia tidak merasa gugup. Secara fisiologis, denyut nadinya berada di angka 72 detak per menit—sangat normal.

"Piter, rileks sedikit. Muka kamu kayak mau ngumumin diagnosa kanker stadium akhir," bisik Rendy yang berdiri di belakangnya sebagai pendamping pria.

Piter tidak menoleh. "Saya sedang menjaga fokus, Rendy. Acara ini memiliki durasi tiga jam dua puluh menit menurut rundown. Setiap keterlambatan akan mengacaukan jadwal saya di rumah sakit besok pagi."

Rendy menghela napas panjang, sebuah suara frustrasi yang sudah sangat akrab di telinga Piter. "Ini pernikahanmu, Bos. Bukan rapat dewan direksi. Coba lihat bunga-bunga itu. Anindita yang pilih, kan? Cantik."

Piter melirik sekilas ke arah rangkaian bunga lili putih yang menghiasi setiap sudut altar. "Terlalu banyak serbuk sari. Berisiko bagi tamu yang memiliki alergi rinitis. Tidak efisien secara kesehatan."

"Kamu benar-benar tidak tertolong," gumam Rendy pelan.

Pintu besar itu akhirnya terbuka.

Musik organ mulai mengalun, memenuhi ruangan tinggi itu dengan melodi yang megah namun terasa menekan bagi Piter. Dia melihat sosok itu. Anindita Satya, berjalan pelan di samping ayahnya. Dari jarak tiga puluh meter, Piter bisa melihat betapa kontrasnya wanita itu dengan latar belakang gereja yang kaku.

Anindita tampak seperti sebuah lukisan yang tidak sengaja terjatuh ke dalam tumpukan dokumen medis. Gaun putihnya berkilau, tetapi wajahnya... Piter mengerutkan dahi sedikit. Secara klinis, Anindita menunjukkan tanda-tanda anemia atau stres berat. Wajahnya sepucat kain yang ia kenakan.

Saat Anindita sampai di hadapannya, Tuan Satya menyerahkan tangan putrinya kepada Piter. Kulit Anindita terasa sedingin es saat bersentuhan dengan tangan Piter yang hangat. Piter menatap mata Anindita, mencari variabel yang mungkin bisa ia pahami. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah jurang yang gelap dan sunyi.

Upacara dimulai. Suara pendeta terdengar seperti dengung statis di telinga Piter. Dia melakukan semua gerakannya dengan presisi otomatis. Duduk, berdiri, berlutut. Dia menjawab pertanyaan pendeta dengan suara bariton yang stabil, seolah sedang memberikan kesaksian di pengadilan medis.

"Piter Wijaya, apakah engkau bersedia menerima Anindita Satya sebagai istrimu, mencintainya dan menghargainya, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Piter terdiam selama satu detik—sebuah jeda yang cukup untuk membuat ibunya di barisan depan menahan napas. Dia memikirkan kata "mencintai". Kata itu tidak ada dalam glosarium logikanya. Namun, kata "komitmen" dan "kewajiban" ada di sana dengan sangat jelas.

"Saya bersedia," jawab Piter mantap.

Lalu giliran Anindita. Suaranya terdengar seperti bisikan yang hampir hilang ditelan udara. "Saya bersedia."

Janji suci itu diucapkan. Cincin emas dengan berlian kecil yang harganya bisa membiayai satu unit ruang ICU itu disematkan ke jari masing-masing. Bagi orang-orang yang menonton, ini adalah momen romantis. Namun, bagi Piter dan Anindita, ini adalah suara borgol yang terkunci.

"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri yang sah."

Lihat selengkapnya