Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #8

BAB 8 Bulan Madu Impian... Atau Checklist Piter?

Ponsel di tangan Piter bergetar hebat, sebuah alarm yang lebih nyaring daripada monitor EKG mana pun. Rendy di ujung sana berteriak tentang audit mendadak, malpraktik, dan Pak Hartawan. Dunia Piter, yang baru saja dia coba renggangkan demi sentuhan manusiawi, kembali menyeretnya ke dalam pusaran kekacauan.

Dia menatap Anindita. Wanita itu berdiri membelakanginya, gaun putihnya yang mahal tampak kusut, bahunya bergetar menahan tangis. "Pergilah, Piter. Selamatkan duniamu. Dunia saya sudah hancur sejak tadi pagi, jadi satu lagi pengabaian tidak akan membuat perbedaan."

Kata-kata itu menusuk, dingin, dan sangat logis. Sebuah diagnosa akurat. Dunia Anindita memang sudah hancur. Dan Piter, dengan segala kecemerlangannya, adalah penyebabnya.

Piter menarik napas dalam-dalam. Data menunjukkan bahwa reputasi WMC adalah prioritas. Data menunjukkan bahwa stabilitas keluarga Wijaya harus dijaga. Data menunjukkan bahwa bulan madu ini... adalah bagian dari kontrak yang harus dijalankan untuk menjaga semua data itu. Ya, bulan madu. Formalitas yang menyebalkan, tapi esensial untuk citra. Jika dia batal sekarang, bukan hanya pernikahan ini yang dicap gagal, tapi dia juga akan dituduh lari dari tanggung jawab di mata dewan direksi yang sudah siap menerkam. Pak Hartawan pasti akan memutarbalikkan fakta.

"Rendy," suara Piter, meski sedikit serak, tetap kembali ke mode profesional. "Pantau terus situasi. Jangan ada informasi yang bocor ke media di luar kendali kita. Saya akan tetap pergi. Kamu tahu alasannya."

Ada keheningan singkat dari Rendy. "Tapi, Dok... ini sangat serius. Kalau Anda tidak ada di sini, Pak Hartawan bisa—"

"Lakukan apa yang saya perintahkan," potong Piter tajam. "Saya akan tetap memantau dari jarak jauh. Tidak ada yang akan terjadi di WMC yang tidak saya ketahui. Pertahankan benteng."

Piter mematikan panggilan, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku. Logika telah menang. Atau lebih tepatnya, efisiensi jangka panjang telah mengalahkan krisis jangka pendek yang bisa didelegasikan. Ini adalah prioritas. Prioritas untuk reputasi.

Dia melangkah mendekati Anindita. "Kita harus berangkat sekarang. Pesawat pribadi sudah menunggu."

Anindita akhirnya berbalik, matanya merah dan bengkak. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum paling pahit yang pernah Piter lihat. "Tentu saja. Perjalanan bisnis ke surga tropis. Checklist baru Anda, kan?"

Piter tidak menjawab. Dia hanya meraih lengan Anindita, membimbingnya keluar dari suite pengantin yang terasa seperti penjara. Dia merasa lelah. Sangat lelah. Lebih lelah daripada setelah operasi lima belas jam sekalipun. Sebab, kali ini, dia tidak tahu bagaimana cara menjahit kembali hati yang hancur. Bukan miliknya, tapi milik wanita di sampingnya.

*

Pesawat jet pribadi itu meluncur mulus di atas awan. Di luar jendela, langit Jakarta yang mendung perlahan berganti menjadi biruan cerah yang tak berbatas. Anindita menatap pemandangan itu, seulas harapan kecil menyusup ke dalam hatinya yang beku. Mungkin, di tempat yang jauh dari sini, semua ini akan terasa berbeda. Mungkin di sana, Piter akan menjadi Piter yang lain.

Namun, realitas menghantamnya seperti pukulan. Piter Wijaya duduk di seberangnya, laptopnya terbuka lebar, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan. Ada banyak grafik dan angka di layarnya. Wajahnya yang kaku tetap tanpa ekspresi, seolah-olah dia sedang membedah data keuangan alih-alih aneurisma. Dia bahkan tidak melihat ke arah Anindita sejak mereka duduk.

"Apakah Anda perlu sesuatu?" tanya Piter tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. Suaranya datar, hanya formalitas belaka.

Anindita menoleh. "Kupikir... kita sedang dalam perjalanan bulan madu."

Piter akhirnya meliriknya. Hanya sekilas. "Ini adalah penerbangan yang memerlukan waktu tiga jam. Efisiensi mengharuskan saya untuk tetap produktif. Ada laporan bulanan WMC yang harus saya selesaikan sebelum kita mendarat."

Tentu saja. Anindita memalingkan wajah ke jendela lagi. Pesawat ini bukan kapsul romansa. Ini adalah kantor terbang Piter Wijaya. Dia hanyalah bagasi tambahan.

Dia memilih untuk membaca buku sketsa kecilnya, yang untungnya dia bawa. Jemarinya mengelus permukaan bros perak berbentuk kuas yang masih tersemat di kerahnya. Kenangan Piter mengembalikannya dengan nota teknisnya, terasa seperti ejekan sekarang. Efisiensi kerja Anda mungkin terganggu jika alat ini hilang. Harusnya Piter tahu bahwa efisiensi hatinya yang lebih terganggu.

Tiga jam berlalu dalam keheningan yang tebal. Anindita tenggelam dalam dunianya, menggambar pola-pola abstrak di buku sketsanya, mencoba menyalurkan kegelisahan hatinya. Piter sibuk dengan dunianya, tenggelam dalam angka-angka dan data. Mereka berdua, di dalam kotak logam mewah itu, terpisah sejauh galaksi.

Ketika pesawat mendarat mulus di pulau tropis yang eksotis, Anindita merasakan embusan udara hangat yang lembut di wajahnya. Aroma garam laut bercampur dengan wangi bunga kamboja yang manis. Langit biru jernih tanpa awan, dan laut membentang luas dengan gradasi toska yang memukau. Ini dia, surga yang dijanjikan. Dia merasakan sepercik kelegaan.

Lihat selengkapnya